
"Makanlah, Sayang! Biar tenagamu pulih kembali. Awas saja nanti kalau anak nakal itu pulang. Pasti akan langsung aku beri pelajaran." kecam Ameera.
Audrey yang baru saja bangun dari tidurnya di jam sembilan pagi karena merasa perutnya keroncongan. Kini hanya bisa mengulum senyum sambil menikmati makanannya.
Ya, anggap saja pagi ini Audrey yang terlambat. Tetapi semua itu tidak membuat nafsu makannya berkurang. Justru saat ini dia ingin menambah sedikit lagi untuk mengisi perutnya yang masih sedikit berisik.
"Mommy tidak mau ikut makan bersamaku?" tawar Audrey.
Ameera yang juga baru saja bangun dari tidurnya, kini langsung mengurungkan niatnya untuk pergi bersama dengan suami tercinta, saat melihat menantunya yang duduk sendiri di meja makan.
"Tidak, Sayang. Nanti saja kalau Mommy lapar pasti makan lagi. Tetapi untuk sekarang ini Mommy benar-benar masih kenyang setelah makan pagi bersama dengan Daddy dan suamimu." jelas Ameera dengan suara lembut.
Tiba-tiba wanita itu teringat dengan cucu kesayangannya. "Oh, iya. Bagaimana kalau setelah ini kita mengunjungi Ayah dan Ibumu, Sayang. Sekaligus Mommy ingin bertemu dengan cucu kesayangan Mommy." usul Ameera.
Ameera yang awalnya ingin bersenang-senang dengan menggunakan uang suaminya, kini langsung mengurungkan niatnya karena dia tidak bisa menahan rasa rindunya kepada gadis genius itu.
Bahkan jika melihat gadis kecil itu, Ameera selalu ingin berada di sisinya. Dan seandainya saja dia diperbolehkan untuk membawa Audrey ke Eropa bersama dengannya, bisa dipastikan wanita itu tidak akan pernah merasa kesepian.
"Boleh, Mom. Tetapi aku bersiap dulu ya setelah ini dan berpamitan terlebih dahulu kepada suamiku." ucap Audrey dengan seulas senyum.
Ameera yang sangat bersyukur karena mendapatkan menantu seperti Audrey langsung menggeser kursinya agar bisa lebih dekat dengan menantunya.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang. Semoga kamu bisa lebih bersabar untuk menghadapi sikap luar biasa putra Mommy. Dan Mommy juga berharap jika kamu tidak pernah menyesal untuk menerimanya menjadi pendampingmu." ujar Ameera.
Audrey yang sudah menghabiskan makanannya, kini langsung meraih tangan Ibu mertuanya. "Mommy tenang saja. Aku dan Kak Aaron tidak akan pernah terpisahkan oleh apapun." timpal Audrey dengan penuh keyakinan.
Meskipun sebenarnya dia juga tidak seyakin itu tentang hubungannya, tetapi Audrey hanya bisa mempercayai suaminya yang dulu pernah memiliki banyak wanita di sekelilingnya.
'Semoga saja kamu bisa menjaga kepercayaan dan komitmen kita, Kak Aar. Karena aku tidak akan pernah memberikan toleransi apapun di saat kamu memberikan pengkhianatan kepadaku. Dan aku berharap jika kamu tidak akan pernah melakukan semua itu dibelakangku.' batin Audrey yang mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Baiklah. Kalau begitu Mommy juga akan bersiap-siap dulu ya, Sayang? Mommy juga ingin menanyakan kepada Daddy, apakah dia ikut atau tidak. Tetapi Mommy yakin sih, kalau Daddy mu pasti akan ikut dan lebih bersemangat untuk bertemu dengan malaikat kecilnya." ujar Ameera sambil terkekeh.
.
.
Salah satu orang kepercayaan Aaron hanya bisa pasrah dan menundukkan kepalanya saat melihat bagaimana murkanya seorang Aaron Vincent.
"Maafkan saya, Tuan! Kerugian itu baru terdeteksi satu bulan ini dan saat itu saya sedang beralih memegang proyek yang berada di luar kota karena perintah dari Tuan Daren." jelas pria paruh baya itu.
GLEK!
Daren yang namanya ikut terseret, juga hanya bisa pasrah dan menikmati ucapan-ucapan yang akan Aaron lontarkan kepadanya.
__ADS_1
'Sialan! Kenapa aku juga diseret ke dalam masalah ini sih? Padahal aku juga hanya menuruti permintaan Bos Aaron saja. Huft! Apes, apes!' gerutu Daren.
"Benar itu, Dar? Mengapa kamu bisa seceroboh ini? Apakah kamu tau jika kerugian ini mencapai 1M, huh?!" cecar Aaron.
"Lho, bukannya Anda sendiri yang memintanya untuk menugaskan Pak Rendra di luar kota. Lalu mengapa Anda justru menyalahkan Saya?" protes Daren.
Setelah mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan semuanya kepada atasannya. Akhirnya dengan terpaksa pria muda itu langsung menskak beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Aaron.
Aaron pun langsung tertegun dan kembali mengingat kembali tentang perintah yang dia lakukan kepada asisten pribadinya. Namun saat dia kembali mengingatnya, pria itu langsung memijit pelipisnya.
'Nah, kan! SKAK MAT sendiri kan sama pertanyaannya. Makanya jadi Bos jangan semena-mena! Kualat kan sekarang. Dasar, Bos gendeng!' maki Daren dalam hati.
Setelah beberapa saat termenung, Aaron langsung meminta Rendra untuk keluar dari ruangannya. "****! Mengapa aku bisa seceroboh ini sih? Sialan! Awas kamu, tua bangkaa!" umpat Aaron.
Melihat wajah Bosnya yang ditekuk-tekuk, kini justru membuat seorang Daren menahan tawa. Biasanya pria itu tidak ingin di salahkan meskipun itu murni kesalahannya sendiri.
Tetapi setelah pria itu menikah, perlahan sikap dan tindakannya sedikit berubah. Bahkan pria itu juga sedikit kalem dan lebih jarang marah-marah.
"Dar, bantu aku untuk mencari tau bangkaa itu! Hidup atau mati, bawa dia kemari! Biar nanti aku sendiri yang akan memberikan pelajaran berharga kepadanya jika dia masih hidup, tetapi jika dia sudah mati maka aku akan membakarnya." celetuk Aaron dengan penuh penekanan.
Aaron yang sudah sangat muak dengan tingkah laku rekan kerjanya yang selalu saja membuat masalah dengannya. Kini rasa sabarnya kepada orang itu sudah terkikis habis, sehingga dia ingin membuatnya jera.
__ADS_1
"Awas saja kamu, Restu Mahesa! Akan aku pastikan Mahesa group akan menjadi milikmu dan kamu akan melihat bagaimana cara ku untuk menjalankannya." kecam Aaron dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal kuat.