
Setelah makan malam bersama yang banyak melewati drama. Akhirnya dua pasang pengantin baru itu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Namun, baru saja mereka hendak berpamitan. Tiba-tiba muncul seseorang dengan raut wajah kusutnya. "Setelah bersenang-senang, kalian langsung melupakanku begitu saja ya? Bangus, bagus." sindir seseorang itu.
"Kenapa Kak Fai baru pulang?" tanya Audrey yang merasa keheranan.
Pantas saja sejak tadi dia merasa ada yang kurang dan merasa sangat sepi. Ternyata benar jika Kakak keduanya tidak ada di sana.
"Jadi kamu juga tidak menyadari jika aku tidak ada di sini, Honey?" protes Faishal.
Ya, pria yang baru datang adalah Faishal Rakai Wijaya. Sosok pria humble yang selalu menjadi kaki tangan kanan Kakak sulungnya.
"Maaf, Kak! Bukannya aku tidak menyadarinya, tetapi -"
"Sudahlah. Aku memang tidak dianggap di keluarga ini." potong Faishal.
Pria itu pun langsung mengayunkan kaki jenjangnya dan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
BRAK!
Faishal yang sudah merasa lelah sekaligus dibuat kesal oleh keluarganya sendiri. Kini memilih untuk menghindari perkumpulan itu.
"Drama apa lagi ini?" cetus Aaron sambil menghela napas berat.
Reyhan yang mendengar samar-samar ucapan adik iparnya, kini langsung mendelik dan menghampirinya. "Apa maksudmu drama lagi, Aar? Apakah tadi kamu juga menganggap aku berdrama, huh?!" protes Reyhan dengan sorot mata tajam.
GLEK!
'Nah, kan! Sepertinya keluarga istriku adalah keturunan cenayang yang juga memiliki pendengaran tajam.' batin Aaron.
"Ti-tidak, Kak. Siapa yang mengatakan jika Kak Rey berdrama. Aku tidak pernah mengatakannya." elak Aaron yang mencoba membela dirinya.
"Jangan mengelak, Aar! Dari kata lagi, bisa disimpulkan jika kamu menganggap kami tadi juga berdrama 'kan?" cecar Reyhan.
Riki dan Rosa yang melihat perdebatan yang tak kunjung usai, kini langsung memijit pelipis mereka yang terasa berdenyut.
"Bisakah kalian aku sehari saja tanpa berdebat?" pinta Rosa.
__ADS_1
Akhirnya Aaron lebih memilih untuk mengalah. Karena prinsipnya Yang waras harus mengalah dan itu sudah dia terapkan sejak dulu.
"Yasudah kalau begitu, kami pamit pulang ya Bu, Yah? Daripada nanti perdebatan ini tidak berujung. Jadi kami memilih untuk menghindarinya saja." ujar Aaron sambil melirik ke arah kakak iparnya.
Fani yang melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya, kini hanya bisa mengusap lembut lengannya agar emosi itu bisa mereda.
"Sudah, Kak. Yuk, kita juga pulang!" pinta Fani dengan suara lembut.
Reyhan yang saat ini juga sudah memiliki pawang sendiri. Mau tidak mau juga harus menuruti permintaan dari ratunya.
"Baiklah, Sayang. Yuk! Kita juga harus menjaga kewarasan kita 'kan? Jangan sampai kita terkontaminasi dengan pria arogan itu!" sindir Reyhan sambil mencebikkan bibirnya.
'Hah?! Pria arogan? Bukankah kalian berdua memang sama-sama arogannya? Kenapa kalian justru saling sindir menyindir sih?' gerutu Riki dalam hati.
Makan malam yang diimpikan oleh Riki dan Rosa agar semakin membuat hubungan mereka semakin membaik. Kini justru berbanding terbalik dan semuanya menjadi kacau.
Sedangkan Kimberly yang masih asyik dengan siaran TV, kini hanya bersikap tak acuh kepada perdebatan orang-orang dewasa itu.
"Dasar orang dewasa yang rumit! Mengapa mereka harus berdebat terus sih? Apa mereka tidak ingin menikmati indahnya hidup ini?" gerutu Kimberly.
Meskipun pandangannya menjurus ke arah TV. Tetapi gadis kecil itu sesekali juga menyimak ke arah orang-orang dewasa yang berada tidak jauh darinya.
Kimberly pun patuh dengan ucapan wanita paruh baya yang menemaninya saat ini. "Baik, Bi." sahut Kimberly dengan seulas senyum.
Wanita beda usia itu saat ini duduk berdampingan, karena Kimberly tidak mau jika orang yang lebih tua darinya duduk dilantai sedangkan dia duduk di sofa.
Tap...
Tap...
Tap...
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah Kimberly dan pelayan paruh baya itu.
"Cimmy, kita pulang yuk!" titah Audrey sambil mengulurkan tangannya.
Sejenak gadis itu terdiam dengan pikirannya sendiri. "Bolehkah jika aku menginap malam ini di sini, Mom?" pinta Kimberly dengan penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, Baby. Tetapi Mommy dan Daddy harus pulang dulu ya? Boleh 'kan?" ujar Aaron yang tiba-tiba muncul di belakang istrinya.
"Yeay! Yes, Dad. Kalian pulang saja. Karena aku mau tidur bersama dengan Oma dan Opa." ucap Kimberly dengan antusias.
Melihat pancaran kebahagiaan dari sorot mata putrinya. Akhirnya Audrey juga menyetujuinya karena dia tidak ingin membuat gadisnya kecewa.
"Baiklah. Tetapi Cimmy harus berjanji! Jika tidak ada Mommy, Cimmy tidak boleh merepotkan Oma dan Opa, Okey?" tawar Audrey.
Kimberly pun langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. Bahkan gadis kecil itu juga langsung berhambur ke dalam pelukan hangat kedua orangtuanya.
"Thanks Mom, Dad. I love you so much?" ucap Kimberly dengan antusias.
"We love you more, Baby." sahut keduanya secara bersamaan.
Melihat kebahagiaan dari keluarga kecil putrinya, Riki bisa bernapas lega. Karena keputusannya untuk menikahkan mereka tidak salah.
'Semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan yang tidak akan pernah usai. (Aamiin)" batin Riki.
Reyhan dan Fani sudah lebih dulu berpamitan kepada orangtuanya dengan alasan menghindari perdebatan dengan menantu kesayangan mereka.
Tak berselang lama, Audrey dan Aaron pun ikut berpamitan dan menitipkan putri mereka kepada sepasang suami-isteri paruh baya itu.
"Aku titip Cimmy ya, Ayah, Ibu! Semoga saja Cimmy tidak membuat kalian pusing malam ini." pinta Audrey yang sedikit merasa sungkan.
"Tentu saja, Sayang. Dengan senang hati kami akan memberikan segalanya untuk cucu kesayangan kami. Dan kami juga berharap jika ada kabar baik secepatnya agar Cimmy tidak kesepian." bisik Rosa kepada sepasang pengantin baru itu.
Seketika wajah Audrey pun langsung memerah karena rasa malu yang mulai mendera. Namun semua itu tidak untuk Aaron yang langsung mengembangkan senyuman dan sebuah anggukan kepala.
"Tentu saja, Bu. Kami akan segera mencetak sebanyak-banyaknya agar kalian tidak merasa kesepian." cetus Aaron tanpa rasa malu.
Audrey pun semakin dibuat salah tingkah karena ucapan asal suaminya. 'Apakah dia pikir membuat donat kentang yang bisa dicetak sebanyak-banyaknya? Dasar pria aneh!' gerutu Audrey dalam hati.
Rosa dan Riki pun langsung terkekeh saat mendengar ucapan menantu mereka. "Hahaha... Baiklah. Kami akan menunggu kabar baik itu secepatnya." sahut Riki.
Setelah usai melempar candaan, Audrey dan Aaron pun langsung berpamitan dan bergegas untuk pulang ke mansion.
Di sepanjang perjalanan, Audrey memilih untuk bungkam dan menatap lurus ke depan. Namun tanpa dia sadari, satu tangan suaminya dengan lembut memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah mengerti tentang permintaan dari kedua orangtuamu, Sayang?" tanya Aaron sambil mengulum senyum.