Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
48. Tekat Aaron


__ADS_3

Setelah membuat kesepakatan, akhirnya ketiga orang itu meninggalkan dua orang pria yang masih terdiam di lantai.


"Aku pasti bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk kedua wanitaku!" gumam Aaron yang masih menatap tajam ke arah pintu.


Kemudian pandangannya langsung beralih kepada pria muda yang sudah tidak berdaya. Pria arogan itu sama sekali tidak menyangka, jika orang kepercayaannya akan berkhianat kepadanya.


"Saya pikir Anda bisa dipercaya, Tuan Felix. Ternyata dugaanku kepada Anda salah besar." sindir Aaron.


Pria yang bernama Felix itu hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. Saat ini dia sama sekali tidak bisa untuk membela dirinya, karena sebuah ancaman dari kedua pria yang baru saja memberikan bogem mentah kepadanya.


Aaron yang sejak tadi hanya diam dan menahan amarahnya. Pria itu langsung mengalihkan pandangannya kepada vas bunga yang berada di atas meja.


Dengan cepat pria itu sudah menggenggam erat vas itu sambil berjalan ke arah Felix. Sedangkan Felix yang melihat ancaman lain dari pria yang masih berstatus sebagai Bos-nya, dengan tubuh gemetar dia memandangi wajah yang penuh dengan amarah.


Aaron pun langsung berjongkok dan mencengkeram kuat dagu pria muda itu dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya masih menggenggam vas bunga yang terbuat dari keramik.

__ADS_1


"Apakah Anda belum memahami satu hal, jika Saya sangat membenci seorang pengkhianat, huh?!" gertak Aaron.


Felix yang melihat raut wajah menakutkan Bos-nya, kini dengan susah payah menahan ludahnya. Bahkan seluruh tubuhnya pun terasa gemetar, dan pandangannya juga seketika ikut memudar.


"Sa-saya minta ma-maaf, Tu-an!......"


Belum selesai pria muda itu mengatakan semuanya, dia pun langsung kehilangan kesadarannya. Aaron yang melihat hal itu pun juga langsung menghempaskan wajah Felix.


"CIH! Ternyata nyali dan kekuatan mu itu hanya sekecil biji kacang hijau saja. Dasar pria muda lemah! Baru saja aku ingin memberikan pelajaran kepadanya, dia langsung pingsan. Payah sekali!" gerutu Aaron.


Sebelum pergi ke ruangan itu, Aaron terlebih dahulu menghubungi Tirta. Dia meminta agar tidak ada yang mengganggunya untuk saat ini.


Tidak lupa pria itu juga mengunci ruangannya, meskipun dia tau bahwa di sana masih ada Felix yang tidak sadarkan diri dan tergeletak di lantai.


Tap...

__ADS_1


Tap...


Tap...


Dengan santai Aaron berjalan ke arah benda persegi panjang itu, kemudian dia pun memasuki ruangan bernuansa serba putih abu-abu.


"Huhf! Sepertinya hanya dengan ini aku bisa merasakan kenikmatan dan kesenangan, meskipun semuanya hanyalah sesaat saja." gumam Aaron sambil meraih sebuah botol bening.


Seteguk demi seteguk Aaron meminum air yang berada di botol itu hingga tandas. Bahkan pria itu pun masih mengambil beberapa botol lagi, kemudian kembali menengguk nya sedikit demi sedikit.


"Aku pasti akan membalas semua perbuatan kalian! Dan aku pastikan kalian akan menyesal, karena telah membuat seorang Aaron Vincent Rich murka! Hahaha...." racau Aaron saat kesadarannya mulai terkikis.


Di saat seperti ini, Aaron pasti akan melampiaskan semuanya kepada botol-botol bening itu. Bahkan sebelum dia menemukan wanitanya, hampir setiap hari dia meminum air di dalam botol itu.


"Tunggulah sampai aku menjemputmu kembali, Sayang! Aku pasti akan segera berhasil mendapatkan kalian berdua. Dan aku tidak akan pernah melepaskan kalian." racau Aaron lagi.

__ADS_1


Setelah menghabiskan empat air minum di botol bening itu, perlahan-lahan kesadaran Aaron mulai terkikis, sehingga hanya dalam hitungan detik saja dia sudah tidak sadarkan diri.


__ADS_2