Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
46. Memberikan Informasi


__ADS_3

"Apa? Bagaimana bisa putri Saya masuk ke Rumah Sakit? Apakah terjadi sesuatu saat mereka dalam perjalanan pulang?" tanya Aaron dengan raut wajah yang khawatir.


Bagaimana tidak khawatir? Baru tadi siang dia bertemu dengan kedua wanitanya. Dan di saat itu juga dia melihat keduanya dalam keadaan baik-baik saja, tanpa ada sesuatu yang mencurigakan.


"Jangan sampai Anda memberikan informasi yang salah kepada tentang kedua wanita Saya!" gertak Aaron.


Seseorang yang melaporkan informasi itu kepada Aaron menjadi sedikit gentar. Sosok pria bertubuh jangkung itu sangat mengerti, bagaimana perangai seorang Aaron Vincent yang sangat terkenal arogan dan kejam.


"Be-benar, Tuan. Gadis kecil itu demam, dan dilarikan ke Rumah Sakit Kasih Bunda. Dia di rawat di kamar VVIP, ruang mawar no.2. Dan ada satu hal lagi informasi yang perlu Anda ketahui, Tuan." jelas pria itu.


Aaron yang awalnya tersulut emosi, perlahan amarahnya sedikit mereda karena informasi yang akurat itu.


Namun, Aaron juga sedikit merasa tertarik dengan informasi yang masih belum dia ketahui.


"Katakanlah dengan jelas! Saya tidak memiliki waktu untuk mendengar ucapan Anda yang bertele-tele." tegas Aaron.

__ADS_1


Pria muda itu dengan susah payah menelan ludahnya, saat Aaron memberikan tatapan penuh intimidasi kepadanya.


"Sebelum Saya berbalik arah ke sini, Saya sempat mendengar pembicaraan antara Tuan Reyhan dan Tuan Faishal. Mereka mengatakan bahwa akan memberikan pelajaran terlebih dahulu kepada Tu....."


Sebelum melanjutkan ucapannya, pria itu pun menjeda ucapannya karena merasa ragu,


dan takut dengan informasi yang dia dapatkan.


"Lanjutkan! Jangan memberikan informasi kepada Saya setengah-setengah! Kalau tidak....."


Dengan susah payah pria itu menelan ludahnya, napasnya saat ini seperti tercekat di tenggorokan.


"Mereka mengatakan bahwa akan memberikan pelajaran terlebih dahulu kepada Tuan Aaron, sebelum Nona Audrey benar-benar mematangkan keputusannya." jelas pria itu lagi.


Aaron yang belum tau apa sebenarnya rencana dari kakak beradik itu, kini hanya mengernyitkan keningnya dan mulai memutar kembali otaknya.

__ADS_1


"Apa Anda tau? Keputusan apa yang akan diambil oleh adik perempuan mereka?" tanya Aaron dengan tatapan penuh selidik.


Pria muda itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, karena dia benar-benar tidak mengetahui tentang rencana itu.


Aaron pun tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena dia sendiri juga belum bisa memastikan apakah dia bisa mendapatkan kedua wanitanya itu.


"Baiklah. Sekarang Saya mempunyai tugas baru kepada Anda. Dan Saya berharap Anda melakukannya dengan hati-hati, agar mereka tidak mencurigai pergerakan Anda." cetus Aaron saat kembali memberikan perintah kepada pria muda itu.


Pria itu pun langsung menganggukkan kepalanya, dan segera pamit untuk undur diri.


"Mengapa firasat ku mengatakan, jika tidak akan lama lagi akan terjadi sesuatu? Tetapi apa?" gumam Aaron.


Sejenak pria itu pun termenung sambil menatap lembaran-lembaran kertas yang berukuran 4x6. Pria itu sengaja menyimpan lembaran-lembaran itu, berharap bisa sedikit membantu untuk meredakan kerinduannya yang belum tersampaikan.


"Mengapa kalian sulit sekali aku gapai? Apa yang harus aku lakukan sekarang, agar kalian bisa memaafkan dan menerimaku? Tidakkah kalian sedikit merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini?" gumam Aaron sambil memandangi wajah kedua wanitanya melalui lembaran kecil itu.

__ADS_1


Entah apa yang akan pria itu lakukan, setelah mendengar beberapa informasi yang dia dapatkan dari salah satu orang kepercayaannya.


"Semoga saja aku bisa segera menemui kalian." harap Aaron.


__ADS_2