Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
22. Sabar dan Penyayang


__ADS_3

Setelah berhasil meyakinkan Rosa. Akhirnya Aaron memilih untuk pergi terlebih dahulu, setelah melakukan basa-basi kepada calon mertuanya.


"Baiklah. Mungkin untuk perkenalan hari ini dengan calon mertua ku sudah cukup. Dan aku akan segera menaklukkan hati mereka satu persatu, meskipun sebenarnya semua itu sangat sulit untuk aku lakukan." gumam Aaron saat tiba di dalam mobilnya.


Setelah rasa rindunya sedikit terobati dengan menemui malaikat kecilnya, kini perlahan Aaron mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Perasaan Aaron saat ini semakin kacau, karena keinginannya untuk mendapatkan kedua wanitanya sangat besar. Bahkan dia sudah bertekad untuk menemui Audrey secara terang-terangan di rumahnya.


"Baiklah, Sayang. Tunggu kedatangan ku! Aku pasti akan memberikan kejutan yang tidak pernah terpikirkan olehmu." gumam Aaron dengan seringai liciknya.


Aaron yang pernah menjadi mantan Casanova, kini mulai memakai akalnya kembali untuk menjerat mangsanya. Ya, meskipun wanitanya saat ini sangat sulit untuk didekati, tetapi Aaron akan selalu berusaha untuk meluluhkan kerasnya hati pujaan hatinya.


***


"Mommy?" panggil Kimberly saat memasuki rumah itu.

__ADS_1


Audrey yang saat ini sedang menunggu kepulangan ketiga wanita beda usia itu, kini langsung menyambut hangat pelukan putri kesayangannya.


"Hay, Baby? Bagaimana dengan harimu saat bermain di taman kota? Apakah kamu sudah merasa puas, sehingga mengajak Oma dan Kak Fani pulang? Atau kamu......"


Saat ini Audrey mencecar berbagai pertanyaan kepada putrinya. Dan semua pertanyaan darinya kini membuat Kimberly berdecak kesal.


"Ckk! Mommy? Apakah Mommy mencurigai Cimmy? Apakah Cimmy terlihat sangat nakal untuk Mommy?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari Audrey, kini gadis kecil itu justru membalikkan pertanyaan Ibunya. Audrey yang sudah sangat mengenal bagaimana perangai putrinya, kini merasa gemas dengan Kimberly.


Meskipun Audrey sering memberikan nasihat kepada putrinya. Akan tetapi putrinya selalu saja melanggar perjanjian yang selalu mereka sepakati.


Namun, Audrey tidak pernah merasa lelah untuk terus memberikan nasihat-nasihat kepada putri semata wayangnya. Wanita itu yakin, jika suatu saat nanti putrinya akan memahami apa yang dia katakan.


"I'm sorry, Mommy! Cimmy tidak akan melakukannya lagi. Maafkan, Cimmy!" ucap Kimberly sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Inilah yang selalu menjadi kelemahan Audrey. Setiap kali Kimberly menampakkan raut wajah sendu, wanita itu selalu memilih untuk mengalah dan segera mengalihkan pembicaraan mereka.


"No problem, Honey! Lain kali, tolong hargai pertanyaan dari orang lain ya, Sayang? Mommy percaya, jika Cimmy akan menjadi gadis yang baik dan bisa menghargai orang lain." ujar Audrey dengan penuh kasih sayang.


Rosa dan Fani yang melihat adegan dramatis itu, kini hanya menampilkan senyuman dan merasa sangat kagum dengan cara pola asuh seorang Audrey.


Bagaimana tidak? Audrey yang terkenal manja dan semaunya sendiri. Saat ini telah menjelma sebagai seorang Ibu yang sangat sabar dan telaten dalam mengasuh putri semata wayangnya.


"Fan, bagaimana pendapatmu tentang putriku?" tanya Rosa, yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada Fani yang sedang memperhatikan tingkah Ibu dan anak itu.


"Oh.. Em, maaf, Nyonya. Menurut saya, Nyonya Audrey adalah sosok seorang Ibu yang sangat sabar dan penyayang. Em, maaf! Bahkan dia berhasil mendidik putrinya dengan sangat baik, meskipun hanya seorang diri." puji Fani dengan seulas senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.


Rosa pun mengangguki ucapan Fani. Wanita paruh baya itu juga merasa sangat setuju dengan pendapat dan pujian yang dilontarkan oleh pembantunya.


"Ya, kamu memang benar, Fan. Aku sendiri juga sangat kagum dengan perubahan drastis dari putriku sendiri. Setelah tujuh tahun menghilang, dia pun kembali dengan menjadi sosok wanita dewasa. Dan dia bukan lagi Audrey, si gadis manja kami." cetus Rosa sambil tersenyum kepada Fani.

__ADS_1


Namun, kehadiran seseorang kini justru merusak kehangatan itu. Dan dengan penuh percaya diri seseorang itu langsung membuat orang yang berada di sana saling berdecak, kecuali Fani.


__ADS_2