
"Thanks, Honey. Karena sebenarnya Mommy juga merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran kedua Uncle itu. Dan kali ini Mommy akan memberikan sesuatu kepadamu, sebagai tanda ucapan terimakasih Mommy. Apa kamu mau, Sayang?" ujar Audrey saat mereka sudah tiba di sebuah ruangan kecil itu.
Untung saja saat ini di sana sama sekali tidak ada orang, dan hanya ada kedua Ibu dan anak itu. Jadi apapun yang mereka katakan, tidak akan ada orang yang mendengarnya.
"Tentu saja aku mau, Mom. Memangnya apa yang akan Mommy berikan kepadaku?" tanya Kimberly dengan antusias.
Ketika seorang anak kecil diiming-imingi hadiah oleh Ibunya, tentu saja dia akan merasa sangat bahagia saat menantikan hadiah tersebut.
Namun bukan Audrey namanya, yang akan memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk menghindari pria tersebut. Wanita muda itu pun langsung memutar otaknya sejenak untuk mencari ide, agar putrinya juga bersedia mengikuti sandiwaranya.
"Baiklah. Mommy akan memberikan hadiah itu kepadamu, tetapi setelah kamu membantu Mommy sekali lagi. Apa kamu bersedia, Sayang?" tawar Audrey saat akan membuat kesepakatan dengan putrinya.
Kimberly yang sudah tidak sabar untuk mendapatkan hadiah itu, dia pun langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Tentu, Mom. Cimmy akan membantu Mommy, jika Mommy memang membutuhkan bantuan dari Cimmy," jawab Kimberly layaknya seorang wanita dewasa.
Di saat seperti ini, Audrey dan Kimberly memang selalu bisa melakukan hal-hal konyol dan di luar dugaan. Bahkan kedua wanita beda usia itu bisa saja membuat keributan di sekitarnya, jika mereka sudah merasa sangat jengah dan tidak nyaman.
Akhirnya Ibu dan anak itu pun melakukan kesepakatan dan perjanjian untuk melancarkan aksinya. Kimberly yang ternyata sangat cerdik, kini semakin membuat Audrey merasa kagum kepada putrinya.
'Kamu memang seperti Mommy, Sayang. Dan kita akan selalu kompak dan tidak akan pernah terpisahkan, apalagi oleh pria brengseek itu.' batin Audrey.
"Mengapa mereka berdua lama sekali? Apakah terjadi sesuatu kepada mereka?" tanya Rosa saat menunggu kehadiran putri dan cucunya.
Reyhan yang melihat sorot kekhawatiran dari mata Ibunya, kini mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan mereka.
"Ibu tenang saja. Aku yakin, mereka pasti baik-baik saja. Kalian tunggu saja di sini, aku akan menjemput mereka." ujar Reyhan yang mencoba untuk meyakinkan keluarganya.
__ADS_1
Aaron yang sejak tadi juga menunggu kedua wanitanya, saat ini terus saja memandangi benda berbentuk persegi panjang itu.
Pria itu pun juga berharap jika kedua wanitanya akan segera masuk kembali ke ruangan itu. Dan benar saja, baru beberapa langkah Reyhan ingin menyusul kedua wanita itu. Tiba-tiba benda persegi panjang itu terbuka, dan menampilkan sosok yang sedang mereka tunggu.
"Huft! Untung saja kalian datang tepat waktu. Apa kalian tau, jika kami sangat mengkhawatirkan keadaan kalian?" cecar Reyhan saat menghampiri kedua wanita beda usia tersebut.
Audrey dan Kimberly pun saling beradu pandang, sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka lakukan. Perlahan wanita muda itu pun melakukan perannya dengan hati-hati.
"Maafkan kami, karena telah membuat kalian menunggu lama. Tadi di sana kami sedikit ada masalah, jadi kami tidak langsung kemari." alibi Audrey.
Reyhan pun masih memandangi wajah wanita muda itu, karena dia menangkap sesuatu yang sedikit mencurigakan untuknya. Bahkan sekecil apapun sesuatu yang tersembunyi, dengan cepat Reyhan pasti akan segera mengetahuinya.
"Jangan pernah mencoba untuk mengelabuhi ku, Honey! Mungkin kamu bisa membohongi mereka, tetapi tidak denganku." bisik Reyhan sambil meraih lengan adik perempuannya.
__ADS_1