
"Hah?!" pekik Audrey.
Setelah kepergiannya selama tujuh tahun ini, Audrey seperti tidak mengenali Kakak sulungnya. Bagaimana tidak? Baru saja dia memijakkan kakinya di ruangan itu, tetapi Reyhan sudah bisa menebak jika dia telah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tenanglah, Honey. Semua akan baik-baik saja, dan dia tidak akan bisa melakukan apapun, apalagi sampai menyakiti kalian." ucap lirih Reyhan.
Karena tidak ingin rencananya berantakan, saat ini dia hanya diam sambil mengulas senyum di wajahnya.
Aaron yang kembali melihat wanitanya telah kembali, kini dia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak melancarkan rencananya.
Setelah makan pagi selesai, pria itu sudah berniat untuk mengungkap semua rahasia yang seharusnya diketahui oleh semua keluarga Wijaya.
'Hari ini aku harus mengungkap semuanya, dan aku juga harus menerima konsekuensi dari semua perbuatan ku tujuh tahun yang lalu,' batin Aaron.
Kedatangan Audrey dan Kimberly membuat semua orang, yang sedang menanti mereka pun bernapas lega.
__ADS_1
Akhirnya semua orang pun melanjutkan acara makan bersama yang sempat tertunda hingga selesai.
***
"Bugh! Bugh! Ternyata badjingan seperti Anda masih memiliki nyali juga untuk mengakui kelakuan bejad Anda, huh?! hardik Reyhan disertai dengan dua pukulan yang mendarat di wajah Aaron.
Baru saja Aaron mengungkapkan rasa bersalahnya, bogem mentah pun langsung dia dapatkan dari Kakak sulung Audrey.
"Apakah Anda pikir, kami hanyalah sekumpulan orang-orang Bodooh yang sama sekali tidak mengetahui apapun, huh?!" pekik Reyhan.
Melihat tindakan anarkiis dari pamannya, Kimberly sedikit merasa syok dan langsung memeluk erat tubuh Ibunya. Audrey yang mengetahui jika putrinya saat ini merasa sangat ketakutan, kini segera melakukan tindakan.
"HENTIKAN! APAKAH SIKAP KALIAN INI TIDAK MELEBIHI ANAK KECIL? APAKAH KALIAN JUGA TIDAK MELIHAT, BAGAIMANA TAKUTNYA PUTRIKU SAAT INI, HUH?!" Pekik Audrey dengan suara lantang.
Melihat putrinya yang merasa sangat ketakutan dengan tubuh yang gemetar, seketika membuat keberanian Ibu satu anak itu berkumpul.
__ADS_1
Bahkan di saat itu juga, dia sama sekali tidak mempedulikan orang-orang disekitarnya yang juga dikejutkan oleh teriakannya.
"Sayang, kamu jangan terbawa emosi ya? Lebih baik kita pulang sekarang! Biarkan kedua Kakakmu saja yang menyelesaikan masalah ini." pinta Rosa sambil mengusap lembut punggung Audrey.
Dengan cepat Audrey pun langsung menggelengkan kepalanya, sambil menatap lekat wajah Ibunya. Tatapan mata tajam dan penuh amarah yang berkobar, kini membuat Audrey ingin membakar pria yang saat ini sedang meringis menahan rasa pedih di wajahnya.
"Tidak, Bu. Hari ini juga aku harus segera menyelesaikan semua ini, dan tidak ingin membuat putriku mengalami trauma yang sangat besar untuk kedua kalinya. Cukup hari ini saja rasa takut karena sosok yang selalu dia nantikan kehadirannya, menjadikan dirinya mengerti akan satu hal....." tegas Audrey sambil menatap tajam Aaron.
Mereka pun masih terdiam dan memberikan ruang untuk Audrey, agar wanita muda itu bisa mengeluarkan suara hatinya yang terpendam.
"Hari ini aku juga akan mengatakan kepada putriku, bahwa dia adalah Ayah kandungnya yang selama ini dia tanyakan..." ucap Audrey sambil menunjuk ke arah pria, yang baru saja mendapatkan bogem mentah dari Kakak sulungnya.
Kimberly yang mendengar ucapan Audrey, seketika melepaskan pelukannya dan langsung mengikuti arah jari telunjuk Ibunya.
Dan... betapa terkejutnya saat dia mengetahui jika pria yang selalu saja membuat dia tidak nyaman adalah Ayahnya.
__ADS_1
"APA?!" pekik Kimberly.