Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
16. Pria Posesif


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara yang tidak asing di telinga mereka. Dan mereka pun menundukkan kepala semakin dalam, saat melihat sosok yang baru saja melewati lobby.


"Kak Fai?" panggil Audrey dengan seulas senyum.


"Yes, baby? Ada apa ini?" tanya Faishal sambil berjalan mendekati kedua Kakak-beradik itu.


Reyhan pun bergeming dengan tatapan mata tajam yang masih menyapu sekelilingnya. Faishal yang melihat tingkah kakaknya, kini hanya menautkan kedua alisnya.


"Em, tidak apa-apa kok, Kak. Ini hanya-"


"Hanya sebuah peringatan kepada mereka semua. Agar mereka tidak menggangu wanita kesayangan ku!" tegas Reyhan yang tiba-tiba memotong ucapan Audrey.


Faishal yang langsung memahami situasi tersebut, kini ikut menyapu di sekelilingnya serta melihat semua karyawannya menundukkan kepala.


"Memang apa yang sebenarnya terjadi, Kak?" tanya Faishal kepada Reyhan.


"Coba tanyakan saja kepada semua karyawan bodohmu yang berada di sini! Siapa wanita yang sedang mereka hadapi saat ini? Dan jelaskan semuanya kepada mereka, jika mereka masih ingin bekerja di perusahaan ini. Maka jangan pernah berpikir ataupun berani menyentuh kesayangan keluarga Wijaya." cetus Reyhan.


Kemudian pria dingin dan arogan itu langsung menarik lengan adik perempuannya, agar mengikuti langkah kaki jenjangnya.


Audrey yang belum siap untuk mengayunkan kakinya, kini terseok-seok saat ingin mengimbangi langkah kaki kakak pertamanya.


"Pelan-pelan saja, Kak! Aku tidak bisa berjalan dengan cepat menggunakan sepatu hak tinggi ini." rengek Audrey saat merasa kesulitan untuk mengimbangi langkah kaki jenjang tersebut.


Reyhan yang mendengar ucapan sang adik perempuannya, langsung memperlambat langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke arah wanita muda itu.


"I am sorry, dear. I was still carried away by emotions, so I forgot that I was walking with you!" ujar Reyhan dengan raut wajah sendu.


Sembari menampakkan deretan gigi putihnya, Audrey pun menganggukkan kepala. Kemudian mereka berdua memasuki lift, agar segera tiba di ruangan pria dingin tersebut.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, akhirnya mereka pun tiba di sebuah ruangan yang bernuansa serba putih tulang. Audrey yang melihat ruangan tersebut, merasa sangat kagum. Ruangan yang cukup luas, bersih, dan rapi, adalah tempatnya berpijak saat ini.


"please sit, my lady!" titah Reyhan sembari menarik kursi untuk adik perempuannya.


Audrey pun langsung mengembangkan senyuman manisnya, lalu menuruti perintah dari Reyhan.


"thanks, my cool man." gurau Audrey sambil terkekeh.


"Honey?" rengek Reyhan yang tidak terima dipanggil pria dingin.


"Maaf, Kak Rey! Aku hanya bercanda saja." ujar Audrey sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


Reyhan pun merasa sangat gemas dengan tingkah Adik perempuan satu-satunya ini.


'Seandainya saja kamu bukan adikku, Drey. Kamu pasti sudah habis saat ini.' gumam Reyhan sambil memandangi wajah Audrey.


"Kak Rey?"


Kini lamunan Reyhan pun buyar saat mendengar panggilan dari adik kesayangannya.


"Eh, em.. iya, Honey?" sahut Reyhan gelagapan saat terkejut dengan panggilan dari adiknya.


"Kenapa melamun? Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" tanya Audrey sambil memperhatikan pakaiannya.


"No, my dear. You look so perfect today ." puji Reyhan yang berkata jujur kepada adik perempuannya.


Bugh!


Tiba-tiba pukulan Audrey mendarat di dada bidang Reyhan, sehingga membuat Reyhan mengaduh.


"Awh! Kenapa aku malah dipukul, Honey?" tanya Reyhan dengan raut wajah yang memelas.


"Kak Rey pasti bohong 'kan?" cetus Audrey sembari menyipitkan matanya.


Reyhan pun terkekeh saat melihat tatapan yang menggemaskan dari adiknya. Di saat dia berkata jujur kepada Audrey, kini dia justru tidak mempercayainya.


Audrey yang merasakan keanehan dari kakak pertamanya, hanya merotasi kedua bola matanya. Dia sangat merasa jengah dengan gurauan Reyhan.


"Menyebalkan!" gerutu Audrey.


Reyhan semakin merasa gemas dengan tingkah Adiknya yang selalu saja merajuk, saat dia sedang menggodanya.


"Ternyata kamu masih sama seperti dulu, Honey. Merajuk adalah salah satu jurus andalan mu." sindir Reyhan yang kini memperhatikan wajah cantik adik perempuannya.


'Kamu benar-benar sangat cantik, Drey. Sangat. Egois kah jika nanti aku tidak akan membiarkan mu jatuh ke tangan pria lain?'


***


Lobby Wijaya Group 


Faishal yang ditugaskan oleh sang Kakak laki-lakinya, kini masih menyapu sekelilingnya. Bahkan dia pun mengabsen dan menghafalkan wajah orang-orang yang berada di sana.


"Apakah kalian tau letak dimana kesalahan kalian, sehingga membuat Wakil Direktur menjadi semurka itu?" tanya Faishal sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Suasana terasa hening dan sepi, semua orang yang berada di sana sama sekali tidak berani membuka suaranya.

__ADS_1


"Apa sekarang kalian bisu dan tuli? Huh?" gertak Faishal yang sudah kehilangan kesabaran nya, saat adik perempuannya terlibat dalam suatu masalah.


"Ma-maafkan ka-kami, Pak!" ujar beberapa orang dengan suara terbata.


"Jika sampai kejadian seperti ini terulang kembali dan kalian berani berkata yang tidak-tidak tentang adik perempuan kami. Maka kami tidak akan segan-segan untuk memecat kalian secara tidak hormat! Apa kalian mengerti? Huh?" gertak Faishal dengan tatapan matanya yang tajam dia menyapu sekelilingnya kembali.


"Ba-baik, Pak. Ka-kami mengerti."


Di saat Faishal sedang memberikan peringatan kepada semua karyawannya. Kini dua pasang mata sedang memperhatikan sikap tegasnya.


"Ternyata kedua kakak wanitaku posesif juga, Tir. Aku harus bermain sebaik mungkin di sini, agar aku bisa mendapatkan wanitaku kembali. Wanita yang hampir membuatku gilaa." ujar Aaron sambil tersenyum smirk.


Hari ini dia memang sudah merencanakan rapat dengan Wijaya Group. Namun, dia tidak pernah menyangka jika akan bertemu dengan wanitanya hari ini.


Entah mengapa di semakin tertantang untuk mendapatkan Audrey sepenuhnya. Bahkan dia rela jika harus menghadapi kedua kakak laki-laki wanitanya itu.


Tirta yang selalu mengikuti langkah Bossnya, hanya bisa tersenyum canggung. Melihat sikap Bossnya yang memiliki obsesi yang sangat tinggi, membuat Tirta menenggelamkan dirinya ke dasar laut saat ini.


Saat Aaron sudah memiliki obsesi yang sangat tinggi, maka Tirta harus bersiap-siap untuk mendapatkan perintah sekaligus imbasnya nanti.


"Iya, Pak Aaron. Saya akan selalu mendukung dan memberikan support kepada anda." ucap Tirta dengan tegas.


"Bagus. Bersiaplah! Karena setelah pulang dari tempat ini, kamu akan menerima tugas yang sangat penting!" cetus Aaron dengan santainya.


Sedangkan Tirta hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. Dia sudah terbiasa melakukan semua ini, saat Bossnya sedang memiliki obsesi terhadap apapun, tanpa terkecuali tentang pekerjaan yang sudah diincar olehnya.


"Baik, Pak Aaron." ucap Tirta dengan suara yang sedikit melemah.


Setelah Faishal memberikan peringatan kepada semua karyawannya, akhirnya dia pun menyusul Kakak dan adiknya. Begitupun dengan Aaron dan Tirta, mereka pun langsung mengayunkan kakinya agar bisa mengimbangi langkah Faishal.


"Pak Faishal?"


Hanya tinggal beberapa langkah saja, Tirta langsung menyapa Faishal. Sedangkan Aaron hanya menunjukkan sikap arogannya, saat berhadapan dengan putra kedua Wijaya.


"Oh, Pak Aaron, Pak Tirta. Ternyata kalian sudah sampai? Baiklah. Mari ikut dengan saya, agar saya tunjukkan ruangan meeting kita nanti." ujar Faishal dengan ramah.


"Baik, Pak. Mari." sahut Tirta dengan sopan.


Aaron pun masih dengan sikap arogannya, dan hanya menunjukkan senyum tipis.


Akhirnya mereka pun berjalan menuju ke lift, dan setelah pintu terbuka lalu masuk ke dalamnya. Faishal pun langsung memencet angka yang akan mereka tuju.


'Kita akan bertemu kembali, Sayang.'

__ADS_1


__ADS_2