
"Apa?!" pekik Riki saat mendengar ucapan Audrey tentang keinginan konyolnya itu.
Audrey yang sudah memikirkannya dengan matang, pada akhirnya dia harus membuat keputusan itu demi putrinya.
"Iya, Nak. Apakah kamu sudah yakin dengan keputusan ini? Ya, meskipun kami tau, jika dia adalah Ayah Kimberly tetapi tidak seharusnya kamu mengorbankan kebahagiaanmu sendiri. Dan pasti kamu juga akan tau, bagaimana murkanya kedua Kakak mu nanti, Sayang. Jadi tolong pertimbangkan lagi keputusanmu ini." ujar Rosa yang tidak kalah terkejutnya.
Meskipun Rosa dan Riki merasa iba dengan cucu kesayangan mereka, karena tidak memiliki keluarga yang sempurna. Tetapi sepasang suami-istri paruh baya itu sudah merencanakan, untuk mencarikan pendamping hidup yang baik untuk putrinya.
Namun siapa sangka, jika putrinya justru memilih pria yang telah menghadirkan gadis manis yang selalu menemaninya di manapun dia berada.
"Maafkan Audrey, Ayah, Ibu! Sebelumnya aku juga sudah memikirkannya dengan matang, dan semua ini aku lakukan demi kebahagiaan putriku." ucap Audrey sambil menundukkan kepalanya.
Riki yang masih belum bisa menerima keputusan dari putrinya, kini masih bergeming dan memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Tolong, Sayang! Jangan pernah korbankan kebahagiaan mu sendiri. Ibu yakin, jika ada solusi lain yang lebih baik dari ini." pinta Rosa.
Tap...
Tap...
__ADS_1
Tap...
Dari arah pintu utama, kini terdengar suara langkah kaki yang semakin membuat Audrey menundukkan kepalanya.
"Ada apa ini, Bu? Sepertinya sedang terjadi sesuatu?" tanya Reyhan yang sudah berada di samping adik perempuannya.
Reyhan yang baru saja tiba, dia pun langsung menduduki bangku di samping Audrey. Sedangkan Faishal memilih untuk duduk di samping sang Ayah.
Sejenak suasana terasa hening dan terasa mencekam. Wanita muda itu pun belum berani untuk mengangkat kepalanya dan menatap kedua Kakak laki-lakinya.
"Kenapa semuanya diam? Apakah sedang ada masalah?" tanya Faishal, saat tidak mendapatkan jawaban dari ketiga orang dewasa itu.
"Honey, apakah terjadi sesuatu?" tanya Reyhan sambil mengangkat dagu Audrey.
Meskipun kepala Audrey sudah terangkat dan sejajar dengan Reyhan, wanita muda itu belum berani untuk menatap mata Kakak sulungnya.
"Katakanlah, Honey! Ada apa? Mengapa kalian semua diam saja?" desak Reyhan.
Riki yang sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya, kini akhirnya pria paruh baya itu membuka suaranya.
__ADS_1
"Adikmu telah membuat keputusan yang sangat konyol, Rey. Dan itu sangat membuat Ayah kecewa kepadanya." tegas Riki dengan sorotan mata tajam.
Reyhan dan Faishal yang baru saja datang, tentu belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan kedua putra Wijaya itu langsung mengalihkan pandangannya kepada adik perempuannya.
"Audrey Camilla Wijaya?" panggil Reyhan dengan tegas.
Jika sudah memanggil nama lengkap wanita itu, artinya Reyhan juga tidak bisa menunggu lebih lama lagi jawaban dari pertanyaannya.
"A-aku....."
Belum selesai Audrey berbicara, wanita paruh baya itu langsung memotong ucapan putrinya. Karena dia tau, bagaimana rasanya disudutkan oleh semua orang yang berada di sekitarnya.
"Putriku ingin menikah dengan....."
"Dengan pria brengseek itu!" potong Riki dengan suara lantang.
Kedua Kakak beradik itu pun langsung membelalakkan matanya, saat mendengar jawaban dari Ayahnya.
Reyhan yang sama sekali tidak pernah menyangka, jika adik kesayangannya akan membuat keputusan secepat ini.
__ADS_1
"Apa kamu sudah tidak waras, Drey? Apa kamu ingin membuat kami kecewa dengan keputusan mu ini, huh?!" gertak Reyhan