Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
79. Perasaan Terpendam Fani


__ADS_3

Di saat Audrey dan keluarga kecilnya sedang merasakan sebuah kebahagiaan. Kini di lain pihak, Reyhan dan Fani yang berada dalam satu kamar, masih merasa sangat canggung.


Reyhan yang belum sepenuhnya menerima pernikahan itu, saat ini masih bergeming di sofa yang berada di dalam kamarnya.


Sedangkan Fani saat ini masih duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepalanya. Gadis muda itu saat ini belum berani untuk memulai perbincangan dengan suaminya.


"Ehem!"


Reyhan pun memecah keheningan dengan sebuah deheman, setelah dua jam berada di kamarnya hanya saling membisu.


"Tidurlah! Ini sudah malam. Sepertinya kamu juga terlihat sangat lelah setelah melaksanakan pernikahan dadakan kita. Dan aku harap kamu masih tau batasan, tentang hubungan kita saat ini." ucap Reyhan sambil menatap lekat wajah istrinya yang masih saja menunduk.


Fani pun hanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu pun langsung menaiki ranjang itu saat masih memakai kebaya pengantinnya. Dia pun juga langsung tidur dengan posisi meringkuk, membelakangi suaminya.

__ADS_1


Sejujurnya pria dewasa itu sedikit tergoda dan hampir goyah, saat melihat bidadari tidak bersayap yang saat ini berjarak tidak jauh darinya.


Semenjak acara Ijab Qobul terlaksana, Reyhan selalu memuja penampilan dan kesempurnaan yang dimiliki oleh istrinya. Bahkan pesona gadis muda itu semakin terpancar, saat dia melihat gadis itu memakai kebaya pengantin muslim dengan hiasan mahkota diatasnya.


'Seandainya saja pernikahan ini dilandasi oleh rasa cinta. Pasti ini akan menjadi malam pertama untuk kita, Fani. Maafkan aku! Karena saat ini belum bisa menerimamu sepenuhnya.' batin Reyhan.


Reyhan pun langsung tidur meringkuk di atas sofa, karena pria itu memutuskan untuk memberikan jarak terlebih dahulu kepada istrinya.


Sepasang pengantin baru itu saat ini masih sama-sama terjaga, dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya saja mereka tidak menyadari, jarak yang mereka ciptakan akan menyakiti satu sama lain.


Reyhan yang saat ini sudah memejamkan matanya, dan beberapa saat sudah terlelap. Kini membuat gadis muda itu berjalan perlahan untuk mendekati pria yang bergelar suaminya.


"Seandainya saja Tuan Rey tau, jika sudah lama aku memendam perasaan ini kepadanya. Apakah dia masih bisa menerimaku?" gumam Fani sambil tersenyum getir.

__ADS_1


Gadia muda itu saat ini terus saja memandangi wajah tampan suaminya. Pria yang selalu dia puja, pada akhirnya menjadi imam di dalam keluarga kecilnya.


"Aku berharap, jika suatu saat nanti kamu bisa menerimaku sepenuhnya. Sehingga kita bisa hidup bahagia bersama, Tuan Rey." harap Fani dengan suara lirih.


Namun, saat Fani hendak berdiri kembali. Tiba-tiba sebuah tangan kekar langsung menariknya, hingga dia tersungkur di sebuah dada bidang.


Aroma maskulin kini menyeruak di indera penciumannya. Debaran jantungnya pun berpacu dengan kencang dan berdesir hebat.


"Tu-an Rey? Ma-maafkan Sa-saya jika telah mengganggu tidur Anda!" ucap Fani sambil terbata.


Reyhan yang ternyata hanya berpura-pura tidur, pada akhirnya mengetahui tentang perasaan terpendam gadis itu kepadanya.


"Apakah yang kamu katakan tadi adalah sebuah kebenaran? Dan alasan apa yang akan kamu jelaskan kepadaku, hingga kamu bisa memiliki perasaan itu kepadaku, Fani?" tanya Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2