Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
32. Dibalik Kepolosan Kimberly


__ADS_3

Beberapa saat menunggu, hidangan yang cukup mewah pun tersaji di atas meja yang berbentuk persegi panjang. Di saat pramusaji sedang meletakkan minuman di depan Kimberly, tanpa sengaja air itu tumpah, sehingga membuat sebagian gaun Kimberly basah dan kotor.


"Awh! Mommy, baju Cimmy basah." rengek gadis kecil itu.


Pramusaji yang tanpa sengaja menyenggol minuman tersebut, merasa sangat terkejut sehingga membuat seluruh tubuhnya gemetar. Dia pun juga takut, jika nanti akan mendapatkan sanksi yang fatal.


"Ma-maafkan Sa-saya, Nona! Sa-saya benar-benar tidak sengaja." ucap Pramusaji itu dengan terbata.


Audrey yang menyadari perubahan raut wajah wanita muda itu, kini hanya mengibaskan tangannya sambil tersenyum getir.


"Tidak apa-apa kok, Kak. Ini hanya sedikit basah dan lengket saja, nanti Saya yang akan membersihkannya sendiri. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati dalam melakukan pekerjaan ini." cetus Audrey dengan suara datar.


Meskipun dia sedikit merasa jengkel dan kesal kepada wanita muda itu, tetapi dia juga harus bisa untuk meredam dan menahan rasa kesal itu sampai tiba puncaknya dia meluapkan semua amarahnya.


"Ba-baik, Nyonya. Sekali lagi Saya minta maaf," pinta wanita muda itu.

__ADS_1


Aaron yang melihat kedewasaan dan kesabaran dari seorang Audrey Camilla, kini semakin membuat dia ingin segera memiliki wanita itu.


'Benar-benar wanita idaman. Seandainya saja orang lain yang mengalami kejadian seperti ini. Dia pasti sudah marah-marah dan meminta ganti rugi.' gumam Aaron dalam hati.


Pria matang itu terus saja memandangi wajah wanitanya. Bahkan saat Reyhan menangkap basah pria itu memandangi adik perempuannya, dia sama sekali tidak menyadarinya.


"Ehm! Baiklah. Lebih baik kita segera lanjutkan makan pagi kita sebelum semuanya dingin. Agar nanti kita bisa lebih lama untuk berbincang-bincang tentang hal-hal yang sangat penting." celetuk Reyhan.


Bukan tanpa sebab pria itu mengatakan hal itu. Saat ini dia memang sengaja ingin mengalihkan pandangan tamunya, agar kembali fokus dengan tujuan utamanya.


Riki dan Rosa pun hanya menganggukkan kepalanya. Karena mereka pun tau, bagaimana seharusnya mereka memerankan sandiwara masing-masing.


Namun, Kimberly yang merasa tidak nyaman. Kini kembali merengek dan meminta Audrey untuk membersihkan gaunnya yang terasa lengket.


"Mommy, Cimmy tidak bisa makan dengan tenang jika baju Cimmy basah dan lengket seperti ini." rengek gadis kecil itu lagi.

__ADS_1


Audrey pun langsung meminta izin kepada semua orang yang berada di sana, dan menggandeng tangan mungil itu agar mengikuti langkahnya.


***


"Mommy?" panggil Kimberly saat melewati sebuah lorong menuju ke kamar mandi Cafe itu.


"Hem! Iya, Sayang. Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Audrey dengan suara lembut.


Sesaat kemudian Kimberly masih terdiam dengan pandangan lurus ke depan. Namun, tak berselang lama kemudian dia kembali menoleh ke arah Ibunya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.


"Mengapa Cimmy merasa sangat tidak nyaman, saat ada Uncle Aaron? Bahkan sejak tadi dia juga memperhatikan Mommy?" tanya Kimberly dengan polosnya.


Tetapi sebelum Audrey menjawab pertanyaan dari putrinya. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan ucapan putrinya, sehingga membuat dia menghentikan langkahnya.


"Em, Mommy? Maafkan, Cimmy! Karena tadi Cimmy memang sengaja menyenggol lengan Kakak itu, agar minuman itu tumpah dan mengenai Cimmy. Sebenarnya Cimmy tidak suka saat Uncle Aaron terus menerus menatap Mommy." celetuk Kimberly dengan suara yang semakin merendah.

__ADS_1


__ADS_2