Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
102. Siuman


__ADS_3

Flashback On šŸ”„


Setelah kepergian Aaron, wanita hamil itu tertidur pulas di dalam kamarnya. Sedangkan Ibu mertuanya yang awalnya ingin mengajak jalan-jalan kini mengurungkan niatnya saat melihat menantunya sudah terlelap.


Entah mimpi apa Audrey saat ini, karena hampir setengah hari terlelap dalam tidurnya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua.


"Astaghfirullah! Ternyata sudah hampir sore. Bagaimana bisa aku tidur selama ini?" pekik Audrey.


Karena sholat Dzuhur sudah hampir terlewat, akhirnya Audrey bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Namun, siapa sangka jika lantai itu sedikit licin sehingga membuat wanita hamil itu terpeleset hingga terjatuh ke lantai yang sedikit basah.


"Aakkhh! Tolong! Tolong! To-long!"


Bi Sari yang hendak melangkahkan kakinya ke dalam kamar Audrey, tiba-tiba wanita paruh baya itu langsung berlari ke arah sumber suara.


"Astaghfirullah! Non Audrey?!" pekik Bi Sari.


Dengan cepat wanita paruh baya itu langsung berlari keluar kamar untuk mencari pertolongan. Karena percuma saja jika fia seorang diri yang menolong Ibu hamil itu.


"TUAN?! NYONYA?! TOLONG!" pekik Bi Sari disertai dengan buliran bening yang sudah mengalir deras membasahi pipinya.


"Ada apa, Bi? Apa yang terjadi?" tanya Ameera sambil menatap sosok wanita paruh baya yang saat ini sedang menangis.


"Tolong Non Audrey, Nyonya! Non Audrey jatuh di kamar mandi." jelas Bi Sari.


"APA?!" pekik Ameera.


"Dad, cepat keluar! Audrey, Dad! Ayo cepatlah!" seru Ameera sambil menarik tangan suaminya.


"Ada apa, Mom? Bukankah katamu Audrey sedang tidur?" tanya Reza yang masih kebingungan.


"Audrey jatuh di kamar mandi dan pingsan, Dad." timpal Ameera.


DEGH!


"APA?!"


Dengan cepat pria paruh baya itu langsung berlari ke kamar menantunya dan bergegas menuju ke kamar mandi. Betapa terkejutnya pria itu melihat tubuh menantunya yang sudah lemah tak berdaya.

__ADS_1


"Bertahanlah, Sayang! Kamu Ibu yang kuat!"


Di sepanjang perjalanan, do'a yang mereka panjatkan tidak pernah terputus. "Ya Allah, kuatkan putriku!" mohon Ameera sambil meraung.


Sesampainya di Rumah Sakit, Reza baru teringat jika putranya belum tau mengenai kondisi istrinya saat ini. Dengan cepat Reza langsung melakukan panggilan suara kepada putranya untuk memberikan kabar yang akan sangat mengejutkannya.


"Assalamu'alaikum? Iya, Mom."


"Wa'alaikumsalam. Segeralah pulang, Boy! Istrimu saat ini sedang berada di rumah sakit dan kondisinya sedang tidak baik-baik saja."


"APA?! Baiklah. Aku segera pulang." sahut Aaron disertai dengan kekhawatiran.


"Cepatlah?"


Tut... Tut... Tut....


Flashback off 🌚


Di sinilah saat ini Aaron berada. Di depan ruangan ICU dimana di dalamnya terdapat sosok yang sangat dia cintai terbaring lemah dengan bantuan beberapa alat medis ditubuhnya.


Pandangan kosong, pikiran berkecamuk, disertai dengan hati yang remuk. Mungkin jika ada yang melihat sosok pria arogan itu saat ini terlihat sangat memprihatinkan.


"Dad, aku tidak bisa melihat putra kita seperti ini. Tolong lakukan sesuatu!" mohon Ameera sambil memeluk tubuh suaminya disela isakan tangisnya.


"Kita berdo'a saja, Mom. Semoga ada keajaiban yang datang kepada menantu kesayangan kita. Daddy juga tidak ingin melihat putra dan putri kita seperti ini." jelas Reza.


Jika ada yang bertanya dimana Riki dan Rosa. Saat ini mereka sedang berada di perjalanan dari Amerika ke Jakarta. Sedangkan Reyhan masih berada di rumah karena istrinya juga sedang mengidam dan lemas.


Dan saat ini hanya Faishal yang masih standby di samping Aaron sambil menatap ke arah ruang ICU. Setelah mendapatkan kabar mengejutkan dari mertua adiknya, tentu saja Faishal langsung meninggal semuanya begitu saja tanpa memikirkan hal yang lainnya.


"Bertahanlah, Sayang! Kamu wanita kuat! Kamu adik kesayanganku yang sangat kuat dan hebat! Ayo, bangunlah!" mohon Faishal lirih.


"Apa kamu tidak ingin melihat dua jagoanmu yang sangat tampan, Sayang? Bangunlah dan lihatlah mereka! Saat ini mereka juga sangat membutuhkanmu. Tolong bangunlah!" imbuh Faishal.


Melihat adik kesayangannya kritis membuat hati putra kedua Wijaya seperti teriris pisau yang tajam. Sayatan luka yang mendalam dirasakan oleh kedua keluarga itu.


Satu Minggu pun berlalu...


Aaron yang sama sekali tidak ingin meninggalkan tempat itu. Bahkan sesuap nasi pun sama sekali tidak masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Bisa kalian merasakan bagaimana saat ini kondisi pria arogan dan posesif itu? Terlihat kurus tak terurus dan wajah yang memucat.


"Aar, sebaiknya kamu-- Aaron!!"


BUGH!


Satu Minggu tidak terisi apapun, akhirnya tubuh Aaron tumbang. Reyhan yang kebetulan berada di sampingnya langsung menangkap tubuh yang mulai ringkih itu.


"Astaghfirullah, Nak!" pekik Rosa.


Semua orang yang ada di sana juga ikut panik. Melihat putri mereka masih tertidur pulas di dalam mimpinya saja membuat semuanya tidak memiliki semangat lagi. Dan ini ditambah lagi putra mereka yang jatuh sakit karena tidak mau mengurus dirinya sendiri karena mementingkan egonya.


***


Hari ini adalah tepat satu bulan Audrey dirawat di Rumah Sakit dan tepat hari itu juga Audrey dapat melewati masa kritisnya.


CEKLEK!


"Alhamdulillah. Hari ini kondisi Nyonya Audrey sudah mulai membaik dan akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan." ucap Dokter Andrew selaku dokter yang menangani Audrey.


"Alhamdulillah." sahut mereka serempak.


Setelah melewati badai akhirnya mereka bisa melihat secercah cahaya saat mendengar kabar yang membuat semuanya bisa tersenyum kembali.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Terimakasih, karena Engkau telah mendengarkan do'aku. Aku percaya jika kekuasaan terbesar adalah milikmu. Engkaulah yang maha kuasa." ucap Aaron sembari bersujud syukur di depan pintu ruang ICU.


Hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam, akhirnya Audrey sudah berada di ruang perawatan. Saat inj kondisinya sudah berangsur membaik.


"Eghh!"


Terdengar suara lenguhan pendek dari ranjang yang ditempati Audrey. "Alhamdulillah, Sayang. Terimakasih, Sayang. Terimakasih. Kamu telah berjuang untuk bertahan hidup demi kamu semua." ucap Aaron sambil menciumi kening istrinya.


Sosok yang dia rindukan selama satu bulan ini sedang menatap sayu ke arahnya. Bahkan senyuman tipis pun langsung terlihat disertai dengan buliran bening yang menetes perlahan dari pelupuk mata Audrey.


Reza yang tadi langsung berlari keluar untuk memanggil Dokter Andrew sudah berada di dalam bersama dengan dokter tersebut.


"Alhamdulillah. Kuasa ALLAH sebagai penolong Nyonya Audrey, Tuan. Ini adalah sebuah keajaiban karena Nyonya bisa secepat ini sadar dari komanya. Semoga saja kondisinya semakin membaik." ucap Dokter Andrew.


"Tetapi saya sarankan untuk tidak mengajak pasien berbicara lebih banyak, agar dia bisa banyak beristirahat. Saya yakin dengan tekad Nyonya Audrey, beliau bisa pulih dengan cepat." imbuh Dokter Andrew.

__ADS_1


__ADS_2