Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
73. Bukan pelampiasan


__ADS_3

Senja pun tiba, kini sang Surya tenggelam dan meninggalkan secercah cahaya jingga sebagai penyambut malam gelap gulita. Kelap-kelip bintang dan lampu di tepi jalan, kini menjadi cahaya dan penerang untuk manusia yang masih melakukan aktivitasnya.


***


"Kak, apakah kamu yakin dengan keputusan yang telah kamu lakukan? Kamu tidak berpikir, jika Fani hanya akan menjadi pelampiasan mu saja kan?" tanya Faishal dengan penuh selidik.


Faishal yang masih mencurigai Kakaknya, kini terus saja mengawasi dan mencecar berbagai pertanyaan kepada calon pengantin itu.


"Ya. Aku yakin dengan keputusanku, dan aku tidak akan pernah menjadikan dia sebagai pelampiasan saja. Karena aku sudah meyakinkan diriku, jika aku akan mencoba untuk membuka hatiku untuk wanita lain. Dan wanita yang menjadi pilihan ku adalah Fani Setyaningrum." jelas Reyhan dengan tegas.


Faishal yang masih mencoba untuk menelisik dan mencari kebohongan dari kakaknya, kini sama sekali tidak menemukan hal itu.


"Okey! Aku akan pegang ucapan Kak Rey, dan jika Kak Rey sampai mempermainkan dan menyakiti Fani. Maka aku akan merebut gadis itu, meskipun nanti dia sudah menjadi bekasmu." ucap Faishal dengan seringai licik.


Reyhan pun langsung mendelik dengan ucapan adik laki-lakinya. Bahkan pria itu tidak pernah menyangka, jika adiknya bisa seberani itu untuk mempermainkan emosinya.


Ya, meskipun sebenarnya dia akui, jika sifat Faishal memang masih seperti anak-anak yang suka menguras emosi dan perasaan orang lain.

__ADS_1


"Berhentilah untuk menggodaku, Fai! Atau kamu akan tau sendiri akibatnya!" ancam Reyhan.


Tok...


Tok...


Tok...


"Masuk!" titah Reyhan.


Perlahan pintu pun terbuka dan terlihat seseorang yang menyembul dari balik pintu itu. Kedua pria yang sedari tadi sedang melakukan perdebatan kecil, seketika mereka pun langsung bungkam dan suasana pun langsung mencekam.


"Kak Rey?"


Faishal yang masih bergeming di tempat, hanya bisa menatap Kakak beradik itu secara bergantian. Dia sengaja tidak pergi dari kamar itu, karena dia tidak ingin kecolongan lagi untuk kedua kalinya.


Meskipun dia juga tau, jika adik perempuannya kini sudah berstatus sebagai istri dari pemilik Rich's Company.

__ADS_1


"Kak Rey?" panggil Audrey lagi.


Reyhan pun masih bergeming dan terus menerus menatap adik perempuannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun tatapan itu seperti tidak dihiraukan oleh wanita muda itu, karena dia terus saja melangkah ke depan dan menghampiri Kakak sulungnya.


Namun, saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah saja. Dengan cepat Reyhan langsung menghentikan langkah kaki adik perempuannya.


"STOP! Jangan mendekat lagi, Drey! Lebih baik sekarang kamu keluar dari kamar ini, sebelum aku kembali melakukan kegilaan kepadamu!" usir Reyhan dengan tegas.


Audrey pun langsung tertegun dengan ucapan Kakak sulungnya yang langsung mengusirnya keluar dari kamar tersebut.


"Kak Rey mengusirku? Apa hanya sampai disini persaudaraan kita, Kak? Apa hanya sampai disini rasa sayangmu kepada seorang adikmu? Jawab aku, Kak?" cecar Audrey dengan mata yang mulai berembun.


Tetapi nihil. Reyhan lebih memilih bungkam sambil membuang wajahnya dan memilih untuk menahan gejolak amarahnya yang mulai hadir kembali.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari Kakak sulungnya, kini wanita itu perlahan kembali mengayunkan kakinya ke arah pria dewasa itu.


"JAWAB, KAK REY?!" pekik Audrey.

__ADS_1


"BERHENTI, DREY!" titah Reyhan saat melihat adiknya yang semakin mendekat ke arahnya.


__ADS_2