Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
17. Bertemu Kembali


__ADS_3

CEKLEK!


Kini Faishal pun membawa kedua rekan kerjanya ke dalam ruangan meeting, yang bernuansa serba putih.


Mereka berdua pun cukup terkesan dengan ruangan itu, ruangan yang cukup luas, bersih dan tertata rapi.


"Saya cukup kagum dengan cara pelayanan dan fasilitas yang tersedia di perusahaan ini, Pak Faishal." puji Aaron dengan seulas senyum tipis.


Faishal yang mendengar pujian dari Aaron, hanya membalasnya dengan senyuman dan ucapan terima kasih.


"Terimakasih, Pak Aaron. Kami harap Anda akan merasa nyaman saat melakukan meeting nanti. Dan waktu kita masih cukup panjang, jika ingin sekedar berbincang-bincang terlebih dahulu." ujar Faishal yang masih dengan sikap sopan nya.


"Apa saya bisa bertemu dengan kakak anda terlebih dahulu, sebelum rapat ini dilaksanakan?" pinta Aaron dengan seulas senyum tipis.


Faishal pun terdiam sejenak, kemudian dia pun langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Baiklah, kakak saya sedang di ruangannya sekarang. Mari ikuti saya, Pak!" ujar Faishal yang mendahului langkahnya, untuk memberikan petunjuk jalan kepada kedua rekan kerjanya.


'Bagus. Sebentar lagi aku pasti akan bertemu kembali dengan wanitaku.' gumam Aaron dalam hati.


Tap...


Tap...


Tap...


Suara sepatu formal itu pun saling bersahutan, saat mereka mengayunkan kaki mereka secara bergantian.


Tok...


Tok...


Tok...


Ceklek!


"Kak Rey, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu?" ucap Faishal saat dia menyembulkan kepalanya dari balik pintu kaca tersebut.


"Siapa?" tanya Reyhan sambil mengernyitkan dahinya.


"Pak Aaron dan Pak Tirta, mereka sudah ada di depan." ujar Faishal dengan santainya.

__ADS_1


Reyhan pun langsung terdiam sejenak, untuk berpikir sembari melirik ke arah adik perempuannya.


'Jika benar dia orangnya, pasti Audrey akan memiliki respon tertentu saat melihatnya nanti. Lebih baik aku memastikannya saat ini juga, mungkin inilah waktu yang tepat.' batin Reyhan.


"Baiklah, biarkan dia masuk ke dalam." titah Reyhan dengan tegas.


Faishal pun langsung menjalankan perintah dari kakaknya. Kemudian dia pun membuka pintu kembali dengan lebar dan mempersilahkan masuk kedua tamu mereka.


"Selamat pagi, Pak Reyhan?" sapa Aaron dengan seulas senyum tipis.


"Selamat pagi kembali, Pak Aaron. Silahkan duduk!" sahut Reyhan dengan seulas senyum.


Degh!


Audrey yang saat itu masih berada di ruangan tersebut, tubuhnya seketika menegang saat mendengar suara bariton yang cukup dia kenali.


Sejenak Audrey pun menerawang jauh ke masa kelamnya tujuh tahun yang lalu, saat suara bariton itu terdengar sangat jelas sebagai penghancur hidupnya.


'Suara itu?' batin Audrey.


Perlahan wanita muda itu memberanikan dirinya, untuk menoleh ke arah pemilik suara bariton itu.


Saat pandangan mereka saling bertemu, kedua mata Audrey membola sempurna.


'Benar dia. Astaga!' batin Audrey lagi.


Reyhan yang melihat dengan jelas, bagaimana perubahan raut wajah adik perempuannya. Dia menjadi sangat yakin, jika pria arogan yang berada di depannya adalah orang yang selama ini dia cari.


"Seketika suasana pun terasa hening, tetapi pandangan Aaron sama sekali tidak lepas dari Audrey. Meskipun Audrey sudah menundukkan kepalanya, agar dia tidak melihat pria yang sangat dibenci olehnya.


"Kak, aku mau mencari angin dan keluar sebentar ya? Dan aku akan segera kembali lagi ke sini. Hanya sebentar saja." mohon Audrey.


Reyhan yang mengerti dengan situasi yang sedang adik perempuannya hadapi, langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Baiklah, Honey. Hati-hati ya? Jika ada sesuatu, langsung hubungi kami." cetus Reyhan sambil mengusap lembut puncak kepala Audrey.


Aaron yang mendengarnya, kini langsung berpikir keras agar bisa keluar dan mengikuti Audrey. Saat ini dia sudah bertekad untuk menanyakan perihal tentang gadis kecil yang pernah dia temui sebelumnya.


Hanya berselang beberapa menit saja, Aaron pun langsung meminta izin untuk menjawab panggilan masuk yang berdering.


"Pak Reyhan, Pak Faishal, saya mohon izin untuk menjawab panggilan masuk dari klien saya. Permisi!" izin Aaron dengan seulas senyum tersungging di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


Reyhan dan Faishal pun hanya menganggukkan kepala. Reyhan yang masih mencurigai gerak-gerik rekan kerjanya, hanya bisa menatap punggung Aaron yang menghilang dari balik pintu kaca tersebut.


***


Setelah berhasil menyusul Audrey, akhirnya Aaron langsung mencekal lengan mungil itu dan membawanya ke tempat yang cukup sepi.


"A-apa mau kamu?!" tanya Audrey gelagapan, saat melihat siapa orang yang tiba-tiba menarik tangannya, hingga membawanya ke tempat yang tidak asing untuknya.


"Ssttt! Diamlah, Sayang! Aku tau jika malam itu adalah kamu. Apakah kamu tau, jika setelah malam itu kamu sangat menyiksaku dengan kepergian mu?!" ujar Aaron sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir ranum milik Audrey.


"A-ku tidak mengerti apa maksudmu, Tuan. Jadi tolong jangan ganggu aku!" kilah Audrey yang saat ini mencoba untuk memberontak.


Aaron yang telah berhasil mengungkung tubuh mungil Audrey, kini langsung menyunggingkan senyum kemenangan.


"Jangan berkilah, Sayang! Apakah kamu ingin mengingat kejadian malam itu lagi, sekarang?! Hem!" cetus Aaron sambil menatap lekat wajah wanitanya.


"Jangan pernah berbicara sembarangan, Tuan! Saya sama sekali tidak mengenal anda. Jadi saya minta anda jangan lancang kepada saya!" tegas Audrey saat kebencian itu kembali hadir padanya.


Aaron pun langsung membungkam bibir ranum milik Audrey, dan melumaatnya dengan lembut. Sedangkan Audrey yang mendapatkan serangan dadakan dari Aaron, semakin menatap penuh kebencian kepada pria yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Hempt...."


Audrey pun memberontak, tetapi tenaganya kalah dari Aaron. Semakin Audrey memberontak, maka Aaron semakin memperdalam ciuman itu.


"Jangan pernah berpikir jika aku akan melepaskan mu dan putri kita, Audrey Camilla Wijaya! Karena aku sangat yakin bisa mendapatkan mu kembali seutuhnya." tegas Aaron sambil menatap lekat wajah Audrey.


Audrey pun memalingkan wajahnya dari Aaron. Dia merasa sangat muak dengan pria badjingan yang saat ini berada di depannya.


Niat hati ingin menghindari pria itu, tetapi kini dia justru terjebak bersamanya kembali.


"Lepaskan saya, Tuan! Saya benar-benar tidak mengerti apa maksud anda." kilah Audrey lagi dengan tegas.


Aaron yang belum bisa menerima penolakan dari wanitanya, kini justru bergerak liar. Sehingga hampir membuat pertahanan Audrey goyah. Namun, dengan cepat Audrey segera menepis jauh-jauh perasaan aneh yang hampir menguasainya.


Dengan seluruh tenaga yang dia miliki, Audrey langsung menginjak kaki Aaron menggunakan sepatu hak tingginya. Dan itu semua berhasil membuatnya terlepas dari jeratan tangan Aaron.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi dari tempat itu, Audrey melepaskan sepatu hak tingginya dan berlari sekencang mungkin agar bisa menghindari pria tersebut.


"Aku harus segera pergi dari perusahaan ini. Tetapi semua barang-barang ku masih ada di ruangan Kak Rey. Argh! Sial!" umpat Audrey saat menghentikan langkahnya.


Mau tidak mau Audrey harus kembali lagi ke ruangan kakak pertamanya, untuk mengambil tas yang tadi dia tinggalkan di sana.

__ADS_1


Aaron yang masih mengaduh karena merasakan kesakitan yang luar biasa di kakinya. Kini dia terpaksa harus berjalan tertatih dan kembali ke ruangan Reyhan, karena sebentar lagi meeting akan segera dimulai.


"Aku berjanji, akan segera mendapatkan mu kembali, Sayang! Tunggulah kedatangan ku!" gumam Aaron.


__ADS_2