Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
12. Masa Lalu


__ADS_3

Setelah berhasil meruntuhkan pertahanan seorang Riki Arya Wijaya. Akhirnya ketiga wanita beda usia itu langsung tersenyum penuh kemenangan, dan pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang sangat puas.


"Ibu kenapa terlihat sangat bahagia sekali?" tanya Audrey yang tidak pernah melepaskan pandangan kepada sang Ibu.


"Hahaha.. Ibu sangat merasa puas, Sayang. Karena Ayah kamu sekarang memiliki kelemahan baru." cetus Rosa sambil tertawa.


Audrey yang belum memahami apa yang dimaksud oleh sang Ibu, kini hanya menautkan kedua alisnya sambil menatap lekat wajah sang Ibu tercinta.


"Maksud Ibu?" tanya Audrey dengan rasa penasan yang tinggi.


Kemudian tawa Rosa pun akhirnya pecah. Dia tidak menyangka, jika wanita yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata seperti putrinya, kini belum mengerti tentang situasi yang sedang dia hadapi.


"Mengapa sekarang kamu lamban sekali dalam menangkap segala hal, Sayang? Apa kamu tidak melihat? Bagaimana Ayah kamu dengan mudahnya memberikan izin tak bersyarat, saat Cimmy menanyakan perihal tentang acara kita?" ujar Rosa sambil mengangkat kedua bahunya.


Dengan cepat Audrey langsung memahami apa maksud dari ucapan Ibunya. Senyum manisnya pun ikut merekah dan akhirnya tawa mereka pun kembali pecah.


Tak terasa akhirnya mereka pun sampai di lokasi yang menjadi tempat tujuan mereka. Sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota tersebut.


Cimmy yang sangat antusias untuk pergi, kini dia pun berlarian kesana kemari sambil tertawa bahagia.


"Cimmy? Jangan berlari, Honey! Nanti kamu jat-uh...."


"BRUGH! AWH!"


Baru saja Audrey memperingi gadis kecilnya, tetapi tiba-tiba saja dia menabrak seorang laki-laki bertubuh jangkung, yang sedang menggandeng tangan seorang wanita.


"CIMMY?" pekik Audrey.


Kemudian Audrey langsung berlari untuk menghampiri putrinya dan menggendongnya.


"Honey, are you okay?" tanya Audrey dengan raut wajah yang khawatir.


Kimberly hanya menganggukkan kepalanya sambil menampilkan deretan gigi putihnya.


"Maaf, Bu. Saya tid-ak...... A-audrey?"


Seketika tubuh Audrey pun membeku di tempat, kedua matanya pun membola sempurna saat melihat kedua orang yang sangat dia kenal sebelum meninggalkan kota ini.


"Ra-rafa? Reva?" panggil Audrey dengan suara terbata.

__ADS_1


Tiba-tiba suaranya seperti tercekat di tenggorokan, saat dia melihat dua orang yang pernah dekat dengannya. Rafa yang pernah mengisi hatinya, sedangkan Reva adalah sahabat terbaik untuknya.


Namun, apa yang dia lihat saat ini? Mereka bergandengan tangan seperti sepasang kekasih. Apa jangan-jangan mereka?


"Mama? Papa?"


Dari arah belakang, Audrey mendengar suara gadis kecil. Saat dia memutar tubuhnya, dia melihat dengan jelas sosok gadis kecil, yang berusia sekitar 4 tahunan datang menghampiri Rafa dan Reva.


'Apa tadi gadis kecil itu tadi memanggil mereka dengan sebutan Mama dan Papa? Apa jangan-jangan mereka adalah -'


Saat ini pikiran dan hati Audrey berkecamuk. Entah perasaan bahagia atau sebaliknya, saat dia melihat mantan kekasihnya bersama dengan sahabat lamanya.


Dengan mengayunkan kakinya yang terasa sangat berat, akhirnya perlahan langkahnya mulai menjauhi kedua orang itu. Pandangannya pun saat ini kosong dan hampa, kakinya hanya melangkah ke sembarang arah dengan membawa tubuh kecil dalam gendongannya.


"Mommy?" panggil Kimberly.


Seketika lamunannya buyar dan dia pun kembali tersadar. Dari kejauhan terlihat Rosa yang terseok-seok saat menyusul kedua orang kesayangannya.


"Audrey? Cimmy?" panggil Rosa dengan nafas yang sedikit tidak beraturan.


"Ibu."


"Oma."


Kemudian Audrey dan Kimberly langsung mencari tempat duduk di sekitar tempat itu, dan menuntun wanita paruh baya itu agar bisa beristirahat terlebih dahulu.


"Ibu, maafkan aku! Karena sudah meninggalkan Ibu tadi." sesal Audrey yang kini menatap sendu ke arah Rosa.


Rosa yang melihat sorot kekhawatiran dari iris mata putrinya, kini memaksakan senyuman di kedua sudut bibirnya.


"Hey, Ibu tidak apa-apa, Honey. Kamu jangan khawatir. Ibu hanya sedikit merasa lelah saja." jelas Rosa yang meyakinkan sang putri, bahwa dia saat ini baik-baik saja.


"Ibu yakin? Apa perlu kita pul-"


Belum selesai Audrey berbicara, tiba-tiba dua orang yang tanpa sengaja bertemu dengannya beberapa menit yang lalu. Kini mereka berjalan dan semakin mendekat ke arahnya, sambil menggandeng seorang gadis kecil itu.


Rosa pun langsung mengikuti arah pandangan putrinya, dan saat dia melihat kedua orang itu. Dia hanya tersenyum smirk, sambil mengepalkan satu tangannya.


"Masih punya muka juga mereka datang kemari? Apa mereka pikir aku melupakan semua kejadian itu?" geram Rosa yang semakin mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Tanpa di duga, tiba-tiba Rosa bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri kedua orang tersebut.


PLAAAKK!


Tamparan keras pun mendarat di pipi Reva, dan meninggalkan jejak merah di sana.


"Untuk apa kalian menampakkan wajah kalian di hadapan kami? Apa kamu ingin pamer kebahagiaan atas kehancuran seseorang? Huh?" cecar Rosa dengan nafas yang memburu.


"Tante!" pekik Rafa sambil membalas tatapan tajam kepada Rosa.


Audrey pun akhirnya menyusul Rosa dan mulai menenangkannya. Entah apa yang terjadi setelah kepergiannya? Sehingga membuat sang Ibu semurka itu kepada kedua orang yang pernah sangat dekat dengannya.


"Sudah, Bu. Lebih baik kita pulang sekarang. Audrey tidak ingin Ibu kenapa-napa. Yuk!" pinta Audrey sambil menggandeng tangan Rosa.


Rosa pun bergeming dan masih beranjak sedikitpun dari tempat itu. Tatapan tajam disertai dengan amarahnya yang berkobar, membuat Audrey semakin kebingungan.


"Ibu? Ayo!"


Percuma. Panggilan dan ajakan putrinya sama sekali tidak ia indahkan sedikitpun. Saat ini tangannya justru kembali terkepal kuat dan hendak dia layangkan kembali.


Namun, dengan cepat Audrey langsung menyadarinya sebelum tangan sang Ibu kembali mencetak satu tanda merah di pipi Reva.


"Tante, tolong maafkan, Reva!" pinta Reva yang tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapan Rosa.


"CIH! Aku tidak akan pernah Sudi memberikan maaf ku untuk pengkhianat seperti mu, jalaang!" hardik Rosa sambil berdecih.


Rafa yang melihat Reva bersimpuh di depan Rosa, dengan cepat langsung menarik kedua bahu wanita itu, yang mungkin berstatus sebagai istrinya.


"CUKUP, TANTE! Rafa mohon, ini hanyalah kesalahpahaman saja. Biarkan kami menjelaskan semuanya kepada kalian." pinta Rafa sambil menatap penuh harap kepada Rosa.


Audrey pun terperangah dengan ucapan Raga yang sempat meninggikan suaranya, saat berbicara dengan Ibunya.


"Ada apa sebenarnya? Mengapa seperti terjadi sesuatu hal yang sangat besar? Apa terjadi sesuatu, saat aku pergi?" tanya Audrey dengan tatapan mata penuh selidik.


Rafa dan Reva pun gelagapan, saat Audrey membuka suaranya. Saat ini wajah keduanya langsung berubah menjadi pucat pasi.


"Drey...."


"Sudah, CUKUP! Lebih baik kita pulang sekarang, Sayang. Ibu sudah lelah, dan ingin segera beristirahat. Di sini terasa sangat gerah dan panas sekali, karena ada penghuni neraka yang melarikan diri dari tempatnya." sindir Rosa sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


Karena tidak ingin memperumit keadaan, akhirnya Audrey pun menyetujui permintaan sang Ibu. Dia tidak ingin melihatnya jatuh sakit kembali, hanya karena rasa penasaran saja.


'Aku harus segera mencari tau apa yang sebenarnya terjadi!'


__ADS_2