
Reyhan dan Faishal yang saat ini merasa terpojokkan, dengan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh adik kesayangan mereka. Di saat itu juga mereka hanya saling beradu lirikan sebagai kode untuk memberikan jawaban yang tepat untuk sang adik perempuannya.
"Mengapa kalian diam saja? Apakah aku harus membangun orang satu rumah, agar kalian bisa mengatakannya, huh?!" cecar Audrey lagi.
Kali ini Audrey tidak ingin tinggal diam. Karena dengan susah payahnya, Audrey menghindari pria yang telah menghancurkannya itu.
Namun, ternyata saat ini justru keluarganya ingin mempertemukannya dengan pria yang sangat dia benci, tanpa sepengetahuannya.
Sehingga semua itu membuat Audrey murka dan merajuk. Bagi Audrey, masalah yang sedang dia hadapi bukanlah masalah kecil. Karena semua itu akan menyangkut tentang masa depannya dan juga putri semata wayangnya.
"Apakah Kakak tau, jika kami kembali bertemu dan Cimmy mengetahui tentang fakta itu, dia akan langsung menerimanya? Apakah sebelumnya Kakak sama sekali tidak memikirkan konsekuensinya, huh?! Jawab aku, Kak?!" cecar Audrey dengan dada yang bergemuruh.
Napas dan detakan jantung wanita itu pun tidak beraturan. Yang awalnya Audrey ingin menanyakan semua itu secara baik-baik. Tetapi saat ini tiba-tiba emosinya meletup-letup begitu saja.
"Maafkan kami, Honey! Kami tidak bermaksud untuk membohongi ataupun membodohi mu. Semua ini kami lakukan hanya untuk mencarikan keadilan kepada kalian berdua." jelas Reyhan sambil menggenggam erat tangan Audrey.
__ADS_1
Audrey pun dengan kasar langsung menepis tangan Reyhan, sehingga membuat pria matang itu pun merasa sangat terkejut. Bahkan dia tidak menyangka, jika Audrey akan semarah itu dengan mereka.
"Jika sejak awal niat kalian ingin membawaku kembali ke rumah ini, hanya untuk mempertemukan kami dengan pria itu. Maka aku akan menolak dan kembali memilih pergi sejauh mungkin dari kehidupan kalian!" tegas Audrey.
Audrey yang saat ini sedang dikuasai oleh amarahnya. Di saat itu juga di mengeluarkan seluruh isi hatinya. Wanita itu pun juga sudah tidak bisa lagi membendung air matanya yang sudah sejak tadi dia tahan.
"Baby, maafkan ka-"
Belum selesai Faishal mengucapkan permintaan maafnya. Audrey pun sudah melenggang pergi sambil berlari ke arah kamarnya dengan derai air mata.
Reyhan yang masih menatap punggung adik perempuannya yang semakin menjauh. Kini hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.
"Entahlah, Fai. Sebelumnya hal ini juga tidak terpikirkan olehku. Padahal aku sudah memikirkannya dengan matang, tetapi ternyata prediksi ku meleset sangat jauh. Sehingga rencana kita akan berantakan dan akan hancur begitu saja." keluh Reyhan.
Tap...
__ADS_1
Tap...
Tap...
Saat kedua pria itu sedang memikirkan cara untuk meluluhkan kembali hati adik kesayangan mereka. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekati mereka.
"Ada apa ribut-ribut, Rey, Fai? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Riki sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
Reyhan dan Faishal pun kembali saling beradu pandang. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat, untuk mereka mengajukan protes kepada Ayahnya.
"Apakah Ayah dan Ibu mengatakan tentang rencana kami kepada Audrey?" tanya Reyhan dengan tatapan penuh selidik.
Riki yang merasa tidak melakukan hal itu, kini hanya mengernyitkan keningnya sambil menatap kedua putranya secara bergantian.
"Tidak. Kami sama sekali tidak membahas tentang hal itu kepada Audrey. Bahkan sejak kamu berkumpul bersama, dia masih bersikap santai dan biasa saja. Apakah dia sempat mengatakan sesuatu kepada kalian, sehingga kalian mencurigai kami?" cetus Riki.
__ADS_1