Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
23. Suara bariton


__ADS_3

"Wah, ada apa ini? Apakah aku tertinggal dari sebuah acara? Mengapa kedua gadisku saling berpelukan? Apakah aku boleh bergabung?" goda Reyhan.


Sosok pria matang yang selalu menjadi dambaan setiap wanita, kini tiba-tiba muncul dari pintu utama. Audrey dan Kimberly kemudian langsung melepaskan pelukan mereka.


Kimberly yang merasa terganggu dengan kedatangan pamannya, kini memberikan lirikan tajam kepada pria tersebut. Sedangkan satu pria juga datang dan mengekor di depannya, ia pun turut menggoda kedua wanita beda usia itu.


"Apakah Uncle juga boleh ikut, gadis manis?" tanya Faishal sambil mengerlingkan mata kepada Kimberly.


Ya, kedua pria matang yang baru saja datang adalah Reyhan dan Faishal. Kedua Kakak beradik itu saat ini sedang ingin menggoda keponakannya.


"Huh?! Kenapa Kakak Mommy selalu datang di saat yang tidak tepat sih?" gerutu gadis kecil itu.

__ADS_1


Audrey yang mendengar keluhan putrinya, kini langsung membulatkan matanya. Dia pun merasa sangat terkejut dengan sikap dan ucapan putri semata wayangnya.


Tanpa disangka, kini Kimberly justru berlari ke arah kamarnya sambil menghentakkan kakinya. Reyhan dan Faishal yang melihat kepergian Kimberly, kini saling beradu pandang.


"Ada apa, Baby? Mengapa kesayangan ku merajuk seperti itu? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Reyhan yang saat ini merasa kebingungan.


Audrey yang masih menatap kepergian putrinya, kini hanya menghela napas panjang sambil mengedikkan bahu. Wanita itu pun juga belum mengerti, mengapa putrinya menjadi sangat sensitif?


"Entahlah. Coba kita tanyakan bersama-sama kepada Ibu dan Fani. Karena tadi Cimmy pergi bersama dengan mereka. Dan aku yakin, jika tadi telah terjadi sesuatu di sana," ucap Audrey sambil berjalan ke arah kedua kakaknya.


"Ibu, Fani?" panggil Reyhan. Rosa yang menyadari tatapan dari ketiga anaknya, kemudian memberikan isyarat kepada ketiganya agar duduk di sampingnya.

__ADS_1


Fani yang sedikit merasa gugup, perlahan menjauh. Namun, gerakannya kini disadari oleh Reyhan. Dan pria matang itupun kemudian menghentikan langkah kecil Fani.


"Fani, tunggu! Kamu tetap di sini, dan jangan pergi sebelum kami memintanya!" titah Reyhan. Fani yang tiba-tiba mendengar suara bariton itu seketika terpaku dan membeku di tempat. Gadis itu saat ini hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menautkan kedua tangannya.


Karena setiap kali dia mendengar suara bariton itu, dia sama sekali tidak berani untuk menatapnya. Bahkan saat berbicara dengannya pun pandangannya selalu saja ke bawah.


"Ba-baik, Tuan," ucap Fani sambil terbata.


Rosa yang melihat perubahan raut wajah Fani, kini langsung bangkit dari tempat duduknya dan membawa gadis itu untuk duduk di sebelahnya.


Meskipun hubungan mereka hanya sebatas pembantu dan majikan, tetapi Rosa sudah menganggap Fani seperti putrinya sendiri. Rosa melakukan itu karena ingin melihat sosok putrinya yang telah hilang tanpa kabar selama tujuh tahun lamanya.

__ADS_1


"Duduklah di sini, Fani! Dan jangan menolak lagi perintahku!" tegas Rosa, yang memaksa Fani agar bersedia untuk duduk di sampingnya. Fani pun hanya bisa pasrah dan menuruti perintah dari Nyonya besarnya. Mulutnya saat ini seperti terkunci, setelah dia mendapati kehadiran sosok pria yang sangat dia kagumi, atau lebih tepatnya telah berhasil mengambil separuh hatinya.


"Mengapa aku bisa se-gugup ini saat berada di dekatnya?" batin Fani.


__ADS_2