Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
61. Rencana Riki


__ADS_3

BYUURR!


PLAK! PLAK!


Setelah mengguyur tubuh putra sulungnya, Riki pun memberikan dua tamparan keras di kedua pipi putranya. Rasa kecewanya kini semakin menjadi-jadi, karena semakin hari semakin membuat dia sangat muak.


"Bangun, Reyhan! Buka mata kamu!" titah Riki dengan tegas.


Reyhan yang merasakan perih dan kebas di kedua sisi wajahnya, kini hanya meringis sambil menatap tajam ke arah sang Ayah.


"Apa dengan cara seperti ini, kamu melampiaskan semuanya, huh?!" gertak Riki dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal kuat.


Reyhan pun hanya terdiam sambil menyeringai. Pria dewasa itu sama sekali tidak peduli dengan ucapan atau gertakan dari Ayahnya. Bahkan dia juga menatap remeh Ayahnya, saat hendak mengayunkan tangannya kembali.


"Ckk! Apa Ayah pikir aku akan merasa takut dengan gertakan yang Ayah lakukan?" tanya Reyhan sambil berdecak.


Faishal yang juga melihat perubahan drastis Kakaknya, kini juga ikut tersulut emosi. Pria itu merasa jika rasa hormat sang Kakak kepada Ayah mereka, seperti menghilang begitu saja.


"Kak Rey! Mengapa Kakak bisa berubah seperti ini? Apa semua ini karena Audrey, huh?! Ingat, Kak! Audrey itu adik kandung kita, adik kesayangan kita yang seharusnya kita jaga. Bukan seperti Kakak, yang terobsesi kepada adik sendiri!" gertak Faishal sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Reyhan yang masih belum sepenuhnya sadar, kini semakin tertawa lepas saat mendengar ucapan adik laki-lakinya. Bahkan telinganya saat ini sengaja dia tulikan, agar ucapan-ucapan itu tidak bisa masuk ke dalamnya.


"Hahaha... Apa yang kamu katakan tadi, Fai? Ingat, Fai! Sampai kapanpun, Audrey akan menjadi milikku seorang. Dan tidak akan pernah aku biarkan dia dimiliki oleh siapapun. Hahaha...." racau Reyhan sambil tertawa.


Riki yang semakin merasa sangat geram dengan ucapan putra sulungnya, kini hendak memberikan tamparan lagi. Namun Faishal langsung mencegahnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Ayah. Lebih baik kita tinggalkan Kak Rey sekarang. Karena jika kita terus menanggapinya saat ini juga percuma. Apakah Ayah belum menyadari, jika saat ini Kak Rey masih dikuasai oleh minuman lucknut itu?" ujar Faishal.


Riki pun akhirnya mengalah dan menganggukkan kepalanya. Kemudian kedua pria beda usia itu pun meninggalkan Reyhan, yang masih meracau di dalam bathtub.


.


.


Riki dan Faishal pun langsung menggelengkan kepala, dan menuntun wanita muda itu untuk duduk bersama dengan mereka.


"Kamu tenang saya, Sayang. Kakakmu pasti akan segera menerima kenyataan ini, dan dia juga akan melepaskan mu untuk suamimu." ucap Riki yang mencoba untuk menenangkan putrinya.


Audrey hanya bisa pasrah sambil menghela napas panjang. Wanita muda itu pun akhirnya langsung berpamitan kepada kedua pria tersebut.

__ADS_1


"Yasudah. Audrey ingin menyusul Ibu dan Cimmy terlebih dahulu, Ayah, Kak Fai. Selamat malam?" ucap Audrey dengan seulas senyum.


Sebelum menganggukkan kepala, kedua pria itu pun mengusap lembut puncak kepala Audrey. Tidak lupa keduanya memberikan kecupan singkat di kening wanita kesayangan mereka.


"Baiklah. Selamat malam juga, Sayang. Selamat beristirahat." balas keduanya secara bersamaan.


Akhirnya kedua pria itu hanya menatap kepergian putri kesayangan keluarga Wijaya. Tetapi setelah kedua pria tersebut memastikan, jika Audrey benar-benar sudah masuk ke dalam kamarnya.


Dua pria itu kembali menyusun rencana untuk membuat Reyhan agar secepat mungkin, bisa melupakan tentang perasaannya kepada adik kandungnya.


"Apakah Ayah sudah memiliki rencana untuk membuat Kak Rey merasa jera?" tanya Faishal.


Riki yang masih bergeming, seketika pria paruh baya itu pun langsung menganggukkan kepalanya sambil menyeringai.


"Tentu saja sudah, Fai. Ayah sudah memiliki rencana untuk Kakakmu, dan Ayah yakin mau tidak mau dia harus menyetujuinya." ucap Riki sambil mengerlingkan mata.


Faishal yang belum tau rencana yang telah sang Ayah putuskan, kini semakin membuat pria itu merasa penasaran. Bahkan tatapannya saat ini seperti sedang menyelidiki sesuatu.


"Apa? Kamu ingin tau apa rencana Ayah, hem?" tanya Riki sambil memicingkan mata.

__ADS_1


__ADS_2