
"Apa-apaan ini? Siapa kalian?" tanya pria muda berkacamata sambil menghadang kedua pria yang berbadan kekar.
Tanpa menjawab ucapan pria itu. Dua pria dingin itu langsung menghempaskan tubuh tinggi pria muda tersebut, hanya dengan satu dorongan saja.
BRAK!
Pintu kaca pun langsung terbuka dengan kasar, sehingga membuat sang pemilik ruangan merasa sangat terkejut, dengan kehadiran dua tamu yang tidak diundang.
"Siapa kalian? Lancang sekali kalian berdua masuk begitu saja tanpa seizin ku, huh?!" gertak Aaron.
Kedua pria berpawakan kekar itu pun sama sekali tidak menghiraukan ucapan dan gertakan dari Aaron. Dengan kasar kedua pria itu pun langsung membawa Aaron sambil mengapitnya.
"Lepaskan! Atas dasar perintah siapa kalian melakukan semua ini kepada Saya, huh?!" tanya Aaron dengan suara lantang.
Salah satu pria itu pun langsung menoleh ke arah pria arogan itu dengan tatapan datar.
"Tuan Wijaya." jawab salah satu pria tersebut.
DEGH!
"Apa?!" pekik Aaron.
__ADS_1
Saat ini pria arogan itu pun masih memberontak dengan pikiran yang berkecamuk. Pria itu pun juga merasa bingung, mengapa keluarga Wijaya selalu memperlakukannya seperti ini.
Bahkan baru beberapa hari yang lalu, kedua putra Wijaya membuat wajahnya lebam. Dan saat ini justru Riki sendiri yang menyuruh orang-orangnya untuk membawanya secara tidak hormat.
"Lepaskan! Saya bisa jalan sendiri! Jangan sampai semua karyawan Saya menertawakan atasannya, hanya karena ulah kalian berdua." tegas Aaron.
Untung saja dia bodyguard itu langsung melepaskannya sebelum pintu lift terbuka. Kalau tidak, bagaimana jadinya nanti jika semua karyawannya melihat dia diperlakukan seperti itu oleh dua orang asing.
Bisa dipastikan dia akan mendapatkan cibiran dan hujatan, meskipun secara tidak langsung. Tetapi semua itu tidak akan pernah terjadi, karena saat ini dia sudah bersikap seperti biasa.
Dengan langkah panjang, Aaron berjalan dengan diiringi oleh kedua bodyguard keluarga Wijaya. Meskipun banyak pasang mata yang melihatnya, tetapi dia tetap bersikap tak acuh terhadap sekitarnya.
Di sepanjang perjalanan, suasana terasa sangat hening dan sepi. Tak ada perbincangan antara ketiga pria itu.
"Silahkan Tuan! Tuan Wijaya sudah menunggu Anda sejak tadi." ucap salah satu pria tersebut.
Aaron pun langsung menganggukinya, dan kembali berjalan dengan cepat. Suasana hatinya saat ini sedang tidak menentu, ada perasaan bahagia yang tidak bisa dia jabarkan.
Tetapi juga ada perasaan was-was, karena dia yakin di sana juga ada kedua putra Wijaya, yang selalu menganggap dia sebagai musuh terbesar mereka.
'Apakah nanti hidupku akan berakhir di keluarga Wijaya? Apakah mereka akan menghabisi ku di Rumah Sakit ini?' batin Aaron.
__ADS_1
Pikiran dan hati Aaron pun kembali berkecamuk.
Setelah melewati lorong Rumah Sakit, akhirnya mereka pun tiba di depan lift dan akan segera tiba di tujuan utamanya.
Ting!
Baru beberapa langkah keluar dari lift, Aaron langsung mendapatkan bogeman mentah lagi dari putra sulung Wijaya.
BUGH!
Mendapatkan satu bogem mentah secara tiba-tiba, membuat tubuh Aaron langsung tersungkur ke lantai.
"Ingat, Tuan Aaron! Jangan sampai Anda membuat masalah lagi di depan keponakan Saya! Kalau sampai itu terjadi lagi, maka Anda akan habis di tangan Saya!" ancam Reyhan.
"HENTIKAN!"
Bersambung....
Hay gaes.. nih aku kasih bonus buat kalian... š¤
Visual AARON VINCENT RICH š„
__ADS_1