
Setelah mendapatkan beberapa informasi dari beberapa detektif yang masih menyelidiki tentang keberadaan Audrey, kini Reyhan dan Faishal melakukan perundingan di kantor pusat Wijaya group.
"Kak Rey, apakah kita harus bergerak sekarang, untuk memastikan bahwa keadaan adik kesayangan kita benar baik-baik saja?" tanya Faishal sambil mengetuk-ngetuk meja yang berada di depannya.
Reyhan pun masih bergeming, karena dia masih belum mempercayai informasi yang telah dia dapatkan. Bagaimana mungkin Audrey sudah memiliki anak sebesar itu? Bahkan, usia gadis kecil yang selalu bersama dengannya diperkirakan sekitar enam tahunan. Berarti jika benar gadis kecil itu adalah putri sang adik tercinta, lalu siapakah Ayah dari gadis kecil itu? Dan bagaimana bisa adiknya menyembunyikan masalah sebesar ini dari keluarganya?
"ARGH!"
"BRAAKK!"
Reyhan pun langsung mengerang dan menggebrak meja yang berada tepat di depannya. Sehingga membuat sang adik laki-lakinya terperangah disertai rasa keterkejutannya.
"Fai, cepat siapkan mobil kita! Sekarang juga kita temui wanita dan gadis itu!" titah Reyhan kepada sang adik.
Faishal masih bergeming dan terpaku di tempat, karena dia belum sepenuhnya tersadar kembali setelah menatap kemarahan sang kakak untuk kesekian kalinya.
"Fai! Apa kamu tuli? Huh?" hardik Reyhan dengan suara lantang.
Faishal pun kini mulai tersadar dan gelagapan, saat sang kakak kembali memakinya karena dia belum beranjak sedikitpun dari tempatnya.
"Ba-baik, Kak." sahut Faishal dengan suara terbata.
Tak ingin melihat sang kakak laki-lakinya marah kembali, akhirnya Faishal berjalan terseok-seok saat meninggalkan ruangan bernuansa serba putih tulang itu.
"Huh! Jika sang raja rimba sudah mengeluarkan taring dan kukunya yang runcing, semua yang berada di depannya seperti ingin dicabik-cabik olehnya." gerutu Faishal saat berada di basemen.
Ya, Reyhan memang memiliki watak yang keras dan penuh dengan teka-teki seperti sang Ayah. Sifat dingin, cuek dan pendiam adalah semua sifat sang Ayah yang benar-benar menurun kepadanya. Namun, dibalik sifat mereka tersebut, mereka memiliki sifat penyayang dan welas asih kepada keluarga mereka.
Sedangkan Faishal dan Audrey memang memiliki sifat yang berbanding terbalik dari sang kakak pertama mereka. Faishal dan Audrey memang mewarisi sifat sang Ibu, lemah lembut, penyayang dan sangat perhatian kepada sekitarnya.
Setelah berhasil mengambil mobilnya, akhirnya Faishal langsung mengemudikan mobil sport tersebut menuju ke lobby utama, tepat dimana sang kakak telah menunggu kedatangannya.
"Cepat pindah ke bangku samping! Aku yang akan mengemudikan mobil ini." titah sang kakak dengan tegas.
__ADS_1
Faishal yang tidak ingin membuat sang raja rimba semakin mengamuk, kini dia langsung mematuhi perintah dari sang kakak.
"Baiklah. Tetapi jangan pernah kamu berpikir untuk membawaku menemui malaikat maut saat ini juga, Kak!" sindir Faishal sambil mencebikkan bibirnya.
Reyhan pun langsung duduk di belakang kemudi, tanpa menggubris sindiran Faishal. Karena saat ini yang berada dipikirannya adalah segera bertemu dengan adik perempuannya.
'Aku akan segera membawa mu pulang, Baby! Dan aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk pergi dan meninggalkan kami lagi!' gumam Reyhan di dalam hati.
Sementara Faishal sedang mempersiapkan dirinya yang akan bersenam jantung, karena dia sudah memperkirakan bahwa Reyhan akan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Untung saja jalanan masih lenggang, karena saat ini masih jam kerja. Jadi Reyhan saat ini sedikit bebas melajukan mobil tersebut, tanpa perlu memikirkan tentang resiko yang akan dia hadapi.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja, akhirnya mereka sampai disebuah rumah sederhana yang terdapat di deretan kontrakan berpetak yang berada di dekat taman kota.
"Apa benar ini rumahnya, Fai?" tanya Reyhan sambil menatap tajam ke arah rumah sederhana itu.
Faishal pun langsung merogoh ponselnya dan segera mengusap layar canggih tersebut, sehingga terpampang jelas di sana. Sebuah foto rumah sederhana, hasil penyelidikan detektif profesional yang masih setia bekerjasama dengan mereka.
"Benar, Kak." sahut Faishal dengan mantap.
Tiba-tiba pintu rumah pun terbuka dan menampilkan sosok wanita, yang selama tujuh tahun ini sangat mereka rindukan.
"Audrey Camilla Wijaya?" panggil Reyhan dengan suara bergetar.
Faishal yang hanya melihat sosok adik kesayangannya, kini masih bergeming di tempat.
Audrey yang saat itu sedang menggandeng tangan sang putri tercinta, langsung terperangah dan merasa sangat terkejut dengan kehadiran kedua kakak laki-lakinya yang secara tiba-tiba.
"Ka-k Rey? Kak Fai?" panggil Audrey dengan suara terbata dan parau.
Dengan langkah kaki panjang, tanpa ingin membuang-buang waktu lagi. Reyhan langsung menghampiri sang adik kesayangannya, kemudian langsung memeluk tubuh mungil tersebut.
Faishal pun tidak ingin melewatkan momen penting tersebut, dia pun langsung tersenyum lebar dan menyeimbangkan langkah kakinya dengan sang kakak laki-lakinya, meskipun dia harus berjalan terseok-seok saat mengikuti langkah kaki jenjang tersebut.
__ADS_1
"Audrey Sayang?" panggil Faishal dengan suara lembutnya.
Sedangkan gadis kecil yang saat ini berada di dalam genggaman tangan Audrey, hanya menatap kebingungan kepada ketiga orang dewasa yang saat ini berada di depannya.
"Grap!"
"Mommy? Siapa mereka?" tanya gadis kecil itu dengan suara polosnya.
Faishal yang saat ini berada di depan gadis kecil itu, langsung berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan gadis manis tersebut.
"Hay, gadis manis?" sapa Faisha dengan penuh kasih sayang.
Kimberly yang masih terlihat sedikit ketakutan dengan kehadiran dua sosok laki-laki asing tersebut, langsung merapatkan dirinya dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Reyhan pun langsung melepaskan pelukannya dari Audrey, saat mendengar pertanyaan dari gadis kecil yang saat ini berada di sampingnya.
"Drey?" panggil Reyhan dengan sorot mata yang penuh selidik.
Audrey yang saat ini tidak bisa untuk lari lagi dari kedua kakaknya, hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah.
"Mari kita masuk terlebih dahulu! Nanti akan aku jelaskan semuanya di dalam." ujar Audrey dengan seulas senyum tipis.
Saat ini dia sangat merasa canggung dengan kedua kakak laki-lakinya. Kakak yang selalu menjadi pelindung dan pengayom untuknya, kini bagai orang asing yang baru saja dia temui.
Sambil menyapu setiap sudut ruangan yang bernuansa serba putih, akhirnya kedua laki-laki beda usia itu langsung mengikuti langkah kaki sang adik perempuannya.
"Silahkan duduk dulu, Kak Rey, Kak Fai!" pinta Audrey dengan canggung.
Kedua laki-laki itu langsung menuruti perintah dari wanita yang berada di depannya. Benar-benar situasi yang canggung dan terasa sangat asing.
Namun, Reyhan yang notabennya seorang yang pendiam dan dingin, sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Kalian berdua tunggu sebentar! Aku akan membuatkan minuman terlebih dahulu untuk kalian," ujar Audrey sambil menatap secara bergantian kedua kakak laki-lakinya.
__ADS_1
"Cimmy Sayang? Kamu temani kedua Om ini dulu ya? Mommy mau ke dapur sebentar, Sayang." ucap Audrey dengan penuh kasih sayang.
"Baik, Mom."