
Satu bulan kemudian....
Hari demi hari pun akhirnya terlewati dengan penuh dengan berbagai macam warna. Di saat Aaron sempat redup karena kerugian yang cukup besar, pria itu langsung bangkit setelah mendapatkan dukungan dari sang Ayah.
Tak terasa hari ini Ameera dan Reza sudah akan berangkat lagi ke Eropa, karena pekerjaan di sana juga sedang padat-padatnya. Meskipun sebenarnya mereka masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya.
"Mommy sama Daddy akan segera pulang ke Indonesia lagi 'kan?" tanya Audrey dengan raut wajah sendu.
Ameera yang melihat pancaran kesedihan dari bola mata menantunya, kini langsung memberikan pelukan hangat kepadanya.
"Kamu tenang saja, Sayang. Beberapa bulan lagi kami akan segera kembali ke Indonesia untuk menghabiskan waktu bersama kalian tentunya. Jadi Mommy minta kamu jangan bersedih ya? Mommy janji tidak akan lama di sana." ujar Ameera.
Akhirnya Audrey pun patuh dan segera melepaskan diri dari pelukan Ibu mertuanya. Kemudian dia langsung berbalik ke arah Ayah mertuanya berada yang juga baru selesai berpelukan dengan suaminya.
"Hati-hati, Dad. Segeralah kembali!" ucap Audrey dengan seulas senyum yang dipaksakan.
"Tentu saja kami akan segera kembali, Sayang. Tetapi setelah kami mendengar kabar baik tentunya. Dan kami akan selalu menantikan kabar itu secepatnya." timpal Reza sambil terkekeh.
Audrey pun hanya membalasnya dengan senyuman disertai dengan anggukan kepala. "InsyaALLAH, Dad. Do'akan saja. Semoga saja apa yang kita harapkan segera terwujud." sahut Audrey.
"AAMIIN!" jawab mereka secara bersamaan.
Saat ini bukan hanya ada Aaron dan keluarga kecilnya. Tetapi di sana juga ada mertuanya yang memaksa untuk ikut mengantarkan besannya ke bandara.
"Hati-hati di jalan, Jeng Meera dan Bang Reza. Jika nanti sudah sampai, tolong segera hubungi kami." ujar Rosa dengan seulas senyum.
"Baiklah. Kami akan mengabari kalian setelah sampai." balas Ameera.
Gadis kecil yang sedari tadi hanya diam sambil menundukkan kepalanya, kini langsung menjadi pusat perhatian orang dewasa itu.
"Hey, my angel? Kenapa sejak tadi kamu diam saja? Apakah kamu tidak ingin memeluk kami?" tanya Reza sambil merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Kimberly pun langsung mendongak ke arah sumber suara dengan mata yang sudah mengembun dan memenuhi pelupuk matanya.
"Grandma? Grandpa?" panggil Kimberly dengan suara parau.
Bukan tanpa sebab gadis itu bersedih. Karena sejak dua nenek dan kakeknya ada, gadis itu selalu dilimpahkan kasih sayang oleh mereka.
Bahkan keempat orang dewasa itu selalu memperebutkan dirinya, seperti sedang memperebutkan piala emas. Oleh karena itu, saat kedua orangtua Ayahnya akan kembali ke negara tetangga. Gadis kecil itu pun sedikit merasa kehilangan sosok yang selalu ada untuknya.
"Don't cry! Gadis manis grandma dan grandpa tidak boleh bersedih ya? Grandpa janji tidak akan lama di sana setelah semua pekerjaan sudah terhandle." ujar Reza sambil menyeka embun yang menetes secara perlahan membasahi pipi chubby cucunya.
Namun saat drama berlangsung, tiba-tiba perut Audrey pun bergejolak dan wanita muda itu pun langsung berlari ke arah kamar kecil yang berada tidak jauh dari tempat itu.
HUEK! HUEK! HUEK!
Aaron yang melihat istrinya yang langsung berlari meninggalkan mereka, justru dibuat khawatir dan cemas.
Untung saja di dalam kamar kecil wanita sedang sepi dan tidak ada orang lain selain mereka berdua. Jadi saat ini posisi Aaron masih aman.
Setelah mereda Audrey langsung membasuh mukanya dengan menggunakan air mengalir. Dan wanita itu pun segera menyandarkan tubuhnya di dinding yang langsung menghadap ke arah suaminya berada.
"Tidak apa-apa, Kak. Hanya saja, tiba-tiba perutku terasa sangat mual. Jadi terpaksa aku langsung pergi dari sana tanpa berpamitan kepada kalian." jelas Audrey dengan seulas senyum.
Melihat wajah istrinya yang terlihat sangat pucat, membuat Aaron semakin mengkhawatirkan keadaannya. Bahkan hal yang paling mengejutkan lagi saat mereka baru beberapa langkah meninggalkan tempat itu.
BRUGH!
Tiba-tiba tubuh mungil Audrey pun langsung tersungkur ke depan, tetapi karena Aaron yang selalu sigap. Jadi wanita itu belum sempat jatuh hingga menyentuh lantai.
Dengan cepat Aaron langsung menggendong tubuh mungil istrinya dan membawanya kepada keluarganya terlebih dahulu sebelum dia memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit terdekat.
"Semuanya, maaf aku tidak bisa menunggu hingga jam penerbangan tiba. Karena tiba-tiba istriku muntah-muntah dan langsung pingsan." jelas Aaron dengan napas yang terengah-engah.
__ADS_1
"Batalkan penerbangan hari ini! Pending hingga beberapa kedepan!" titah Reza kepada seseorang yang selalu mengawalnya.
Seketika mereka pun tertegun karena mendengar perintah dari pria paruh baya itu. "Cepat, bawa menantuku ke Rumah Sakit terdekat!" titahnya lagi.
Akhirnya semua orang pun langsung berlari ke arah yang sama dengan Aaron. Sedangkan Kimberly saat ini sudah aman di dalam gendongan Riki.
Dengan cepat Aaron langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan membelah keramaian Ibukota yang mulai padat.
"Sabar ya, Sayang? Kuat ya? Bertahanlah! Sebentar lagi kita akan sampai." gumam Aaron yang sesekali menoleh ke arah bangku belakang.
Audrey saat ini sedang diapit oleh Ibunya dan Ibu mertuanya. Sedangkan Kimberly masih berada di dalam mobil yang berbeda bersama dengan Opa dan Grandpa nya.
"Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." cetus Reza yang juga ikut mengkhawatirkan keadaan menantunya.
Lima belas menit membelah keramaian Ibukota, akhirnya Aaron tiba di Rumah Sakit terdekat dengan bandara. Dengan cepat pria itu segera turun dan meraih tubuh mungil istrinya.
Dengan langkah tergesa-gesa pria itu membawa istrinya masuk ke ruangan IGD. Karena dia ingin suster yang mengikutinya segera memberikan penanganan kepada wanitanya.
"Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk istri saya, Sus!" pinta Aaron kepada suster yang saat ini sedang memasang selang infus dan oksigen kepada pasiennya.
"Baik, Tuan. Setelah ini, kami akan memindahkan pasien ke ruangan yang Anda maksud tadi. Tetapi sebelum itu, tolong urus pendaftaran dan administrasinya terlebih dahulu." jelas Suster muda itu.
Aaron pun langsung meraih ponselnya dan mencari nama seseorang yang sangat berpengaruh di Rumah Sakit itu, sehingga dengan mudah dia bisa melakukan apapun untuk keselamatan istrinya.
Suster yang mendengar perbincangan Aaron dengan seseorang itu, kini langsung merasa gugup. Karena dia tidak pernah menduga, bahwa pasiennya saat ini adalah salah satu orang terpandang yang sangat mengenal pemilik Rumah Sakit tersebut.
"Sekarang lakukan apa yang diminta oleh atasanmu, jika kamu masih ingin bekerja di sini!" tegas Aaron.
Pria itu seketika langsung berubah menjadi raja rimba jika menyangkut tentang keselamatan keluarganya. Apalagi saat ini dia melihat wajah istrinya yang semakin memucat.
"Ada apa denganmu, Sayang?"
__ADS_1