Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
13. Dua Pria Arogan


__ADS_3

Ditengah kegamangan dan keresahan Audrey.


Kini justru berbanding terbalik dengan Aaron yang sedang tersenyum lebar, setelah beberapa hari menantikan hasil tes DNA itu. Akhirnya dia bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan sangat memuaskan.


Sesuai dengan firasatnya, saat ini fakta tentang gadis itu telah terungkap. Gadis kecil yang bersama dengan seorang wanita, yang beberapa waktu lalu tanpa sengaja bertemu dengannya. Kini membuat Aaron semakin yakin, jika dia adalah putrinya dari wanita itu.


"Ternyata benar dugaan ku. Jika gadis itu memang hasil perbuatan ku tujuh tahun yang lalu. Sesuai dengan janjiku, aku akan bertanggungjawab atas semua yang aku lakukan kepada mereka. Rasa bersalah dan rasa tidak tauku, yang menjadikan diriku selalu dihantui oleh bayangan kelam. Dan aku pun hampir gila karena hal itu." gumam Aaron sambil memandangi kertas putih yang akan menjadi bukti tertulis untuknya nanti.


"Aku harus segera menyusun rencana pertemuan kami, dan akan ku pastikan dia tidak akan pernah bisa pergi lagi dariku." cetusku sambil tersenyum smirk.


Setelah puas memandangi kertas tersebut, dia pun langsung menyimpannya di tempat yang cukup aman. Dia yakin, jika suatu hari nanti pasti akan membutuhkan selembaran itu kembali.


Kemudian dia langsung menghubungi asisten pribadinya, Tirta Anggara. Dia meminta Tirta untuk ntuk mengatur ulang jadwalnya, karena dia hendak pergi ke tempat yang seharusnya dia kunjungi.


***


Wijaya Group 


Disinilah Aaron berada saat ini, di kantor pusat perusahaan Wijaya Group yang dipimpin oleh Riki Arya Wijaya.


Setelah berhasil masuk ke dalam ruangan bernuansa serba putih tulang tersebut. Ternyata sang empu telah digantikan oleh sang putra pertamanya, yang saat ini sedang bertatap muka secara langsung dengannya.


"Selamat siang, Pak Wijaya?" sapa Aaron yang sedang berbasa-basi.


"Selamat pagi kembali, Pak.... Em, mohon maaf sebelumnya, bisakah Anda memperkenalkan diri Anda terlebih dahulu. Karena mungkin sebelumnya yang bertemu dengan Anda adalah Ayah saya." ujar Reyhan dengan seulas senyum.

__ADS_1


Karena baru kali ini Aaron yang mendatangi perusahaan lain, saat ini dia sedikit merasa canggung. Biasanya orang-orang yang berebut untuk mengantri untuk bertemu dengannya. Namun, saat ini berbanding terbalik dari sebelumnya.


"Perkenalkan nama saya Aaron Vincent Rich. Saya adalah salah satu partner kerja Ayah anda, Pak Riki Arya Wijaya." ujar Aaron sambil mengulurkan tangannya.


Kemudian uluran tangan tersebut disambut hangat oleh Reyhan dengan seulas senyum.


"Oh, baiklah Pak Aaron. Perkenalkan nama saya Reyhan Ariandra Wijaya, putra pertama dari Pak Riki Arya Wijaya. Senang berkenalan dengan Anda, Pak Aaron." ujar Reyhan dengan seulas senyum.


Meskipun sebenarnya tujuan utama Aaron adalah bertemu dengan Riki, tetapi dia tidak mempermasalahkan tentang hal itu. Karena semua itu baginya sama saja, mereka sama-sama dari keluarga Wijaya dan dekat dengan wanitanya.


"Baik, Pak Aaron. Mohon maaf sebelumnya, ada gerangan apa? Sehingga membuat Anda datang ke perusahaan kami, tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Jika saja Anda tadi memberikan kabar kepada kami terlebih dahulu, pasti kami akan menyiapkan penyambutan kepada Anda, Pak." cetus Reyhan yang masih merasa canggung dengan lawan bicaranya.


Biasanya Reyhan adalah orang yang humble. Namun, kini menjadi sebaliknya. Entah mengapa saat bersitatap dengan Aaron, ada sesuatu hal yang mengganjal di dalam hatinya.


"Mohon maaf sebelumnya, Pak Reyhan. Karena saya telah lancang untuk mengunjungi perusahaan Anda. Sebelumnya Saya ke sini memang untuk bertemu dengan Pak Wijaya, ekhem.. maksud Saya Pak Riki." jelas Aaron sambil memaksakan seulas senyum canggung.


"Oh, maaf kalau begitu, Pak Aaron. Karena beberapa hari ini Ayah saya mengambil cuti, dan saya bersama dengan adik kedua saya yang menggantikan beliau untuk sementara waktu." cetus Reyhan dengan seulas senyum.


Sedingin-dingin nya seorang Reyhan, saat menyangkut nama perusahaan sang Ayah. Dia akan bersikap seramah dan sebijak mungkin kepada rekan kerjanya, jika orang tersebut juga melakukan hal yang sama dengannya.


"Em, baiklah. Tidak masalah. Karena hari ini saya hanya sekedar mengunjungi beliau saja, pak Pak Reyhan. Dan memberikan kabar jika proyek kita sudah akan segera dimulai." ujar Aaron dengan seulas senyum tipis.


Reyhan pun mengangguk-anggukan kecil, sebagai tanda bahwa dia mengetahui perihal tentang kerjasama tersebut.


"Baiklah, Pak Aaron. Nanti akan saya sampaikan kepada Ayah saya, jika Anda berkunjung ke perusahaan kami." cetus Reyhan lagi.

__ADS_1


Aaron pun hanya menganggukkan kepalanya, dengan senyum tipis yang tersungging di kedua sudut bibirnya. Saat hendak bangki dari tempat duduknya, tiba-tiba terbesit rasa keingintahuannya tentang putri bungsu Wijaya.


"Ekhem! Pak Reyhan, apakah sebelumnya saya boleh menanyakan suatu hal kepada Anda?" tanya Aaron dengan sangat hati-hati.


Reyhan yang belum merasa curiga dengan gelagat Aaron, hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujui pertanyaan Aaron.


"Em, tetapi sebelumnya saya menanyakan tentang hal ini. Anda jangan tersinggung dengan pertanyaan saya nanti, Pak Reyhan! Karena pertanyaan saya sedikit ke privasi keluarga Anda." ucap Aaron sambil menatap raut wajah Reyhan yang sedikit berubah.


"Tentang keluarga saya? Apakah anda mempunyai masalah dengan salah satu keluarga saya, Pak Aaron?" tanya Reyhan dengan tatapan penuh selidik.


Aaron yang melihat perubahan raut wajah dan sikap Reyhan, kini hanya menghela napas panjang dan memutar otak agar tidak menimbulkan kecurigaan terhadapnya.


"Tidak, Pak Reyhan. Hanya saja sebelumnya Ayah anda meminta bantuan kepada saya untuk mencari putri bungsunya. Tetapi beberapa hari ini telah beredar, jika putri bungsu Wijaya telah kembali. Benarkah begitu, Pak Aaron?" alibi Aaron agar Reyhan tidak mencurigainya.


Tetapi bukan Reyhan jika tidak menaruh rasa curiga kepada orang yang baru saja dia kenal, yang tiba-tiba kini langsung menanyakan tentang keluarganya.


"Ya, seperti Anda dengar dari beberapa orang-orang dan media, Pak Aaron. Jika adik bungsu Saya telah kembali, setelah dia w juga sudah menjelaskan semuanya kepada Anda, perihal tentang hilangnya adik bungsu Saya." cetus Reyhan dengan tegas.


Saat mendengar ucapan Reyhan, kini Aaron semakin mengerti. Jika saat ini pertanyaannya sedikit menyinggung Reyhan. Dan itu semua terlihat dari perubahan raut wajah dan sikap tegasnya yang berubah drastis.


"Benar sekali, Pak Reyhan. Sebelumnya memang Pak Riki sedikit menceritakan perihal tentang hilangnya putri bungsunya. Tetapi saat saya mendengar jika putri bungsu Pak Riki telah kembali, saya turut bahagia dengan kabar tersebut. Dan saya harap Anda tidak tersinggung dengan pertanyaan saya sebelumnya, Pak Reyhan." cetus Aaron dengan seulas senyum tipis.


Sesaat Reyhan terdiam sembari mencerna setiap ucapan yang Aaron lontarkan. Bukan tanpa sebab dia mencurigainya, tetapi semua orang juga tau perihal tentang hal ini. Tetapi mereka cukup diam setelah mengetahui hal tersebut, dan tidak bersikap seperti Aaron yang sepertinya sangat peduli dengan adik bungsunya.


'Aku harus menyelidiki pria ini!'

__ADS_1


__ADS_2