
Tak terasa waktu pun berjalan begitu cepat. Saat ini usia kandungan Audrey sudah menginjak bulan ke tujuh. Dan tepat saat ini wanita hamil itu sedang mengidam sesuatu yang membuat sang suami pusing tujuh keliling.
"Dad, bisa kan mencarikan aku buah itu? Tapi harus langsung dari pohonnya. Dan Daddy sendiri yang harus memetiknya." rengek Audrey sambil mengerjapkan matanya.
Aaron yang seringkali mendapatkan permintaan aneh-aneh dari sang istri, kini hanya bisa tersenyum sambil mengusap lembut surai rambut istrinya.
"Tentu saja, Sayang. Tapi kita harus pergi dulu ke sana dan ini juga membutuhkan waktu yang sedikit lama. Apa kamu mau menunggu?" ujar Aaron dengan suara lembut.
Wanita hamil itu dengan penuh semangat menganggukkan kepalanya. "Tentu saja aku mau, Kak. Tapi sayangnya aku tidak diizinkan untuk ikut lagi dan menyaksikan sendiri Kak Aaron memetiknya." sahut Audrey dengan senyuman yang semakin meredup.
"Eh, kok sedih gitu sih. Tenang saja, aku pasti akan segera kembali. Tersenyumlah, Sayang. Kasian jagoan kita di sana pasti juga ikut sedih nanti." ucap Aaron.
Seketika senyuman tipis pun kembali hadir menghiasi pipi chubby wanita hamil itu. Karena dia juga sadar jika saat ini dia tidak diperbolehkan untuk naik pesawat ataupun bepergian jauh.
"Kalau begitu aku berangkat ya? Jaga dirimu baik-baik dan juga dua jagoan kita tentunya." pamit Aaron. Audrey pun langsung menganggukinya sambil menatap sendu ke arah suami tercinta.
Wonosobo
Di sinilah Aaron berada saat ini. Di daerah Dieng, Wonosobo dimana tempat buah Carica itu berasal. Setelah melewati beberapa jam perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta hingga di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.
Kini Aaron masih harus menempuh perjalanan beberapa jam lagi untuk tiba di daerah pegunungan itu. Tempat yang teduh disertai dengan pepohonan hijau disekelilingnya.
"Assalamu'alaikum? Permisi?" ucap Aaron saat tiba di sebuah pemukiman warga lokal daerah Dieng.
"Wa'alaikumsalam. Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sahut seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tegap.
"Mohon maaf sebelumnya jika Saya mengganggu waktu Bapak. Perkenalkan nama saya Aaron dari Jakarta. Langsung saja Pak. Saya kesini ingin membeli beberapa buah Carica dan beberapa makanan olahannya untuk istri saya yang sedang hamil. Apakah Bapak bisa membantu Saya untuk memetik buah tersebut?" jelas Aaron dengan sopan.
"Oh, Pak Aaron. Kalau begitu perkenalkan juga nama Saya Aryo. Tentu saja. Mari ikut Saya. Kebetulan di belakang rumah saya juga ada beberapa pohon yang sudah berbuah dan matang." ucap Pak Aryo.
__ADS_1
"Baiklah, Pak Aryo. Terimakasih sebelumnya. Maaf sudah merepotkan." sahut Aaron dengan seulas senyum.
"Tidak apa-apa, Pak. Kalau untuk wanita hamil memang harus segera dicarikan agar bayinya tidak ileran." timpal Pak Aryo sambil terkekeh.
Setelah mendapatkan buah dan beberapa makanan olahannya, akhirnya Aaron langsung berpamitan kepada Pak Aryo. Karena pria itu tidak ingin membuat istrinya menunggu terlalu lama. Namun, baru hendak melangkahkan kakinya keluar dari rumah sederhana Pak Aryo, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Assalamu'alaikum? Iya, Mom."
"..........."
"APA?! Baiklah. Aku segera pulang." sahut Aaron disertai dengan kekhawatiran.
"............"
Tut... Tut... Tut...
Panggilan suara pun akhirnya terputus dan Aaron langsung berpamitan serta meminta do'a untuk keselamatan istrinya. "Pak, Terimakasih karena sudah berkenan membantu Saya dan Saya mohon do'anya, Pak. Semoga istri dan anak-anak Saya baik-baik saja." ucap Aaron disertai dengan tatapan sendu.
Aaron langsung mencium punggung tangan Pak Aryo sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu. Setelah memasuki mobil Aaron langsung memberikan perintah kepada Pak Marvin untuk menambah kecepatan mobilnya.
RUMAH SAKIT KASIH BUNDA
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam kembali untuk sampai disebuah rumah swasta di Jakarta. Aaron langsung berlari menuju ke sebuah ruangan yang terdapat sosok yang sangat dia cintai masih terbaring lemah.
"Aar, segera tandatangani surat ini agar kedua jagoanmu dan Ibunya selamat. Cepat lakukan, Boy!" titah Reza dengan tatapan sendu.
Hati mana yang tidak sakit melihat orang yang disayangi terbaring lemah dengan mata yang terpejam. Bahkan saat ini beberapa alat medis juga membantu wanita hamil itu untuk bertahan.
Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya Aaron langsung membubuhkan tandatangannya di selembar kertas itu. Kemudian pria itu segera memberikan kembali kepada sang Ayah untuk diberikan kepada perawat yang sudah menunggu.
__ADS_1
"Biarkan Saya menemani istri Saya melakukan operasi ini, Dok. Saya mohon!" pinta Aaron disertai dengan buliran bening yang menetes.
Sakit dan pedih rasanya saat merasakan sayatan di dalam hatinya saat ini. Baru beberapa jam yang lalu dia melihat tingkah manja dan senyuman di bibir istrinya. Tetapi apa? Baru beberapa jam dia meninggalkan istri tercintanya, kini saat dia kembali langsung mendapatinya di sebuah ruangan yang sangat dingin dengan wajah yang memucat.
Ruang Operasi
"Kamu bisa, Sayang. Kamu wanita kuat. Kamu harus segera bangun untuk melihat jagoan kita. I Love You, My heart." ucap Aaron sambil menggenggam tangan istrinya yang tidak terpasang infus.
Melihat istrinya yang lemah tak berdaya seakan membuat semangat hidupnya menjadi redup. Bagaimana tidak? Wanita yang bernama Audrey Camilla Wijaya adalah cahaya dan penerang di dalam hidupnya.
Tentu kalian bisa membayangkan bukan? Bagaimana gelapnya jika cahaya itu tiba-tiba menghilang dari tempatnya?
Begitulah yang dirasakan oleh seorang Aaron Vincent Rich. Sakit, hancur dan gelap. "Bertahanlah, Sayang! Aku mohon kamu harus bangun!" pinta Aaron lirih.
Do'a-do'a selalu dia lantunan di samping telinga istrinya, agar ada keajaiban dan kuasa ALLAH sebagai penolong hambanya yang tengah mengalami kesusahan.
Oek... Oek... Oek...
"Alhamdulillah. Bayinya laki-laki dan sehat, Pak Aaron. Tetapi dia harus masuk inkubator terlebih dahulu agar berat badannya stabil." ucap Dokter Lita.
Aaron hanya mengangguk pasrah sambil tersenyum tipis. Meskipun dia sangat bahagia melihat putranya lahir ke dunia dengan keadaan sehat, tetapi dia juga merasakan sakit yang amat sangat menyayat hati.
Oek... Oek... Oek...
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya putra kedua mereka lahir kembali. Sekali lagi Aaron mengucap syukur kepada Allah karena telah menghadirkan dua putra diantara mereka.
BIP... BIP... BIP...
Tiba-tiba alat di ruang operasi itu berbunyi dan saling bersahutan. Beberapa perawat langsung bergerak cepat untuk menstabilkan kembali keadaan sang pasien.
__ADS_1
"Keadaan pasien melemah, Dok." ucap salah satu perawat.
"Tidak, Sayang! Bertahanlah! Kamu pasti kuat! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" pinta Aaron disertai dengan raungan yang menyayat hati.