Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
26. Siasat


__ADS_3

Di lain pihak, Aaron yang sedang menjadi perbincangan panas keluarga Wijaya. Saat ini dia masih bisa tersenyum dan membayangkan kedua wanitanya.


Bahkan sejak pertemuan keduanya dengan putri satu-satunya keluarga Wijaya, dia seperti orang gilaa yang sedang dimabuk asmara.


"Ah, mengapa aku tidak bisa melupakan bibir manisnya? Seandainya saja aku melakukannya dengan kesadaran penuh, maka aku akan merasakan bibir manis itu dan sangat menikmatinya." gumam Aaron sambil mengembangkan senyumnya.


Tepat di saat itu juga asisten pribadinya datang, untuk mengatakan bahwa dia harus menghadiri rapat dengan para koleganya.


"Maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud lancang untuk masuk ke dalam ruangan Anda. Hanya saja sejak tadi saya sudah beberapa kali mengetuk pintu, Anda....."


Belum selesai Tirta menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Aaron langsung mengibaskan tangannya, sehingga membuat bibir Tirta terkatup rapat.

__ADS_1


"Karena suasana hatiku saat ini sedang berbunga, maka kali ini kamu terbebas sanksi dariku. Katakan saja, apa tujuan mu?" ujar Aaron dengan seulas senyum.


Tirta yang mendengar ucapan Bos arogannya, akhirnya bisa bernapas lega. Di dalam hatinya, dia pun merasa bersyukur karena Bosnya seperti sedang merasakan sebuah kebahagiaan, yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


'Syukurlah! Kali ini kamu selamat, Tir! Karena Dewi keberuntungan sedang berpihak kepadamu.' batin Tirta.


"Jadi begini Pak Aaron. Saat ini Saya akan menyampaikan jika jam 3 nanti akan ada rapat direksi dengan Andara Group. Dan besok pagi, Wijaya Group juga mengundang kita untuk melanjutkan rapat yang sempat tertunda sebelumnya di Cafe RAF'W." jelas Tirta.


Aaron yang mendengar undangan dari Wijaya Group, kini langsung mengembangkan senyumnya. Ibarat kata Pucuk dicinta, Ulam pun tiba.


Akhirnya setelah selesai mengatakan tujuannya, Tirta pun langsung pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Dan Aaron pun mempersilahkan asisten pribadinya dengan seulas senyum.

__ADS_1


***


"Bagaimana, Fai? Apakah si brengseek itu langsung menyetujuinya? Karena aku sangat yakin, dia pasti menantikan hari esok. Apalagi nanti saat dia mengetahui, jika Audrey dan Cimmy ikut dengan kita." cetus Reyhan dengan seringai liciknya.


Ya, memang semua ini hanyalah siasat dan sekaligus jebakan untuk Aaron. Dan Reyhan merasa sedikit puas, karena jebakannya tepat mengenai sasaran utama.


"Kak Rey tenang saja. Si brengseek itu sudah menyetujui undangan rapat yang tertunda. Sehingga kita hanya tinggal mematangkan rencana selanjutnya." jelas Faishal.


"Bagus. Sudah kuduga. Pasti dia sangat berantusias untuk melanjutkan kerjasama ini. Apalagi dia juga sudah mengetahui, jika adik kesayangan kita sudah kembali bersama dengan putri mereka. Ya, meskipun sebenarnya aku sangat enggan untuk menyebut Kimberly sebagai putri mereka, tetapi semua itu adalah fakta bahwa gadis manis itu adalah darah daging pria brengseek itu." cetus Reyhan dengan perasaan yang bergemuruh.


Reyhan yang saat ini sedang menyimpan dendam kepada Aaron. Kini dia semakin berniat untuk melancarkan aksi balas dendam untuk adik perempuannya.

__ADS_1


Audrey yang sudah menjadi separuh hidupnya, kini dia pun sudah bertekad untuk memberikan keadilan kepada adik dan keponakannya. Bahkan dia juga rela jika harus kehilangan sosok wanita itu, hanya demi kebahagiaan keponakan kesayangannya.


'Mungkin sudah saatnya aku melepaskannya, dan membiarkan dia menentukan masa depannya. Meskipun semua itu akan terasa sangat berat untukku.' batin Reyhan.


__ADS_2