
Setelah terjadi pertemuan tanpa sengaja dengan laki-laki asing, yang tujuh tahun yang lalu telah menghancurkan hidupnya. Kini Audrey justru merasa sangat resah dan gelisah, karena dia sangat takut jika laki-laki asing itu menyadari sesuatu.
Audrey takut, jika laki-laki asing itu menyadari jika putrinya adalah benih yang tertanam di dalam rahimnya, tujuh tahun silam.
Kimberly Cantika Wijaya adalah nama putri semata wayangnya saat ini, dia adalah hasil dari perbuatan laki-laki asing itu. Namun, Audrey tidak pernah menaruh sedikit pun kebencian kepada putrinya. Dia justru sangat menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Mommy?" panggil Kimberly.
"Eh, iya, Cimmy Sayang. Ada apa?" sahut Audrey dengan seulas senyum.
"Mommy tidak apa-apa 'kan?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.
Audrey yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu, langsung meraih tangan Kimberly dan menuntunnya ke dalam pangkuannya.
"Mommy tidak apa-apa, Sayang." dusta Audrey sambil menciumi pipi gadis kecilnya itu.
Kimberly yang merasa kegelian, kini langsung menggeliat dan tertawa.
"Hahaha.. Mommy geli! Ampun Mom," pekik Kimberly sambil cekikikan.
Audrey pun akhirnya menghentikan gerakannya, saat Kimberly meminta ampun kepadanya, kemudian menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Mommy, I Love you so much?" ucap gadis kecil itu secara tiba-tiba.
Audrey pun kemudian menghadapkan sang putri tercinta ke arahnya.
"I Love you more, my little angel ," balas Audrey dengan seulas senyum, kemudian Audrey langsung mengecup lembut puncak kepala Kimberly.
Kimberly langsung berhambur ke dalam pelukan Audrey, dan memeluk tubuh sang Ibu dengan eratnya.
'Semoga saja aku tidak bertemu dengan badjingan itu lagi, dan aku juga berharap jika dia tidak akan pernah mencari tau tentang kami. Karena aku benar-benar sangat membencinya!' makinya dalam hati.
"Mommy?" panggil Kimberly.
__ADS_1
Kemudian Audrey langsung merenggangkan pelukannya, dan menatap lekat wajah teduh putrinya.
"Iya, Honey. Ada apa?" sahut Audrey dengan suara lembutnya.
"Kapan Daddy menemui kita? Bukankah Mommy pernah mengatakan, jika kita ke kota ini untuk mencari Daddy yang sibuk bekerja, sehingga tak kunjung kembali menemui kita?" tanya gadis kecil itu dengan sorotan mata sendu.
Ya, sejak Kimberly masih kecil, Audrey selalu mengatakan jika sang Ayah sedang bekerja jauh, dan belum sempat pulang dan mengunjungi mereka.
Semua itu Audrey katakan hanya alibinya, sebagai penenang gadis kecilnya yang selalu saja merengek dan meminta bertemu dengan sang Ayah, saat mereka masih berada di kampung terpencil itu.
Karena setiap hari Kimberly melihat teman-temannya yang lain selalu bersama dengan Ayah mereka, bahkan mereka juga kerap bersenda gurau dengan kedua orangtua mereka di depan Audrey. Sehingga terkadang membuat gadis kecil itu merasa iri, dengan keluarga lengkap teman-temannya.
Sejak kecil Kimberly memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Mungkin itu semua juga menurun darinya, karena Audrey juga memiliki IQ tinggi. Jadi dia juga tidak bisa menampiknya, bahwa dia juga memiliki beberapa sifat yang menurun darinya.
"Sabar ya, Honey. Kita pasti akan segera bertemu dengan Daddy, dan kamu bisa memeluknya sesukamu." dusta Audrey lagi, dia memang sering memberikan harapan palsu kepada putrinya. Karena semua itu dia lakukan semata agar sang putri tercinta tidak membenci Ayahnya, jika suatu saat nanti mereka akan bertemu.
Setelah mengatakan kebohongan itu, kini Audrey justru teringat dengan keluarganya yang sudah tujuh tahun ini dia tinggalkan.
"Bagaimana kabar kalian?" gumam Audrey lirih, hampir tak terdengar.
Buliran kristal bening pun akhirnya menetes perlahan dan membasahi pipinya. Saat Kimberly mendongakkan kepalanya, dia melihat sang Ibunda tercinta sedang menangis, dan dia segera untuk memeluk kembali sang Ibunda.
"Are you okay, Mom?" tanya Kimberly yang mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Audrey.
Dengan cepat Audrey pun segera ikut mengusap air mata itu, lalu tersenyum kembali kepada Kimberly.
"Yes, Mom is fine, dear." jawab Audrey dengan suara parau.
Bohong! Ya, Audrey memang berbohong. Dia saat ini sedang merasa tidak baik-baik saja. Karena pikirannya saat ini bercabang kemana-mana dan sama sekali tidak merasakan ketenangan.
***
Di lain pihak, seorang Aaron saat ini masih memikirkan tentang ucapan Riki Arya Wijaya, Ayah dari Audrey Camilla Wijaya. Dia saat ini juga sedang memikirkan, bagaimana cara untuk mendekati kedua wanita itu.
__ADS_1
"Argh!! Benar-benar sial! Aku sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Bagaimana aku bisa bertemu kembali dengan dua wanita itu? Apa aku harus membawa paksa mereka berdua? Ah... Tidak! Bisa-bisa mereka akan semakin membenciku, dan akan kembali menghilang dari pandanganku. Astaga! Apa yang harus aku lakukan sekarang, Tuhan?" keluh Aaron sambil mengacak-acak rambutnya.
Tok...
Tok...
Tok...
Kini suara ketukan pintu terdengar sangat jelas di telinga Aaron, dan saat itu juga dia melihat sosok wanita yang sangat enggan untuk dilihatnya.
"Hay, Honey? Apakah kamu lembur malam ini?" tanya wanita itu dengan nada manja.
"Untuk apa kamu kesini? Bukankah Saya berulang kali mengatakan kepadamu, jika Saya tidak ingin melihat wajahmu lagi? Dan asal kamu tau Clarissa, jika Saya sudah membatalkan kerjasama dengan perusahaan Ayahmu!" ujar Aaron dengan tatapan mata elangnya yang tajam.
Clarissa pun tertegun, karena dia tidak pernah menyangka jika Aaron akan semudah itu untuk memutuskan kerjasama dengan perusahaan Ayahnya. Bahkan, semua orang pun bersaing untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan Ayahnya.
"A-apa? Tetapi mengapa, Aar? Apakah kamu tidak tau? Bagaimana persaingan beberapa perusahaan, yang saat ini memperebutkan kerjasama dengan perusahaan Daddy?" tanya Clarissa dengan sedikit rasa kecewa.
Aaron pun hanya berdecih, dan menatap remeh kepada putri semata wayang pemilik Bern's Corp.
"CIH! Meskipun ada 100 Bern's Corp di dunia ini, Saya tidak akan pernah sedikitpun berniat untuk melakukan kerjasama kembali. Apalagi menemui wanita tidak tau malu dan murah4n seperti dirimu!" gertak Aaron dengan rahang yang mengeras.
Seketika tubuh wanita itu pun langsung bergetar, bahkan dia tidak pernah menyangka jika akan mendapatkan hinaan ini dari seseorang yang sangat dia cintai.
"Oh, ya? Apakah kamu lupa Aaron? Jika dulu kamu yang pertama kali datang ke Bern's Corp, dan meminta bantuan kepada kami tujuh tahun yang lalu?" tanya Clarissa sambil mengepalkan tangannya.
Saat ini dia benar-benar merasa tersinggung oleh ucapan Aaron. Bagaimana tidak? Baru saja dia menginjakkan kakinya ke dalam ruangan bernuansa serba abu-abu ini, dia langsung mendapatkan kata-kata yang menusuk seperti ini.
"Ckk!! Apa kamu juga lupa? Jika kedatangan ku dulu juga di pandang rendah oleh Ayahmu, dan dia juga menghinaku serta menjadi dalang atas semua kerugian yang aku alami. Dan perlu kamu ingat, Clarissa! Seandainya dulu aku mau, pasti perusahaan Ayahmu sudah bangkrut dan kalian akan jatuh miskin!" tegas Aaron sambil berdecak.
Kini mereka saling melemparkan tatapan tajam, dan menyalakan kembali api peperangan di dalamnya.
"Kamu akan menyesal karena telah melakukan semua ini kepadaku, Aaron!"
__ADS_1