
Sesuai dengan janji Audrey, hari ini dia mengekor Reyhan untuk pergi ke kantor. Saat ini Kimberly sengaja dia tinggal bersama dengan Rosa dan Riki, agar ketiganya bisa menghabiskan waktu bersama, dan semakin lebih dekat lagi.
"Mommy? Jangan lama-lama ya perginya?" rengek Kimberly yang enggan ditinggal oleh sang Ibu tercinta.
"Iya, Honey. Mommy hanya sebentar saja kok perginya. Iya 'kan Om Rey?" ujar Audrey sembari menoleh ke arah Reyhan.
Kemudian Reyhan langsung menghampiri kedua wanita beda usia tersebut dan mengusap lembut puncak kepala keduanya.
"Yes, dear. so true. It won't take long, don't worry. Okay?" ucap Reyhan dengan suara lembut.
Akhirnya gadis kecil tersebut menganggukkan kepalanya dengan semangat. Lalu dia pun langsung berlari ke arah Oma dan Opa nya.
"Bye, dear? Do not be naughty? Don't bother Grandma and Grandpa?" ujar Audrey sambil melambaikan tangannya, begitupun dengan Reyhan.
Kimberly yang sudah berada di dalam pangkuan Riki, membalas lambaian tangan dari Audrey dengan seulas senyum manisnya.
Akhirnya kedua orang tersebut pun berlalu, meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.
"Lho, Kak Rey sama Audrey mana Ma, Pa?" tanya Fai yang baru saja keluar dari kamarnya, dan berjalan menuruni anak tangga.
"Lah? Kamu ditinggal sama kakak dan adik kamu, Fai? Mereka baru saja berangkat. Mungkin juga mereka baru keluar dari gerbang." ujar Rosa sambil menatap sang putra keduanya.
Faishal pun mendengus dan hanya bisa mengerucutkan bibirnya, saat dia mengetahui jika kakak dan adiknya telah pergi lebih dulu, tanpa memberitahunya.
"Oh, jadi sekarang aku sudah tidak dianggap oleh Kak Rey? Baiklah. Kalau begitu hari ini aku tidak akan pergi ke perusahaan. Biarkan dia saja hari ini yang mengerjakan semuanya. Dan bila perlu aku akan pindah ke cabang saja agar tidak bertemu dengan pria arogan itu lagi." cecar Faishal sambil mencebikkan bibirnya.
Sedangkan Rosa dan Riki saling beradu pandang, saat melihat putra keduanya memaki putra pertamanya. Kemudian tawa mereka pun langsung pecah di saat itu juga.
"Hahaha... Kenapa kamu seperti anak kecil begini sih, Fai? Apa kamu tidak malu dengan keponakan mu? Lihatlah, dia memandangi wajah mu yang lucu itu sejak tadi." goda Riki disela gelak tawanya.
Faishal pun langsung menyadari, jika gadis kecilnya saat ini sedang memperhatikan tingkahnya sambil menautkan kedua alisnya.
Perlahan Faishal mengayunkan kakinya untuk menghampiri gadis yang sangat menggemaskan itu.
Saat wajah mereka telah bersitatap, akhirnya Faishal langsung mengembangkan senyuman manisnya di depan gadis kecilnya.
"Hey, Baby? Bagaimana pagimu hari ini?" sapa Faishal sambil mengusap lembut puncak kepala Kimberly.
__ADS_1
"Sangat berwarna sekali pagi ini, Om Fai." cetus Kimberly sambil melipat kedua tangan, layaknya seorang wanita dewasa yang sedang berhadapan dengan prianya.
Faishal, Rosa dan Riki sedikit terperangah dengan jawaban gadis kecil itu. Bisa-bisanya seorang gadis kecil yang baru berusia enam tahun, memberikan jawaban seperti orang dewasa.
"Sangat berwarna? Kenapa begitu, Baby?" tanya Faishal yang belum bisa memahami apa maksud dari ucapan Kimberly.
Sedangkan gadis kecil itu hanya terdiam sambil mengedikkan bahunya. Dan sepasang suami-istri paruh baya tersebut, langsung tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Kejahilan cucu mereka.
Sungguh benar-benar sangat sempurna sekali keluarga Wijaya saat ini, setelah kehadiran kembali putri kesayangan, sekaligus cucu mereka.
***
"Lho, Kak Rey! Apa kakak yakin tidak melupakan sesuatu?" pekik Audrey, sehingga membuat Reyhan terkejut saat sedang mengemudikan mobilnya.
Sesekali Reyhan menoleh ke arah Audrey, sambil mengernyitkan keningnya. Dia sama sekali belum mengerti, apa yang di maksud oleh adik perempuannya.
"Melupakan sesuatu? Sepertinya tidak, Honey. Aku sudah membawa semuanya, dan aku yakin tidak ada yang tertinggal." ujar Reyhan dengan santainya.
Audrey pun berdecak, saat dia menyadari jika kakak keduanya tidak ada diantara mereka. Bahkan saat dia berpamitan tadi, dia pun sama sekali tidak mengingat salah satu kakaknya itu.
Setelah mendengar pertanyaan dari adik perempuannya, tiba-tiba Reyhan langsung teringat jika Faishal belum bersama dengan mereka. Kemudian dia langsung mengindal pedal remnya secara mendadak, sehingga membuat Audrey terhuyung ke depan.
Ckiiittt!!
"Astaga! Kak Rey! Apa Kak Rey ingin melukai ku?" protes Audrey dengan tatapan mata yang tajam ke arah Reyhan.
Reyhan pun langsung memukul benda yang berbentuk lingkaran tersebut. Untung saja jalanan masih lenggang dan sepi, jika tidak. Mungkin akan terjadi kecelakaan beruntun karena ulah dari Reyhan.
Kemudian Reyhan langsung mengambil benda pipihnya dari dalam saku, dan mencari nama adik laki-lakinya.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya panggilan video tersebut di jawab ole Faishal yang saat ini masih berada di kediaman Wijaya.
"Dasar bodoh! Mengapa kamu tidak ikut berangkat bekerja? Dan mengapa kamu masih berada di rumah saat ini?" maki Reyhan sambil menatap tajam ke arah Faishal.
Faishal yang masih bersikap santai, kini hanya mengarahkan kameranya kepada Ayah, Ibu dan Kimberly, tanpa menjawab pertanyaan sekaligus makian dari kakak laki-lakinya.
Reyhan yang melihat tingkah Adik laki-lakinya, hanya menepuk jidatnya. Karena dia telah memakai adik laki-lakinya dan di dengar oleh kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Fai? Cepat kamu berangkat dengan membawa mobilmu sendir! Apa kamu lupa, jika pagi ini kita akan mengadakan meeting yang sangat penting dengan Rich's Company?" titah Reyhan sambil menahan amarahnya.
"Baiklah, Kak Rey. Aku akan berangkat sekarang juga." ucap Faishal sambil mencebikkan bibirnya.
Sedangkan Rosa dan Riki yang mendengar perdebatan antara kedua putranya, hanya saling beradu pandang dan menggeleng-gelengkan kepala.
Bukan hanya sekali atau dua kali mereka berdua melakukan perdebatan seperti itu. Bahkan, hampir setiap hari kedua orang tersebut mendengarnya.
Di saat Faishal menggerutu, kini berbeda dengan Audrey yang sedang menatap Reyhan dengan tatapan mata tajam.
Tak terasa akhirnya Reyhan dan Audrey pun telah sampai di kantor pusat Wijaya Group. Reyhan pun langsung membukakan pintu untuk adik perempuannya, dan menggandengnya seperti sepasang kekasih.
Saat memasuki lobby, mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sana. Sehingga saat mereka mengayunkan kakinya untuk melewati beberapa karyawan. Beberapa karyawan diantaranya saling melontarkan pertanyaan kepada karyawan lainnya.
"Siapa yang bersama dengan Pak Reyhan ya? Apakah dia kekasihnya?"
"Iya, siapa sih dia? Terlihat mesra sekali. Jadi patah deh hatiku."
"Terlihat sangat serasi sekali. Laki-lakinya sangat tampan dan wanitanya sangat cantik."
"Dih! Siapa sih dia? Sok kecantikan banget? Berani banget sih dia deketin calon suami gue?"
"Sama sekali nggak cocok. Pak Reyhan mah lebih cocok sama gue!"
Banyak pertanyaan maupun sindiran yang keluar dari beberapa karyawan. Reyhan yang hendak menghampiri mereka, justru di tahan oleh adik perempuannya.
"Sudahlah, Kak. Biarkan saja. Toh, bukan salah mereka juga, karena mereka baru melihat ku di perusahaan ini." ucap Audrey saat menahan Reyhan agar tidak bertindak gegabah.
"Tapi, honey? Ucapan mereka tidak bisa ditolerir lagi. Apa mereka tidak tau, siapa yang saat ini sedang bersamaku?" cetus Reyhan dengan suara yang sedikit meninggi.
Beberapa karyawan yang mendengar ucapan Reyhan, hanya bisa menundukkan kepala. Apalagi mereka yang baru saja melontarkan sindiran yang tidak-tidak, kepada wanita yang bersama dengan putra sulung keluarga Wijaya.
"Biarkan saja, Kak. Mereka nanti juga akan mengetahuinya sendiri, tanpa kita harus menjelaskan satu persatu kepada mereka." ucap Audrey sambil mengusap lembut lengan Reyhan.
"Apa kalian dengar? Jika saja wanita kesayangan ku tidak mencegahnya, sudah habis kalian!" gertak Reyhan yang di selimuti oleh rasa amarah.
"Ada apa ini?"
__ADS_1