
Tok...
Tok...
Tok...
"Buka pintunya, Rey! Mengapa kamu harus mengunci pintunya? Apa yang kamu lakukan lagi kepada Fani?" pekik Riki yang terus menggedor pintu kamar Fani.
Reyhan yang masih bergeming dan masih memeluk erat tubuh gadis itu, kini sama sekali tidak mengindahkan panggilan dari orangtuanya.
"Kalau kamu tidak mau membuka pintunya. Jangan salahkan Ayah, jika akan mendobrak pintu ini, Rey!" pekik Riki yang memperingatkan putra sulungnya.
Namun semua ancaman dan gertakan dari pria paruh baya itu sama sekali tidak membuat Reyhan melepaskan pelukan itu, meskipun Fani sudah memberontak agar terlepas dari jeratan pria arogan itu.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Fan! Karena janji dan ucapan ku tidak pernah ku ingkari." tegas Reyhan.
CUP!
BRAK!
Tepat di saat Reyhan mencium lembut kening Fani. Pintu pun terbuka setelah di dobrak oleh Riki. Mereka yang menyaksikan kejadian di depannya, kini hanya menatap keduanya yang masih saling berpelukan.
__ADS_1
"Lepaskan, Tuan! Di sini banyak orang." bisik Fani.
Saat masih dalam posisi memeluk Fani, pria dewasa itu justru memperlihatkan keintiman hubungannya dengan gadis muda itu.
"Apakah kalian tidak pernah muda, sehingga harus mengganggu sepasang kekasih yang sedang merajut cinta?" sindir Reyhan.
Riki, Rosa dan beberapa orang yang menjadi saksi mata, kini langsung gelagapan dan salah tingkah. Ternyata prasangka dan dugaan mereka salah.
"Em.. Maaf Rey! Ayah kira kamu melakukan kesalahan yang fatal lagi. Kalau begitu kalian lanjutkan saja, dan kami akan menunggu kabar bahagia dari kalian." ucap Riki.
Namun, sebelum Riki dan Rosa meninggalkan pasangan muda-mudi itu. Dia langsung membalikkan badannya, dan kembali mengatakan sesuatu kepada mereka.
"Oh, iya. Setelah urusan kalian selesai. Ayah dan Ibu menunggu kalian di tempat biasa." ucap Riki lagi.
Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut, kini juga membubarkan diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.
Kini hanya tinggal Reyhan dan Fani yang masih saling berpelukan. Jarak diantara keduanya kini juga sangat dekat dan sedikit intim.
"Semuanya sudah pergi, Tuan. Jadi sekarang lepaskan tolong Saya!" pinta Fani.
Reyhan yang masih bergeming dan menatap lekat wajah gadis muda itu, kini langsung menyadari jika gadis di depannya terlihat sangat cantik dan manis sekali.
__ADS_1
"Cantik." puji Reyhan yang masih terus menatap lekat gadis itu.
"Tu-an, lepaskan Saya! Saya mau--"
"Jangan pernah mengatakan jika kamu ingin pergi dari rumah ini, Fan! Karena hari ini juga kita akan menikah." tegas Reyhan.
Fani yang mendengar ucapan Reyhan, seketika terperangah dengan mata yang membola sempurna. Gadis itupun seperti sedang bermimpi, saat sang pujaan hatinya mengatakan ingin menikahinya.
"A-APA?!" pekik Fani.
"Ya. Dan sebaiknya kita segera pergi menemui Ayah dan Ibu, karena saat ini mereka pasti sudah menunggu kita." ucap Reyhan.
Kini gadis itu hanya mengikuti langkah kaki pria arogan yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar.
'Ya ALLAH, apakah saat ini aku sedang bermimpi? Jika benar ini hanya mimpi, tolong jangan bangunkan aku terlebih dahulu.' batin Fani.
Setelah sampai di depan kedua orangtuanya, dengan penuh percaya diri dia masih menggandeng tangan Fani, tanpa berniat untuk melepaskannya.
Entah bagaimana kisah perjalanan mereka nanti, saat ini Reyhan hanya ingin menepati janjinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Baiklah. Seperti yang Ayah inginkan jika malam ini selepas shalat Isya', aku akan menikahi Fani sebagai rasa tanggungjawab ku atas perbuatan yang aku lakukan kepadanya." ucap Reyhan yang langsung to the point.
__ADS_1
Namun, saat Riki hendak menanyakan sesuatu hal kepada Reyhan. Tiba-tiba seseorang datang dan membuat mereka mengurungkan niatnya.