Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
55. Perasaan Terlarang


__ADS_3

Dengan napas naik turun, Audrey langsung menyeret Kakak sulungnya agar keluar dari dalam kamarnya. Meskipun dia tenaganya tidak seberapa. Tetapi akhirnya setelah mengerahkan seluruh tenaganya, wanita muda itu pun berhasil mendorong tubuh pria itu hingga tersungkur.


BRAK!


Setelah Reyhan berhasil diusirnya. Dengan cepat wanita muda itu langsung membanting pintu tersebut, tanpa sepatah katapun terucap.


Dengan penuh penyesalan, Reyhan merutuki semua kejujurannya. Bahkan dia sangat menyesal, karena Audrey langsung mengusirnya tanpa ingin mendengar semua penjelasannya lagi.


"Ada apa, Rey? Mengapa kamu bisa duduk di sini?" tanya wanita paruh baya yang baru saja keluar dari kamarnya.


Bukan tanpa sebab Rosa menghampiri putra sulungnya. Karena saat dia membuka pintu kamarnya, dia langsung mendengar suara pintu yang dibanting keras.


Perlahan pria dewasa itu pun bangun dari posisi duduknya, kemudian menghampiri wanita paruh baya tersebut.


"Tidak apa-apa, Bu. Biasalah. Audrey selalu merajuk saat aku mengusili nya. Apakah Ibu lupa, bagaimana jahilnya aku saat melihat dia diam saja?" kilah Reyhan.


Wanita paruh baya itu pun langsung mempercayai ucapan putra sulungnya, tanpa ingin mencari tau kebenarannya terlebih dahulu kepada putri kesayangannya.


"Baiklah. Kalau begitu, kita tinggalkan dulu adik kesayanganmu itu. Ibu tau, jika sudah seperti ini pasti dia ingin sendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapapun." ucap Rosa sambil menggandeng lengan putranya.

__ADS_1


Sedangkan Audrey yang mendengar perbincangan antara Ibu dan anak itu, hanya bisa merosot ke lantai. Wanita muda itu pun tidak pernah menyangka, jika Kakak sulungnya diam-diam memiliki perasaan terlarang terhadapnya.


"Mengapa kamu bisa menyimpan rahasia sebesar itu, Kak Rey? Mengapa harus aku yang kamu inginkan? Apakah kamu tidak ingat, jika aku adalah adik kandungmu?" racau Audrey.


Bagaimana tidak syok? Saat dia mendengar pernyataan dari Kakak sulungnya, dia merasa seperti dihantam oleh batu besar yang tajam.


Kakak yang selalu menjaganya dengan sepenuh hati, ternyata diam-diam memiliki perasaan yang lebih kepadanya. Bahkan di saat dia akan menikah, pria dewasa itu dengan terang-terangan nekat untuk menyatakan perasaannya.


"Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera berbicara kepada Ayah dan Ibu, agar pernikahan ini dipercepat. Aku tidak ingin, jika Kak Rey terus menerus menyimpan perasaan itu kepadaku." tekat Audrey sambil mengusap air matanya dengan kasar.


.


.


Setelah makan malam selesai. Akhirnya Audrey membantu Fani untuk membereskan meja makan, dan itu semua sedikit membuat semua orang merasa terkejut dengan perubahan sikapnya.


"Biarkan Saya saja, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas Saya." ucap Fani sambil mengulurkan tangannya, untuk mengambil beberapa piring kotor yang saat ini masih berada di tangan Audrey.


"Tidak apa-apa, Fan. Setidaknya aku bisa sedikit belajar, sebelum aku pergi dari rumah ini. Karena sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang istri, jadi aku juga tidak bisa untuk diam saja." cetus Audrey.

__ADS_1


Fani pun mengalihkan pandangannya kepada wanita paruh baya yang saat ini sedang menatapnya. Setelah mendapatkan persetujuan melalui anggukan, akhirnya Fani bergegas untuk membantu putri dari majikannya.


Reyhan yang hanya bisa menatap punggung wanitanya, kini hanya bisa menghela napas. Sejujurnya saat ini dia ingin sekali menarik lengan wanita mungil itu, dan membawanya pergi.


Hati Reyhan saat ini terasa sangat nyeri, saat mendengar ucapan adik perempuannya yang secara terang-terangan, mengatakan jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri.


'Mengapa kamu tidak menoleh ke arahku sedikitpun, Drey? Mengapa kamu mengacuhkan ku begitu saja?' keluh Reyhan dalam hati.


Setelah selesai membereskan meja makan. Wanita muda itu pun langsung menghampiri seluruh keluarganya yang saat ini sudah berada di ruang keluarga.


Wanita muda itu pun juga langsung duduk di samping Ibu dan putrinya, tanpa melirik sedikitpun kepada Kakak sulungnya. Dan semua itu membuat Reyhan semakin merasa geram, karena sikap tak acuh wanita muda itu.


"Ehem! Ayah, Ibu, aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting kepada kalian. Dan aku harap kalian bisa mengabulkan permintaanku nanti." pinta Audrey tiba-tiba.


Riki dan Rosa pun hanya mengernyitkan kening mereka, dan saling beradu pandang. Meskipun mereka belum tau pasti, permintaan apa yang akan wanita muda itu katakan. Tetapi sepasang suami-istri paruh baya itu langsung menganggukinya.


"Katakanlah, Sayang! Ada hal penting apa?" tanya Riki.


Sebelum mengatakan sebuah keputusan yang telah dia pikirkan sebelumnya. Dengan hati yang sudah mantap, wanita muda itu pun langsung mengungkapkan keinginannya.

__ADS_1


"Aku ingin......"


__ADS_2