
"Fan?!" panggil Reyhan lirih, sambil meraih tangan gadis itu.
Dengan cepat Fani langsung menepis tangan Reyhan, dan semakin mengeratkan pelukan kakinya. Suara isakan tangis pun masih terdengar, dan itu semua membuat Reyhan semakin merasa sangat bersalah.
Tap...
Tap...
Tap...
"Lho, ada apa ini? Mengapa kamar Reyhan terlihat sangat berantakan seperti ini? Apakah tadi kalian bertengkar?" tanya Rosa saat mencecar kedua putranya dengan berbagai macam pertanyaan.
Namun sebelum dia mendengar jawaban dari kedua putranya, tiba-tiba pandangannya teralihkan kepada sosok gadis yang berada di sudut ranjang.
Dan yang menjadi tanda tanya besar untuk mereka saat ini. Mengapa Reyhan juga duduk bersimpuh di depan gadis yang sangat mereka kenali?
"Apa yang sebenarnya terjadi, Fai? Apakah kamu bisa menjelaskannya?" tanya Rosa lagi sambil menghampiri putra keduanya.
__ADS_1
Faishal yang selalu berkata jujur kepada kedua orangtuanya, kini dengan terpaksa dia harus menceritakan semuanya kepada sepasang suami-istri itu.
"Baiklah. Faishal akan menceritakan semuanya kepada kalian. Tetapi sebelumnya berjanjilah, jika setelah mendengar cerita sekaligus penjelasan dariku, kalian tidak akan marah kepada Kak Rey!" pinta Faishal sambil menggenggam erat tangan Ibunya.
Karena rasa penasaran mereka, akhirnya Riki dan Rosa pun langsung menganggukkan kepala.
"Baiklah. Kami berjanji." ucap Rosa dan Riki secara bersamaan.
Faishal yang sedikit merasa lega, kini langsung menceritakan semuanya secara terperinci dari awal yang dia lihat tadi.
Faishal sengaja menggantungkan ucapannya sambil melirik ke arah Kakaknya. Sepertinya dia sedikit ragu untuk menceritakan kalimat selanjutnya kepada orangtua mereka.
"Tetapi apa, Fai? Jelaskan semuanya kepada kami, agar kamu tidak salah paham!" pinta Riki.
Sebelum melanjutkan penjelasannya, Faishal menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, dan menghembuskan secara perlahan.
"Tetapi saat aku ingin melihat Kak Rey di dalam kamarnya. Tiba-tiba aku melihat pemandangan yang sangat mengejutkan, dan semua itu membuatku merasa sedikit kecewa kepada Kak Rey. Bagaimana tidak, Bu? Seandainya saja aku tidak datang tepat waktu, mungkin saat ini Fani sudah menjadi korban pelecehan Kak Rey." jelas Faishal.
__ADS_1
Rosa dan Riki yang mendengar penjelasan dari putra keduanya, kini langsung beradu pandang dengan mata yang membola sempurna.
"APA?! JADI REYHAN SUDAH MELECEHKAN FANI?" pekik Riki.
Pria paruh baya itu hendak beranjak dari duduknya, dan ingin segera menghampiri putra sulungnya yang masih bergeming di depan gadis itu.
"Tolong, jangan emosi dulu, Yah! Aku belum selesai menceritakan semuanya kepada kalian." pinta Faishal.
Riki pun langsung mengurungkan niatnya untuk melakukan sesuatu kepadanya putra sulungnya. Kemudian dia kembali mendengarkan penjelasan dari putra keduanya, sebagai saksi atas perbuatan putra sulungnya.
"Baiklah. Lanjutkan, Fai!" titah Riki dengan suara datar.
"Di saat aku datang, Kak Rey sedang mabuk berat dan yang dia lihat saat itu hanyalah Audrey. Bahkan saat Fani mencoba untuk meyakinkan jika dia bukan Audrey, Kak Rey sama sekali tidak mengindahkannya. Tetapi sebelum Kak Rey bertindak lebih jauh, aku langsung menyeret tubuh Kak Rey hingga tersungkur ke lantai. Setelah itu aku mengambil air satu gayung dan langsung mengguyurkan air itu kepada Kak Rey. Dan setelah itu, kesadaran Kak Rey berangsur-angsur pulih, seperti yang kalian lihat saat ini." jelas Faishal lagi sambil menatap lekat wajah kedua orangtuanya, yang masih terlihat syok.
Riki pun langsung menghela napas, karena sebelumnya dia sudah berpikir jika putranya telah melakukan pelecehan kepada gadis yang berstatus sebagai babysitter cucunya.
"Jika memang Reyhan sudah melakukan semua itu kepada Fani. Ayah sudah memiliki keputusan untuk kebaikan mereka." ucap Riki dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
__ADS_1