
Setelah membelah jalanan ibukota, akhirnya mereka berempat pun sampai di sebuah rumah berlantai tiga. Rumah yang selalu dirindukan oleh wanita yang saat ini menginjak usia 27 tahun ini.
Suara deru mobil pun akhirnya berhenti, sedangkan sang empu telah lebih dulu keluar dari mobil itu. Saat ini hanya Audrey yang masih bergeming di tempat, bahkan belum berniat untuk keluar dari mobil tersebut dan memijakkan kakinya di halaman luas tersebut.
Klek!
"Apa kamu akan terus berada di sini, Baby? Apa kamu tidak ingin segera keluar dan menemui kedua orang yang selalu menantikan kehadiranmu?" tanya Reyhan sambil mengulurkan tangannya untuk menyambut kembali kedatangan sang adik tercinta.
Audrey pun tersadar kembali dari lamunannya, kemudian dengan ragu-ragu dia langsung menyambut uluran tangan sang kakak pertamanya.
Dengan perlahan Audrey mulai memijakkan kakinya kembali, lalu mengayunkan kakinya untuk mendekati benda persegi panjang, yang hanya tinggal berjarak beberapa langkah saja.
"Ayolah, Baby! Ini rumahmu. Rumah yang selalu menjadi tempat tinggal dan pelindung untukmu. Percayalah! Ayah dan Ibu pasti akan merasa sangat senang dengan kehadiranmu..... Ekhem, maksudnya kehadiran kalian, dua wanita kesayangan kami." ujar Reyhan yang meyakinkan adik perempuannya, dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Sedangkan Faishal kini sudah berlalu meninggalkan kakak beradik itu, dan membawa gadis kecil kesayangan barunya itu memasuki rumah tersebut, setelah benda persegi panjang itu terbuka.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah kaki beriringan pun terdengar sangat merdu, bagai irama musik yang mengiringi senandung rindu kepada setiap orang yang mendengarnya.
"Ayah? Ibu? kami pulang. Lihatlah siapa yang datang bersama dengan kami!" seru Faishal dengan suara lantang dan memekakkan setiap orang yang mendengarnya.
Sedangkan dua pasangan paruh baya itu kemudian keluar dari kamar, dan menyembulkan sang empunya.
"Ada apa, Fai? Mengapa kamu heboh seka-li?"
Tiba-tiba terdengar suara bariton yang sangat tidak asing mengusik pendengaran wanita, yang masih berada di gandengan tangan Reyhan.
Tiga orang yang sudah lama tidak saling bertemu dan bertegur sapa. Kini hanya bergeming dan terpaku di tempat, tanpa ada satupun kata yang terucap dari mulut mereka.
"Ayah? Apa Ayah masih mengenali wanita yang aku bawa ini?" tanya Reyhan sambil menatap kedua orang tua yang masih terpaku di tempat.
"A-audrey? Apakah ini benar kamu, Sayang?" tanya suara lemah dan serak seorang wanita.
Tes...
__ADS_1
Tes...
Tes...
Akhirnya buliran kristal bening pun menetes dari kedua pelupuk mata, dari ketiga orang yang masih saling beradu pandang tanpa adanya pergerakan sama sekali.
Akhirnya tangis mereka pun pecah, dan wanita yang menggandeng tangan sang kakak pertama, kini langsung menghempaskan nya dan berlari menghampiri sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia itu.
"Ayah? Ibu?"
Tanpa ba-bi-bu, akhirnya Audrey pun langsung bersimpuh dihadapan kedua orangtuanya, dengan diiringi suara tangisan yang menggema di ruangan tersebut.
"Maafkan Audrey, Ayah, Ibu! Maafkan Audrey!"
Hanya kata-kata itu yang saat ini mampu terucap dari mulut kecil wanita itu, sedangkan gadis kecil yang masih berada di gendongan Faishal, kini hanya menatap penuh kebingungan dengan situasi yang sedang dia hadapi.
"Mommy?"
Kelima orang dewasa pun langsung mengalihkan pandangan, kepada gadis kecil yang masih berada dalam gendongan Faishal.
Faishal yang mengerti akan situasi tersebut, dengan mantap langsung mengayunkan kakinya untuk mendekati ketiga orang itu.
Gadis kecil itu pun langsung mematuhi perintah dari Omnya, dan langsung mengulurkan tangan mungilnya kepada kedua orang yang baru saja disebut sebagai Oma dan Opa nya.
Dengan cepat Riki dan Rosa menyambut hangat uluran tangan gadis kecil itu, dengan seulas senyum tipis yang terbit di kedua sudut bibir mereka.
"Hay, Cantik? Siapa nama kamu?" tanya Riki dengan suara lembut.
Bagaimana dengan Audrey? Apakah mereka melupakan wanita yang masih bersimpuh di depan mereka?
Tentu saja tidak! Reyhan pun langsung menghampiri wanita itu dan menarik kembali kedua bahunya agar kembali berdiri dengan tegak.
"Namaku Cimmy, Opa." jawab Kimberly dengan polosnya.
Rosa yang masih belum mempercayai tentang kedua wanita beda usia yang ada di depannya, kini hanya menatap mereka secara bergantian.
"Audrey?"
Merasa namanya terpanggil, akhirnya wanita muda itu langsung menatap lekat wajah pucat wanita paruh baya yang saat ini sedang berada di depannya.
__ADS_1
"I-iya, Bu." sahut Audrey dengan suara yang terbata.
"Siapa gadis kecil yang sangat menggemaskan ini?" tanya Rosa, yang sama sekali tidak mengetahui apapun perihal tentang putri kesayangannya.
Sebelum menjawab pertanyaan dari sang Ibu, Audrey mengalihkan pandangannya kepada Reyhan, kemudian laki-laki yang hampir menginjak usia 37 tahun itu langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Setelah mendapatkan persetujuan dan dukungan dari kakak pertamanya, dengan sedikit keraguan akhirnya Audrey mulai membuka suaranya kembali.
"Dia putriku, Bu." jawab Audrey dengan ragu-ragu.
Rosa pun langsung tertegun dan hampir terhuyung, setelah mendapatkan jawaban dari sang putri kesayangannya.
"A-apa? Tapi bagaimana bisa?" tanya Rosa dengan suara parau.
Riki yang memahami bagaimana perasaan sang istri, langsung menuntunnya ke arah sofa yang tidak jauh dari tempat mereka berpijak.
"Duduklah dulu, Sayang!" titahnya dengan penuh kasih sayang.
Sedangkan ketiga putra dan putrinya kini turut mengikuti langkah kedua orangtuanya, dan kini mulai mencemaskan keadaan sang Ibu tercinta.
"Maafkan Audrey, Bu! Maafkan Audrey!"
Tangis Rosa pun akhirnya kembali pecah, dia tidak pernah menyangka jika kepergian putrinya, karena dia ingin menutupi rahasia terbesarnya seorang diri. Bahkan sang putri juga memikul beban dan tanggung jawab sebesar itu seorang diri.
"Sayang? Mengapa kamu dulu harus pergi dan meninggalkan kami? Mengapa kamu tidak mengatakan semuanya dengan jujur? Hiks... Hiks... Hiks..." tanya Rosa di sela isakan tangisnya.
Sedangkan Audrey hanya bisa pasrah dan menundukkan kepalanya, karena tidak bisa dia pungkiri jika semua yang dia lalui olehnya benar-benar sangat berat dan tidak mudah.
"Maafkan Audrey, Bu!"
Hanya kata-kata itu yang sejak tadi terucap dari mulut seorang Audrey Camilla Wijaya. Wanita muda dengan sejuta pesonanya, kini masih menitikkan buliran bening sambil menggigit bibir bawahnya, agar tidak mengeluarkan suara.
"Hey, Baby! Jangan terus meminta maaf kepada kami. Seharusnya kami yang meminta maaf kepadamu, karena kami tidak terlalu memperhatikan mu di kala itu." ujar Reyhan sambil mengusap lembut punggung adik kesayangannya.
"Iya Sayang. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, karena sebenarnya kamu hanyalah korban disini. Seandainya dulu kamu mengatakan semuanya dengan jujur kepada kami, maka kami akan mencari keberadaan badjingan itu, dan akan memberikan hukuman yang setimpal kepadanya." cetus Faishal yang masih tidak terima dengan kejadian yang menimpa sang adik perempuannya.
Tangis Audrey pun semakin menjadi-jadi, saat semua keluarganya kembali menerima kehadirannya dan sang putri semata wayangnya dengan tangan terbuka.
"Apa kamu tau, Sayang? Jika kami sangat merindukanmu dan selalu mengkhawatirkan keadaan mu. Bahkan selama tujuh tahun ini, kamu sama sekali tidak memberikan kabar apapun kepada kami. Kenapa kamu tega, Sayang? Hiks... Hiks... Hiks..." ujar Rosa dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Saat itu aku...."