
Setelah melalui beberapa drama, sepasang pengantin baru itu pun akhirnya memutuskan untuk tidur bersama di satu ranjang.
Meskipun saat ini Reyhan belum bisa membuka hatinya untuk Fani, tetapi istrinya bersedia untuk menunggunya hingga perasaan itu muncul dengan sendirinya.
Malam semakin larut, kini hanya kesunyian malam yang menjadi saksi bisu sepasang pengantin baru. Gemerlap bintang dan semburat cahaya bulan, kini sebagai penghias kehampaan diantara mereka.
.
.
Keesokan harinya, tepat pukul setengah lima pagi. Fani yang selalu bangun lebih awal, kini mengurungkan niat untuk melepaskan pelukan hangat suaminya.
"Bagaimana ini? Jika aku tidak bangun awal, pasti waktu Subuh akan segera berlalu. Tetapi jika aku bangun sekarang, pasti Tuan Rey akan terusik karena gerakan ku." gumam Fani lirih.
Setelah memutuskan untuk bangun awal, akhirnya dengan perlahan dan hati-hati gadis itu melepaskan pelukan suaminya agar pria itu tidak terusik dengan pergerakannya.
__ADS_1
Engh!
Suara lenguhan Reyhan sedikit membuat Fani terkejut. Dan baru beberapa langkah dia mengayunkan kakinya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh cekalan tangan kekar dari belakang.
"Mau kemana, Fan? Bukankah ini masih malam? Kenapa kamu bangun sepagi ini?" tanya Reyhan dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Dengan gugup Fani langsung menjawab pertanyaan dari suaminya, karena gadis itu tidak ingin membuat suaminya marah lagi kepadanya.
"Maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud untuk mengusik tidur Anda. Hanya saja Saya ingin bangun lebih awal untuk melaksanakan Sholat Subuh." jelas Fani.
Ada rasa malu saat mendengar istrinya akan menunaikan kewajibannya, tetapi dia juga sangat malu jika harus mengakui kalau dia sudah lama sekali meninggalkan kewajiban itu.
"Em.. Maaf, Tuan! Apakah Tuan bersedia untuk menjadi imam Saya? Em, maksud Saya jika Anda berkenan, dan saya juga tidak memaksa jika Anda tidak mau." pinta Fani dengan penuh harap.
Reyhan yang masih memikirkan cara untuk menolaknya, kini masih enggan untuk melepaskan lengan istrinya.
__ADS_1
"Baiklah. Diamnya Tuan Rey, berarti tandanya Anda menolak permintaan Saya. Dan maafkan Saya, jika meminta hal yang lancang kepada Anda." ucap Fani dengan seulas senyum tipis.
Sejujurnya ada sedikit rasa kecewa di dalam hati gadis itu, tetapi dia juga sangat memaklumi jika orang sibuk seperti Reyhan pasti akan lalai dengan kewajibannya.
"Tunggu, Fan! Maaf jika aku belum bisa menjadi imam untukmu. Sejujurnya aku ingin, tetapi aku juga sedikit lupa untuk menjalankannya. Em, apakah kamu bersedia untuk mengajariku?" ujar Reyhan dengan suara lirih.
Akhirnya Fani sedikit merasa lega saat mendengar ucapan dari suaminya. Setidaknya jika saat ini Reyhan belum bisa menjadi imam untuknya, mungkin suatu hari nanti dia akan bisa melakukannya.
"Tentu saja, Tuan. Yuk, kita wudhu dulu!" pinta Fani sambil menarik lengan suaminya.
Mau tidak mau, akhirnya Reyhan mengikuti langkah kaki jenjang istrinya. Karena dia juga sangat merindukan sujud syukur nya kepada sang pencipta.
Setelah selesai, keduanya kini melakukan Sholat Subuh bersama. Dengan sabar dan telaten, Fani mengajari dan mengingatkan kembali gerakan maupun bacaannya.
Tepat setelah akhir salam, Fani langsung meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan khidmat. Saat ini ada rasa tenang dan damai yang sedang dirasakan oleh gadis muda itu.
__ADS_1
'Terimakasih, Ya ALLAH. Karena Engkau telah mengabulkan doa yang selalu aku panjatkan kepada MU. Menjadikan dia imam untukku dan menjadikan aku satu-satunya ratu dihatinya. Meskipun saat ini aku belum menempatinya, tetapi aku yakin jika hanya Engkaulah yang bisa membolak-balikkan hati manusia.' do'a Fani dalam hati.