
"Iya. Ibu sangat mengerti bagaimana perasaan mu saat ini, Sayang. Tetapi apakah kamu tau, apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh kedua Kakak mu?" ujar Rosa dengan suara lembut.
Setelah mendengar keluh kesah Ibu satu anak itu, akhirnya Rosa bisa menyimpulkan jika Audrey sangat membenci pria yang bernama Aaron.
Bahkan Rosa juga tau, mengapa putrinya begitu sangat membenci pria itu. (Dan reader pasti juga tau kan, mengapa Audrey tidak menginginkan pertemuan itu? hehe...)
Audrey yang masih menggenggam erat tangan Ibunya, kini dia semakin memiliki keberanian untuk mengutarakan bagaimana isi hatinya.
"Bu, apakah aku salah jika tidak mengatakan kepada Kimberly, jika pria itu adalah Ayah biologisnya?" tanya Audrey dengan suara parau.
__ADS_1
Saat ini wanita muda itu benar-benar sangat takut, jika nanti pria itu akan berusaha untuk mengambil paksa putrinya.
"Tidak, Sayang. Tentu saja tidak. Apa yang kamu lakukan memang benar, tetapi Ibu juga tidak bisa menyalahkan kedua Kakak mu. Karena Ibu juga sangat memahami mereka, di saat seperti ini mereka pasti akan melakukan apapun untuk melindungi dan menjaga keluarganya, termasuk kamu dan putrimu." jelas Rosa.
Kini Audrey hanya bergeming sambil mendengarkan ucapan sekaligus nasehat dari Ibunya. Bahkan dia sama sekali tidak ingi menyela setiap ucapan Ibunya.
"Di sini Ibu sedang tidak memihak siapapun, hanya saja Ibu juga sedang ikut andil untuk melindungi kalian berdua. Apakah kamu tau, jika kedua Kakak mu saat ini terlihat sangat kacau karena kamu diamkan?" celetuk Rosa.
"Oh, iya.. Satu lagi yang ingin Ibu katakan kepadamu. Jika kamu tidak ingin Kimberly marah kepadamu suatu hari nanti. Lebih baik kamu mengikuti rencana dari Reyhan dan Faishal. Ibu yakin, dengan kecerdasan diatas rata-rata yang dimiliki oleh gadis kecil itu, dia sudah bisa memilah dan memilih mana yang benar atau salah. Daripada nanti dia mengetahui kebenaran itu sendiri dari orang lain, maka kamu akan tau sendiri bagaimana kecewanya Kimberly." saran Rosa sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Wanita itu pun hanya menatap Ibunya dengan pikiran dan hati yang sedang berkecamuk. Seandainya saja Ibunya tau, jika saat ini Audrey benar-benar sedang menyatukan kepingan-kepingan yang sempat hancur.
Maka bisa dipastikan jika Rosa akan memahami dan mengerti tentang perasaan wanita muda itu. Namun, Audrey yang sejak dulu lebih memilih untuk menyimpan perasaannya sendiri, kini hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Baiklah. Aku akan mengikuti semua rencana kalian. Tetapi aku juga tidak berjanji, jika nanti aku tidak akan membuat kekacauan di sana." ucap Audrey.
Meskipun sebenarnya hati dan pikirannya bertolak belakang dengan bibirnya, tetapi sebisa mungkin Audrey ingin membuat sang Ibu tidak kecewa dengan keputusannya.
"Iya. Ibu juga tidak akan pernah melarang mu untuk memberikan pelajaran kepada pria itu. Tetapi ingatlah! Jangan sampai emosimu nanti akan menjatuhkan mental putrimu. Ibu yakin kamu bisa melakukannya dengan cara yang sangat baik dan elegan, Sayang." saran Rosa lagi.
__ADS_1
Audrey pun langsung menganggukinya. Entah apa yang akan terjadi nanti, dia hanya ingin sedikit memberikan peringatan kepada pria tersebut.
'Baiklah. Kita lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan kepada badjingan itu!' batin Audrey dengan kebencian yang mendarah daging.