
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu sadar juga, Sayang." ucap Aaron sambil memberikan kecupan lembut di kening istrinya.
Audrey yang baru saja sadar, kini langsung mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Wanita itu pun merasa kebingungan dengan tempat yang sangat asing baginya.
"Aku dimana, Kak? Awh!" tanya Audrey sambil memegangi kepalanya yang masih merasa pusing.
Aaron yang melihat wajah istrinya sedikit terlihat pucat langsung memberikan senyuman kecil kepada wanita itu.
"Kamu ada di Rumah Sakit, Sayang. Tadi saat kamu keluar dari kamar kecil, tiba-tiba kamu langsung pingsan. Dan kami pun langsung membawamu kemari." jelas Aaron.
Audrey pun kembali mengingat tentang kejadian saat masih berada di bandara. Memang benar jika saat keluar dari kamar kecil kepalanya langsung merasa sangat pusing, dan setelah itu dia sama sekali tidak mengingat apapun lagi.
"Tetapi kamu tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu harus segera sehat, agar keempat orangtua kita tidak merasa cemas. Dan aku juga tidak ingin kamu seperti ini, Sayang." harap Aaron sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Jadi Mommy dan Daddy tidak jadi berangkat ke Eropa, Kak? Dan semua ini gara-gara aku?" tanya Audrey sambil menatap lekat wajah suaminya.
Aaron pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika dugaan istrinya memang benar. "Iya, Sayang. Daddy yang langsung memberikan perintah kepada orangnya untuk membatalkan keberangkatannya beberapa hari kedepan." jelas Aaron.
Audrey kini menjadi resah, karena dia merasa tidak enak hati dengan mertuanya yang harus membatalkan keberangkatannya hanya demi dirinya.
"Maafkan aku, Kak! Jika saja tadi--"
"Ssttt! Sudah. Jangan terlalu dipikirkan tentang mereka, Sayang. Apalagi kamu sampai merasa tak enak hati kepada mereka. Satu yang harus kamu tau, jika mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Sehingga mereka membuat keputusan itu sendiri secara langsung." potong Aaron sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir pucat istrinya.
Wanita itu kini memilih untuk diam tanpa ingin membantah ucapan suaminya. Meskipun sebenarnya dia sangat ingin mengatakan jika dia tidak ingin merepotkan semua keluarganya, termasuk mertuanya.
Di saat Audrey sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba kenop pintu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita yang beberapa waktu selalu menemaninya.
"Mommy?" panggil Audrey lirih.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu sudah sadar, Sayang." ucap Ameera dengan suara lembut.
Wanita itu langsung menghampiri menantu kesayangannya dan segera menggeser tempat putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Apakah ada sesuatu yang kamu rasakan, Sayang? Apa masih ada yang sakit atau--"
"Mom, jangan berlebihan deh! Lihat saja. Setelah istriku melihat wajah tampanku, dia langsung sembuh." potong Aaron.
Ameera pun langsung mendengus dan merasa kesal, karena putranya telah lancang memotong ucapannya.
"Dasar, anak nakal! Lebih baik kamu panggil Dokter ke sini daripada menggangu waktu kami." ketus Ameera.
Aaron yang tidak ingin terlibat perdebatan dengan Ibunya. Pria itu memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan bergegas untuk memanggil Dokter yang menangani istrinya.
Pria itu berjalan sambil mengerucutkan bibirnya. "Seandainya saja dia bukan Mommy ku, pasti sudah habis ditanganku." gerutu Aaron sambil melenggang pergi keluar.
Ameera yang tidak mengindahkan ucapan putranya, kini hanya memilih untuk fokus pada menantunya yang masih terbaring lemah di atas ranjang Rumah Sakit.
"Coba jelaskan apa yang kamu rasakan sekarang, Sayang?" tanya Ameera.
Akhirnya Audrey langsung menjelaskan semua yang dia rasakan kepada Ameera. "Kepala pusing, perut mual, badan lemas, dan.... tunggu, Mom! Ini tanggal berapa?" celetuk Audrey sambil membelalakkan matanya.
Ameera yang baru saja memikirkan sesuatu, kini langsung tersadar kembali dari lamunannya. "Ini tanggal 26, Sayang. Ada apa?" ujar Ameera.
Audrey pun langsung membungkam mulutnya dengan satu tangannya. 'Bukankah aku sudah terlambat datang bulan. Apakah itu artinya?'
Tiba-tiba pikiran Audrey berkecamuk setelah membayangkan sesuatu yang belum seratus persen dia yakini. Tetapi sebelum dia melihatnya sendiri, dia tidak ingin terlalu banyak berharap.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ameera yang langsung kebingungan dengan sikap terkejut Audrey.
"Ti-tidak, Mom. Tidak apa-apa." kilah Audrey.
Bukannya Audrey ingin merahasiakan sesuatu dari Ibu mertuanya, tetapi dia juga tidak ingin memberikan harapan palsu kepada wanita yang sudah menganggapnya seperti putri kandungnya sendiri.
CEKLEK!
Pintu pun terbuka kembali dan menampilkan sosok dua pria. Satu pria yang saat ini masih berada di tahta tertinggi di dalam hatinya, sedangkan satu pria yang memakai jas Dokter itu entah siapa. (Yang pastinya Dokter tampan dong, Drey. Piye to?" hehehe)
__ADS_1
Dua pria itu pun berjalan beriringan menuju ke arah tepi ranjang Audrey. Dokter yang datang pun langsung memasang stetoskopnya untuk memeriksa keadaan pasiennya.
"Bagaimana, Drew? Apakah istriku baik-baik saja?" tanya Aaron sambil menatap wajah Dokter tampan itu.
"Sebentar, Aar. Aku periksa dulu. Kebiasaan deh kamu tuh!" ketus Dokter tersebut.
Entah ada hubungan apa antara Dokter tampan itu dengan Aaron. Saat ini Audrey hanya bisa menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu kepada suaminya.
'Mengapa mereka sangat terlihat akrab sekali? Apakah mereka saling mengenal?' batin Audrey sambil menerka-nerka.
Pria posesif dan arogan itu pun langsung bungkam saat melihat wajah Dokter itu, seperti sedang menyalakan api peperangan kepadanya.
'Seandainya saja dia bukan Dokter yang menangani istriku, pasti sudah ku hajar kamu, Drew!' umpat Aaron dalam hati.
"Maaf, Nyonya! Apa yang Anda rasakan saat ini? Apakah ada keluhan yang dirasakan?" tanya Dokter tampan itu dengan suara lembut.
"Jaga mata kamu, Andrew! Awas saja kalau kamu sampai tertarik dengan istriku! Ku colok mata itu dengan jariku." ancam Aaron.
Dokter tampan yang bernama Andrew Bagaskara, kini justru mengacuhkan ancaman dari pria di sampingnya. Bahkan dengan sengaja dia memegangi tangan dan perut Audrey, meskipun sebenarnya dia juga sedang memeriksanya.
"Ish! Kenapa kamu tidak mendengarkan ucapanku, Drew? Dasar, mata keranjang!" umpat Aaron.
Andrew pun langsung mendelik ke arah Aaron saat mendengar umpatan yang dilontarkan oleh suami pasiennya.
"Kenapa kamu berisik sekali sih, Aar? Istrimu mau diperiksa atau tidak?" sewot Andrew.
Ameera yang melihat perdebatan kedua pria dewasa itu langsung berdiri sambil berkacak pinggang, karena wanita itu sudah merasa jengah dengan perdebatan konyol yang dilakukan oleh mereka.
"Bisakah kalian tidak bertindak konyol seperti anak kecil, huh?!" bentak Ameera.
GLEK!
'Singa betina mengamuk.' batin kedua pria itu.
__ADS_1
"Jika Anda tidak ingin memeriksa menantu Saya. Maka Saya akan mencari Dokter lain yang bersedia untuk memeriksanya, daripada Saya harus mendengarkan perdebatan konyol kalian!" tegas Ameera.
Akhirnya kedua orang itu pun terdiam dan mencoba untuk bersikap profesional. Apalagi saat ini mereka sedang berhadapan dengan singa betina yang sedang mengamuk.