Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
91. Jangan Protes!


__ADS_3

Malam pun tiba. Sang mentari kini segera menepi dan posisinya digantikan oleh sang rembulan yang kembali bersinar terang.


"Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Aaron yang sedang merapikan pakaian setelah menata rambutnya.


Audrey yang masih memberikan pewarna alami di bibirnya, kini langsung menoleh ke arah suaminya yang sudah terlihat rapi dan tampan.


"Sudah, Kak. Tapi sebentar, aku mau menemui Cimmy dulu. Karena sedari tadi gadisku belum kunjung kemari. Biasanya dia kan sudah heboh duluan untuk menghias rambut dan poninya." ucap Audrey sambil terkekeh.


Aaron yang masih ingin merapikan penampilannya, kini langsung memberikan anggukan dan ciuman singkat di kening istrinya.


"Baiklah, my princess." ucap Aaron dengan seulas senyum.


Sebelum beranjak dari tempat duduknya, sejenak Audrey tertegun karena mendapatkan ciuman singkat di keningnya.


Tubuhnya langsung menegang bagai tersengat listrik saat benda kenyal itu mendarat tiba-tiba dan tanpa adanya aba-aba.


Setelah tersadar dari lamunannya, wanita muda itu bergegas meninggalkan kamar itu untuk menghampiri putri mereka yang masih berada di kamarnya.


Melihat wajah istrinya yang memerah, membuat Aaron merasa gemas. Bahkan jika istrinya bersedia, pria itu sudah ingin memakannya.


"Kamu sungguh menggemaskan, Sayang. Dan kita lihat, seberapa kokoh dan kuat benteng yang kamu pertahankan hingga kamu masih belum menyerah hingga saat ini. Karena aku akan selalu mengikisnya sampai dia semakin menipis, hingga akhirnya kamu goyah dan menyerah." ujar Steven saat istrinya sudah masuk ke dalam kamar putrinya.


Saat Aaron sibuk dengan pikirannya sendiri, kini Audrey justru keteteran saat putrinya langsung merengek meminta untuk menata rambut ikalnya.


"Mommy, aku mau ini dihias di sini dan rambutnya diikat seperti ini. Tetapi sisihkan sebagian untuk di selipkan disini ya?" rengek Kimberly.


Audrey yang selalu diributkan perihal tentang rambut kini hanya bisa menghela napas panjang. Karena bukan hanya sekali dua kali gadis kecil itu merengek tentang penampilannya.


"Iya, Sayang. Sebentar ya? Pelan-pelan. Ini Mommy juga sedang menghiasinya dan kamu bisa melihat hasilnya nanti. Jadi jangan protes, okey?!" ujar Audrey dengan suara lembut.


Meskipun Audrey sering dibuat jengkel dengan sikap luar biasa putrinya, tetapi wanita muda itu sama sekali tidak pernah menaikkan intonasi suaranya. Kecuali saat Kimberly berbuat sesuatu yang bisa mengikis kesabarannya.


Setelah beberapa saat bergelut dengan rambut panjang putrinya. Akhirnya wanita itu berhasil menghiasnya sesuai dengan permintaan dari putri kesayangannya.


"Sudah, Sayang. Coba kamu lihat, apakah masih ada yang terlewatkan?" tanya Audrey sambil memandangi pantulan bayangan putrinya.

__ADS_1


"No, Mom! Mommy memang yang terbaik. Thank you?" ucap Kimberly dengan penuh semangat.


Audrey yang melihat wajah sumringah putrinya, seketika rasa penatnya menguap.


"Baiklah. Sekarang kita temui Daddy dulu dan mengajaknya untuk berangkat sekarang." ujar Audrey dengan seulas senyum.


Kimberly yang ingin memperlihatkan penampilannya, kini langsung berlari ke arah kamar utama.


"Daddy?!" pekik Kimberly saat memasuki kamar tersebut.


Aaron yang sedang menggeser-geser layar ponselnya, kini langsung melepaskan genggaman itu kemudian merentangkan kedua tangannya.


Kimberly yang selalu disambut dengan kasih sayang oleh sang Ayah. Kini tanpa aba-aba langsung berhamburan ke dalam pelukan hangatnya.


"Pelan-pelan, Sayang. Nanti kalau rambut kamu berantakan lagi, bagaimana? Apakah kita tidak jadi pergi ke rumah Oma dan Opa?" protes Audrey.


Kimberly yang awalnya ingin bermanja-manja dengan sang Ayah, seketika langsung menunjukkan sisi kedewasaannya dan semua itu membuat pria dewasa itu melongo.


"Mommy benar. Kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Ayo, Dad!" ujar Kimberly dengan sikap anggunnya.


Audrey pun langsung cekikikan saat melihat wajah suaminya yang menatap penuh keheranan dengan perubahan sikap putrinya.


Saat sepasang suami-isteri itu berjalan beriringan, tiba-tiba kecupan singkat mendarat di pipi wanita muda itu.


"Sekali lagi kamu menertawakan aku, maka habis kamu nanti malam, Sayang." goda Aaron setelah mencium pipi wanitanya.


Audrey yang masih berada di samping suaminya, seketika langsung membelalakkan matanya saat mendengar jurus andalan itu.


"Ish! Apa-apaan sih, Kak. Memangnya aku makanan yang bisa kamu habiskan?" protes Audrey sambil mencebikkan bibirnya.


Aaron yang sengaja menggoda istrinya, kini langsung merapatkan tubuh mereka sehingga tidak ada jarak sama sekali.


"Jangan protes! Atau aku akan langsung menggendongmu kembali ke kamar." goda Aaron lagi.


Lagi, lagi mood wanita itu dibuat jengkel oleh suaminya setelah putri mereka yang melakukannya.

__ADS_1


"Sepertinya selera makanku nanti akan menghilang, karena kalian sudah merusak mood ku." gerutu Audrey dengan bibir yang membentuk kerucut.


Aaron pun langsung mendelik saat mendengar ucapan istrinya. Berarti bukan hanya dirinya yang membuat istrinya jengkel, tetapi putri mereka.


Pantas saja saat masuk ke dalam kamar, wajah istrinya sedikit terlihat kusut. Ternyata putrinya juga sudah membuat mood wanita itu sedikit kacau.


'Mampus! Bisa-bisa aku akan lebih lama berpuasa.' batin Aaron yang merutuki ucapannya sendiri.


Audrey yang mulai merasa malas, mau tidak mau dia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku belakang. Sedangkan putrinya dia minta untuk duduk di depan untuk menemani suaminya.


'Nah, kan! Pasti dia merajuk karena aku menggodanya tadi. Puasa deh puasa lagi.' keluh Aaron sambil mengemudikan mobilnya.


Ketika di dalam perjalanan, seperti biasa Kimberly selalu mengajak kedua orangtuanya untuk bercerita dan mereka pun sesekali juga ikut menimpalinya.


Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja, akhirnya mereka pun sampai di kediaman Wijaya.


Kimberly yang paling bersemangat, tanpa menunggu kedua orangtuanya. Gadis kecil itu langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah.


Audrey yang sudah terbiasa dengan sikap putrinya kini hanya membiarkannya. Tetapi tidak untuk seorang Aaron yang selalu memanjakan putrinya.


"Hati-hati, Honey. Jangan berlari!" pekik Aaron saat melihat putrinya yang sudah tidak terlihat lagi.


Namun lagi, lagi pria itu langsung mencekal pergelangan tangan istrinya sebelum memasuki rumah mertuanya.


"Jangan cemberut seperti itu, Sayang! Nanti mereka berpikir jika kamu tidak bahagia bersama denganku. Dan aku bisa habis karena diprotes oleh keluargamu." pinta Aaron dengan raut wajah memelas.


Wanita muda itu pun memilih mengalah dan mengulas senyuman tipis di bibirnya.


"Iya, Kak Aar. Nih, sudah 'kan?" cetus Audrey sambil menunjukkan senyumannya.


Aaron yang melihat keterpaksaan dari senyuman itu tanpa ba-bi-bu langsung menyambar bibir ranum istrinya.


"Sekali lagi kamu cemberut, maka bibir ini akan selalu menyerangmu tanpa melihat situasi. Bahkan dia bisa saja melakukannya di depan keluargamu, Sayang." goda Aaron atau lebih tepatnya sebuah ancaman jitu untuk menaklukkan wanitanya.


"Iya, iya. HM! Sudah 'kan? Dasar pemaksa!" gerutu Audrey yang langsung mengayunkan kakinya dan meninggalkan Aaron yang masih melongo di tempat.

__ADS_1


Pria itu segera tersadar dan mempercepat langkah kakinya untuk mengimbangi ayunan kaki jenjang istrinya.


'Kita lihat, Sayang. Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku.' batin Aaron dengan seringai licik.


__ADS_2