Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
85.Tetaplah di sini, Sayang!


__ADS_3

"MasyaALLAH! Ternyata di kota sebesar ini masih ada tempat yang sangat indah dan alami ya, Kak?" pekik Fani saat melihat pemandangan disekitarnya.


Gadis lugu yang baru datang dari desa itu memang belum sempat untuk berkeliling Ibukota yang sangat besar dan luas.


"Apakah kamu menyukai tempat ini, Sayang?" tanya Reyhan yang masih menggenggam erat tangan istrinya.


Dengan cepat Fani langsung menganggukkan kepalanya dan senyuman manis kini merekah di kedua sudut bibirnya.


"Iya, Kak Rey. Aku sangat menyukainya. Terimakasih." ucap Fani.


CUP!


Tanpa ba-bi-bu, gadis itu langsung memberikan ciuman singkat di pipi suaminya. Dan semua itu membuat Reyhan tertegun sesaat.


Fani yang langsung menyadari sikapnya yang berlebihan, kini langsung melepaskan tangannya dari genggaman suaminya dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


'Astaghfirullah, Fani! Mengapa kamu lancang sekali sih? Pasti sekarang Kak Rey akan merasa ilfil kepadaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tolong aku, Ya ALLAH!' batin Fani.

__ADS_1


Namun, saat Fani hendak memberikan jarak kepada suaminya. Tiba-tiba tangan kekar itu langsung menarik pinggang rampingnya, sehingga membuat gadis itu memekik karena merasa terkejut.


"Kak Rey?!" pekik Fani.


Reyhan kini langsung menarik pinggang istrinya hingga rapat dan tanpa memiliki jarak sedikitpun. Pandangan mereka pun saat ini terkunci dan jarak diantara mereka pun semakin terkikis..


Fani yang masih merasa gugup, kini langsung melepaskan diri dari pelukan suaminya. Meskipun sebenarnya dia masih ingin menikmati kehangatan itu, tetapi dia juga harus sadar jika saat ini Reyhan belum bisa menerima dirinya di dalam hatinya.


"Kak Rey, lebih baik kita ke sana saja. Sepertinya di sana pemandangannya sangat indah." ucap Fani yang mencoba untuk mengalihkan perhatian Reyhan.


"Apa kamu akan terus menghindari ku, Fani? Apa kamu tidak ingin, jika jarak diantara kita semakin terkikis?" tanya Reyhan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Fani yang mendapatkan pertanyaan itu, saat ini sedang menahan sesak di dalam hatinya, matanya juga sudah mulai mengembun. Bagaimana tidak? Bukankah Reyhan sendiri yang memintanya untuk lebih bersabar, dan memberikan waktu agar pria itu bisa menerima dirinya sepenuhnya.


"Maaf, Kak Rey! Bukannya aku tidak ingin mengikis jarak itu, tetapi aku hanya ingin bersabar terlebih dahulu. Hingga nanti Kak Reyhan sepenuhnya bisa menerimaku dan menjadikan aku satu-satunya ratu di dalam hati kamu. Maafkan aku! Jika aku telah lancang untuk meminta hal itu kepadamu, tetapi aku hanya ingin merasakan cinta tulus yang terbalas." jelas Fani.


DEGH!

__ADS_1


Tes...


Tes...


Tes...


Akhirnya pelupuk mata itu tidak sanggup untuk menahan luapan buliran bening yang sudah terbendung sedari tadi.


GRAP!


"Maafkan aku, Sayang! Maaf! Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terluka karena terlalu banyak berharap kepadaku. Tetapi aku mohon, tetaplah berada di sisiku hingga nanti kamu menjadi pemenangnya. Pemenang satu-satunya hati ini hingga selamanya." ujar Reyhan sambil memeluk tubuh mungil istrinya.


Fani yang mendengar ucapan itu, hanya bisa mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Dia tidak ingin jika isakan tangisannya akan membuat dirinya terlihat lemah oleh suaminya.


"Berjanjilah jika kamu akan tetap berada di sampingku, Sayang! Aku hanya ingin pernikahan sekali seumur hidup dan hanya denganmu saja. Jadi tetaplah di sini, Sayang!" pinta Reyhan dengan suara parau.


Dan lagi-lagi Fani hanya menganggukkan kepalanya dan hanya bisa menahan sesak di dadanya. Seandainya saja suaminya tau, bagaimana rasanya saat berada di posisinya. Merasakan cinta bertepuk sebelah tangan dan masih menunggu cintanya terbalaskan, entah kapan itu waktunya.

__ADS_1


__ADS_2