Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
92. Bayi Besar


__ADS_3

"OMA? OPA? I MISS YOU SO MUCH!" pekik Kimberly saat melihat sepasang suami-isteri paruh baya yang saat ini sedang duduk di ruang keluarga.


Keduanya pun langsung menyambutnya dengan senyuman yang mengembang. Bahkan sosok wanita yang saat ini sedang duduk di seberang pasangan itu pun di acuhkan oleh- gadis manis yang baru saja tiba.


"Baby? Kamu tidak merindukan uncle dan aunty?" protes Reyhan yang masih melihat ketiganya saling berpelukan.


Kimberly yang melihat raut wajah pamannya mulai kusut, perlahan gadis itu langsung berbalik ke arah Reyhan dan Fani berada.


"Memang uncle juga merindukan aku?" protes balik Kimberly sambil berkacak pinggang.


SKAK!


Reyhan hanya bisa melongo saat melihat sikap dewasa yang tiba-tiba muncul dari sosok gadis manis itu.


"Baby, i Miss you so much! Uncle sangat, sangat merindukanmu, Baby. Come on, hug uncle!" pinta Reyhan sambil merentangkan tangannya.


Namun tanpa di duga, Kimberly justru memeluk Fani yang saat ini hanya menyimak perdebatan antara Paman dan Keponakan itu.


"Eh?!"


"Lho, kan yang minta dipeluk uncle, bukan aunty." protes Reyhan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Biarin. Cimmy memang sengaja. Karena hanya Kak Fani yang selalu merindukan aku, Uncle Rey. Dan jika Uncle merindukan aku, pasti Uncle akan mengunjungi ku di mansion Daddy." celetuk Kimberly.


Reyhan yang mendapatkan SKAK MAT dari keponakannya, justru semakin dibuat jengkel. Gadis kecil yang seharusnya masih polos dan lugu dengan mudahnya membalikkan ucapan orang yang lebih dewasa darinya.


"Jangan protes! Dan jangan merusak mood ku malam ini, Uncle Rey!" titah gadis kecil itu dengan tatapan mata tajam.


Sedangkan Reyhan yang baru saja ingin membuka mulutnya untuk menjelaskan semuanya, kini langsung menutup rapat kembali.


'Astaga! Dulu Audrey ngidam apa sih? Bisa-bisanya gadis sekecil ini bisa membolak-balikkan ucapan orang dewasa.' gerutu Reyhan dalam hati.


"Oh... Ya, Uncle. Jangan membatin apapun, karena Cimmy tau apa yang saat ini ada di dalam pikiran dan hati Uncle!" titah Kimberly lagi.


'Astaghfirullah! Ini gadis keturunan cenayang atau apa sih. Menjengkelkan sekali.' batin Reyhan lagi.


Gadis kecil itu kini langsung asyik dengan bibinya. Bahkan saat kedua orangtuanya datang pun dia sama sekali tidak menoleh kepada mereka.


"Assalamu'alaikum, semua? Maaf, kami datang terlambat malam ini." sapa Aaron dengan sopan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." jawab mereka serentak.


"Tidak, Aar. Kami juga baru sampai kok dan lihatlah! Putrimu langsung nempel pada bibinya. Padahal pamannya juga ada di sebelahnya." ujar Riki sambil terkekeh.


Audrey yang masih merasa sedikit canggung dengan keluarganya sendiri, kini justru hanya mengekor di belakang suaminya untuk menyalami mereka.


"Bagaimana kabar kalian, Nak? Semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Rosa sambil memeluk putri kesayangannya.


"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Bu." jawab Audrey dengan seulas senyum.


Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya mereka makan malam bersama setelah para pelayan memberitahukan jika semua makanan sudah tersaji di atas meja.


Kimberly yang masih bersikap manja kepada bibinya, justru membuat Reyhan merasa iri karena posisinya tergeser oleh gadis kecil itu.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Aaron dengan penuh perhatian.


"Aku mau gurame bakar saja, Kak." jawab Audrey.


Secepat mungkin pria dewasa itu langsung meraih gurame bakar yang berada di depan Kakak iparnya.


Reyhan yang melihat perhatian itu kini langsung mengulum senyum, karena Aaron bisa membahagiakan adik perempuannya.


"Sayang, apa kamu mau aku suapi?" tawar Aaron.


Sebenarnya Audrey ingin menolaknya, tetapi saat mengingat kembali jika pria pemaksa itu sudah mengancamnya. Jadi mau tidak mau, dia harus menurutinya.


"Iya, Kak." jawab Audrey.


Aaron pun langsung tersenyum penuh kemenangan, karena ancamannya berhasil membuat wanitanya takluk saat berada di tengah-tengah keluarganya.


Reyhan yang selalu melihat perhatian-perhatian yang ditujukan oleh adik iparnya, justru semakin merasa sangat lega.


"Sayang, apakah kamu tidak ingin menyuapi bayi besarmu?" rengek Reyhan saat melihat istrinya sedang menyuapi keponakannya.


Uhuk...


Uhuk...


Uhuk...

__ADS_1


Tiba-tiba Riki dan Audrey yang sedang menikmati makanannya langsung tersedak saat mendengar rengekan seorang Reyhan.


"Minum dulu, Sayang! Pelan-pelan saja." pinta Aaron sambil menyodorkan satu gelas air putih kepada istrinya.


Rosa pun juga melakukan hal yang sama seperti menantunya.


"Ini, Yah. Minum dulu. Makan pelan-pelan saja." ucap Rosa dengan suara lembut.


Fani yang mendapati sikap manja suaminya, seketika tertegun dengan mata yang membola sempurna.


"Kak Rey mau aku suapi juga?" tanya Fani dengan polosnya.


Reyhan yang mendapatkan pertanyaan dari istrinya, kini langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.


Setelah mendapatkan jawaban dari suaminya, kini wanita itu langsung menoleh ke arah gadis kecil yang saat ini masih menantikan suapan selanjutnya.


"Ya sudah. Aku kan sudah besar dan sudah mau sekolah. Jadi aku harus mengalah dengan bayi besar Kak Fani." sewot Kimberly.


Fani yang melihat perubahan sikap gadis kecilnya, hanya bisa menghela napas panjang. Karena dia juga tidak ingin menolak keinginan suaminya.


"Maaf ya, Sayang!" pinta Fani yang merasa tak enak hati.


Senyuman Reyhan pun langsung mengembang saat melihat istrinya yang akan menyuapinya. Bahkan disaat mengunyah pun senyuman penuh kemenangan itu sama sekali tidak pudar.


Audrey dan Aaron saling beradu pandang, begitu juga dengan Riki dan Rosa yang sedang melakukan hal yang sama.


Namun semua itu tidak membuat mereka marah ataupun protes, justru semua itu membuat keempat orang itu tersenyum penuh kebahagiaan.


Kalau ada yang bertanya dimana Faishal berada. Saat ini dia masih berada di Kantor, karena Kakak sulungnya masih menikmati masa cutinya sebagai pengantin baru.


"Aku yakin, pasti saat ini mereka sedang bersenang-senang. Sedangkan aku masih berpusing-pusing ria dengan berkas-berkas ini." keluh Faishal sambil memijit pelipisnya.


"Kita lihat saja, Kak Rey. Kalau nanti aku menikah, maka aku akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan kepadaku. Agar kamu tau, bagaimana rasanya menikmati berkas-berkas yang menumpuk setinggi gunung ini." gerutu Faishal.


Seorang gadis yang melihat atasannya sedang mengeluh, kini hanya bisa melipat bibirnya ke dalam. Sejujurnya gadis itu ingin menertawakan bos-nya yang terlihat sangat kusut.


'Ya ampun, ternyata begini sikap Pak Faishal saat pusing dengan pekerjaannya. Padahal aku juga membantunya saat ini. Apakah dia tidak melihatku yang saat ini sedang membantunya?' batin gadis itu.


Kedua orang itu akhirnya hanya fokus pada berkas-berkas yang masih tertata rapi di meja kerja milik Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2