Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
80. Kejujuran Fani


__ADS_3

Fani yang masih berada di posisi yang sama, kini mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya. Meskipun sebenarnya dia sangat nyaman dan tenang saat berada di dalam pelukan pria arogan itu.


"Katakanlah, Fani! Jujurlah kepadaku! Dan jangan ada sedikitpun kebohongan yang kamu sembunyikan dariku." pinta Reyhan yang mencoba untuk membalik posisi mereka.


Setelah Reyhan berhasil mengungkung istrinya, kini tatapan elangnya kembali membidik mangsanya. Pria itu juga memberikan tatapan intimidasi kepada gadis yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Tu-an? Maafkan Saya! Jika tadi telah lancang mengatakan hal yang tidak sepantasnya saya ucapkan." ucap Fani dengan mata terpejam.


CUP!


Reyhan yang masih menginginkan penjelasan dari istrinya, kini langsung memberikan ciuman singkat di bibir ranum milik Fani.


"Aku minta kamu untuk menjelaskan semuanya dengan jujur Fanisa Rahmawati! Dan aku tidak membutuhkan jawaban lain!" tegas Reyhan dengan sorot mata tajam.


Fani yang masih memejamkan matanya, saat ini belum bisa melihat tatapan mata suaminya. Mata elang yang selalu menghipnotis nya, kini dia enggan untuk menatap mata itu.


"Fanisa Rahmawati?"

__ADS_1


GLUK!


Dengan susah payah Fani menelan ludahnya dengan kasar. Gadis muda itu juga seperti kehilangan pasokan oksigen, saat suaminya berada di depannya atau lebih tepatnya sangat dekat dengannya.


"To-tolong lepaskan dulu, Tu-an!" pinta Fani dengan suara terbata.


Akhirnya Reyhan langsung melepaskan Kungkungan itu, dan langsung duduk dengan santai di samping istrinya.


"Cepat katakan dan jelaskan!" titah Reyhan dengan tegas.


Sebelum menceritakan tentang perasaan terpendam itu, Fani terlebih dahulu mengambil pasokan oksigen agar dia tidak kehabisan lagi nanti.


"Baiklah, Tuan. Tetapi maafkan Saya sebelumnya, karena telah lancang mengatakan hal ini kepada Anda." ucap Fani dengan kepala tertunduk.


Reyhan yang membalikkan badannya dengan menghadap ke arah istrinya. Kini masih bergeming dan menunggu cerita, sekaligus penjelasan dari gadis muda itu.


"Perasaan ini tiba-tiba muncul begitu saja, saat pertama kali Saya melihat Anda di rumah ini, Tuan. Perasaan yang tiba-tiba muncul tanpa bisa Saya tepis sedikitpun, karena rasa itu setiap harinya terus menerus semakin berkembang. Sehingga perasaan itu masih tersimpan di dalam hati ini, Tuan." jelas Fani.

__ADS_1


"Dan Saya harap, Anda tidak membenci Saya karena perasaan ini." harap Fani, setelah menjelaskan semuanya kepada Reyhan.


Reyhan yang masih tertegun, kini dengan sigap langsung meraih dagu istrinya dan mengangkatnya agar tatapan mata mereka bertemu.


Pria dewasa itu pun juga menelisik mata sipit istrinya. Dia hanya ingin memastikan jika tidak ada kebohongan lainnya lagi.


"Apakah kamu menyesal karena menyukai pria sepertiku, Fan?" tanya Reyhan.


Saat ini suara pria itu sedikit lembut, dan tidak ada bentakan ataupun ancaman lagi.


"Tidak, Tuan. Maafkan, Saya!" ucap Fani.


Mata sipit itu pun terlihat mengembun, dan semua itu membuat Reyhan semakin merasa bersalah. Karena gadis yang telah menjadi istrinya, ternyata telah lama menyimpan sebuah perasaan untuknya.


Reyhan pun langsung menggelengkan kepalanya. Pria itu juga tidak pernah menyangka, jika gadis yang selama ini sangat dia benci. Ternyata memiliki perasaan yang begitu dalam kepadanya, meskipun sikapnya selalu diluar batas dan terkadang juga menyakiti hati gadis itu.


"Bolehkah aku meminta, agar kamu bisa membantuku membuat hati ini untukmu?" tanya Reyhan dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


__ADS_2