Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
45. Rapuh


__ADS_3

"Sadarlah, Sayang! Oma tidak ingin melihat mu seperti ini. Oma ingin melihat mu selalu tersenyum dan ceria." pinta Rosa.


Audrey yang melihat betapa pentingnya gadis kecil itu untuk keluarga Wijaya. Membuat Ibu muda itu semakin merasakan dilema. Di saat dia ingin membuat putrinya bahagia dengan keluarganya yang lengkap. Namun di lain pihak, keluarganya menentang keras keputusan yang telah dia ambil. Bahkan hingga saat ini, keluarganya masih saja mendiamkan dan mengacuhkannya.


"Ayah, maafkan aku jika telah membuat kalian semua kecewa. Sejujurnya aku hanya ingin-"


"Jangan mengatakan apapun untuk saat ini, Nak! Saat ini kami hanya ingin melihat gadis kecil ini sembuh dan sehat kembali. Karena dialah sumber kebahagiaan kami, setelah cahaya di rumah itu redup." potong Riki sambil menatap ke arah ruang rawat cucunya.


Reyhan dan Faishal pun juga masih bungkam dan enggan untuk menemani adik perempuan mereka. Kekecewaan mereka saat ini, membuat kakak beradik itu selalu menghindari adik perempuan mereka.


"Kak-"


Saat Audrey mencoba untuk kembali mendekati kedua kakaknya. Tiba-tiba kedua pria itu langsung beranjak dan meninggalkan keluarganya.


"Ayo ikut aku, Fai!" titah Reyhan kepada Faishal.

__ADS_1


Faishal yang melihat betapa kecewanya kakak sulungnya, membuat pria itu terpaksa mengikuti perintah dari kakaknya.


'Maafkan Kakak, Sayang! Bukan maksud Kak Fai ikut menjauhi mu. Kakak terpaksa ikut melakukan ini, agar kamu tau betapa pentingnya kalian di dalam hidup kami.' batin Faishal.


"Mengapa kalian semua mengacuhkan aku? Apa aku salah jika ingin membuat putriku bahagia?" keluh Audrey sambil menyandarkan punggungnya di dinding.


Riki yang sejak tadi melirik ke arah putrinya, kini sedikit merasa iba. Tetapi dia telah bertekad untuk tidak goyah dengan buliran bening putrinya.


Meskipun sejujurnya di dalam hatinya, dia sangat ingin memeluk dan menguatkan putri kesayangannya.


Dengan langkah gontai, Audrey kembali berjalan ke arah ruang rawat putrinya. Wanita muda itu, sesekali juga menoleh ke arah sang Ayah yang masih bersikap acuh kepadanya.


'Mengapa Ayah juga tidak bisa mengerti, apa yang aku inginkan sebenarnya?' batin Audrey.


Ceklek!

__ADS_1


Perlahan kepala wanita muda itu menyembul saat pintu terbuka. Perlahan langkah kakinya mulai mendekat ke arah tepi ranjang. Wanita muda itu pun bisa melihat betapa besar kasih sayang seorang Nenek kepada cucunya.


"Bu,......"


"Ssttt! Jangan berisik! Cucuku baru saja terlelap, jadi aku mohon jangan membuat keributan untuk saat ini." pinta wanita paruh baya itu.


Seketika bibir wanita muda itu pun mengatup rapat, saat mendengar permintaan dari Ibunya. Kedatangannya pun saat ini sama sekali tidak membuat Ibunya sedikitpun menoleh ke arahnya.


Padahal saat ini, wanita muda itu sangat berharap jika Ibunya bisa menjadi tempat sandaran dan keluh kesahnya. Tetapi sepertinya dia salah.


Karena kedatangan Audrey sama sekali tidak dipedulikan oleh Rosa. Audrey pun langsung tersenyum getir dengan buliran bening yang masih membasahi pipinya.


'Sebenci itu kah kalian kepadaku? Sehingga untuk sekedar menoleh sedikit saja kalian tidak bisa melakukannya?' batin Audrey lagi.


Saat ini wanita muda itu benar-benar terlihat rapuh dan dalam sekejap dunianya menjadi redup kembali.

__ADS_1


'Tuhan, tolong bantu aku agar bisa membuat keluarga ku kembali mempercayaiku!'


__ADS_2