Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
8. Ayo Pulang!


__ADS_3

"Brengsek! Siapa laki-laki yang telah melakukan semua itu kepadamu, Drey?" tanya Reyhan sambil mengepalkan tangannya.


"A-aku juga tidak tau, Kak Rey. Karena sebelumnya aku sama sekali belum pernah bertemu dengan laki-laki asing itu." ujar Audrey dengan suara bergetar.


Faishal pun tidak ikut tinggal diam, bahkan dalam hatinya dia bersumpah akan memberikan pelajaran kepada laki-laki yang telah tega melecehkan adik kesayangannya.


'Aku bersumpah, akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan kepada laki-laki badjingan itu!' sumpahnya dalam hati.


Audrey melihat amarah yang terpendam, dari sorot mata kedua laki-laki yang berada di depannya.


*Flashback on*


"Sekarang ceritakan semuanya secara detail kepada kami, Drey!" titah Reyhan tanpa basa-basi.


Audrey yang baru saja meletakkan nampan yang berisi dua gelas air minum, hanya bisa pasrah dan dengan sedikit ragu-ragu lalu membuka suaranya.


"Baiklah, tetapi sebelumnya aku akan mengantarkan Cimmy terlebih dahulu ke dalam kamarnya," ujar Audrey sambil menatap lekat wajah dingin sang kakak pertamanya.


"Baiklah. Silahkan!" tegas Reyhan dengan suara datar.


Kemudian Audrey menggendong tubuh mungil putrinya, dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Dia melakukan hal itu, agar sang buah hati tercinta tidak mendengar fakta yang akan menyayat hatinya.


Karena baginya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada gadis yang masih sangat polos itu.


Setelah dia berhasil membujuk sang putri tercinta, akhirnya Audrey langsung keluar dari kamar tersebut dan menghampiri kedua kakaknya kembali.


"Cepat, ceritakan semuanya kepada kami, Drey! Dan jangan pernah sedikitpun ada yang kamu sembunyikan dari kami!" titah Reyhan dengan tegas.


Audrey pun kembali menghela napas panjang, dan menatap secara bergantian kedua kakak laki-lakinya.


"Baiklah. Sekarang aku akan menceritakan semuanya dari awal hingga akhir." ujar Audrey yang saat ini pasrah karena terus di sudutkan oleh Kakak pertamanya.

__ADS_1


"Aku terpaksa meninggalkan rumah, karena saat itu............... Dan..........."


Setelah menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya, akhirnya kedua laki-laki yang berada di depannya langsung tersulut emosi.


*Flashback off*


"Baiklah. Kami sangat mengerti dengan semua kejadian dan keputusan yang kamu ambil ini, Drey. Tetapi apakah kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan kami, saat meninggalkan rumah itu? Dan apa kamu tau, jika saat ini Ibu sedang berjuang untuk bertahan hidup dan melawan rasa sakitnya?" ujar Faishal dengan tatapan sendu.


Audrey pun terperangah dan terkejut saat mendengar jika sang Ibu tercinta sedang sakit.


"A-apa? Ibu sakit, Kak?" tanya Audrey memastikan kembali apa yang baru saja dia dengar.


"Ya. Semenjak kepergian mu dari rumah selama tujuh tahun ini, kesehatan Ibu selalu menurun. Beliau juga tidak makan secara teratur, bahkan hampir sebulan sekali Ibu selalu mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit. Dan apa kamu tau, Drey? Bukan hanya Ibu saja yang merasa sangat kehilangan dirimu, tetapi kami semua. Ayah, Fai dan aku selalu mencoba untuk mencari keberadaan mu, dengan menyewa beberapa detektif profesional yang ada di kota ini. Namun, sayangnya kami sama sekali tidak bisa melacak keberadaan mu, hingga akhirnya kami mendapatkan informasi tentang keberadaan mu saat ini." ujar Reyhan yang menjelaskan, bagaimana situasi setelah kepergian adik perempuannya.


"Maafkan Audrey, Kak!" sesalnya sambil menundukkan kepalanya dengan tubuh yang bergetar.


Kemudian dengan cepat, Reyhan dan Faishal menghampiri sang adik tercinta dan memeluknya dengan erat dari samping.


Sedangkan Reyhan, kini dengan lembut mengecup puncak kepala Audrey dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Kemudian Audrey mengangguk kecil dan kembali membalas pelukan kedua kakak laki-lakinya, yang saat ini menggamitnya dari sisi kanan dan kiri.


Perasaan yang sama sekali tidak bisa Audrey ungkapkan. Ternyata keluarganya selama ini sangat mencemaskan dan tidak tinggal diam untuk mencari keberadaannya.


Rasa bersalah pun kembali menyelimuti hati seorang Audrey Camilla, dia juga sangat menyesal karena telah membuat sang Ibu tercinta sakit-sakitan.


"Sekarang kemasi semua barang-barang mu! Kami akan menunggumu dan kita akan kembali ke rumah. Karena Ayah dan Ibu sudah sangat merindukanmu dan selalu menantikan kehadiran mu kembali ke rumah itu, Drey." ujar Reyhan dengan suara lembutnya.


Akan tetapi, bukannya langsung beranjak dan bergegas untuk mengemasi barang-barangnya. Kini Audrey kembali menatap secara bergantian kedua kakak laki-lakinya.


"Tetapi bagaimana jika Ayah dan Ibu tidak menerima Kimberly, Kak?" tanya Audrey dengan ragu-ragu.

__ADS_1


Ya, saat ini yang dia takutkan hanya satu hal itu, yaitu kehadiran putri kecilnya, yang tidak pernah lepas dari genggaman dan pandangannya.


"Kami akan membantumu untuk menjelaskan semuanya kepada Ayah dan Ibu. Dan kami juga sangat yakin, jika mereka akan menerima Kimberly dengan tangan terbuka." ujar Faishal dengan mantap.


Audrey pun akhirnya kembali pasrah dan menuruti semua kata-kata yang terucap dari mulut kedua kakaknya. Menolak dan menghindari mereka pun juga mustahil dia lakukan, karena dia tau persis bagaimana posesifnya kedua laki-laki itu.


"Baiklah. Aku akan berkemas terlebih dahulu. Tenang saja, aku tidak akan lama. Karena barang-barang ku juga tidak banyak yang aku bawa ke kota ini." ucap Audrey dengan seulas senyum tipis.


Setelah mendapatkan persetujuan dari kedua kakaknya, akhirnya Audrey beranjak dari duduknya dan bergegas untuk mengemasi barang-barangnya.


Hanya membutuhkan waktu 30 menit saja, akhirnya Audrey selesai dan keluar dengan sang putri tercinta.


"Sini, gadis manis! Om gendong yuk! Mau tidak?" ujar Faishal dengan suara lembutnya.


Kimberly pun masih bergeming, kemudian menatap sang Ibu untuk meminta persetujuan darinya.


Setelah Audrey menganggukinya, akhirnya perlahan Kimberly mengayunkan kakinya secara perlahan untuk mendekati Faishal.


Faishal yang notabennya menyukai anak-anak, langsung merentangkan kedua tangannya untuk menyambut hangat keponakan kecilnya.


Setelah melakukan beberapa drama di rumah sederhana itu, akhirnya mereka langsung memutar arah kembali dan menuju kediaman keluarga Wijaya.


Kini perasaan Audrey pun tak menentu, rasa resah, gusar, dilema, dan rindu kembali menggebu menjadi satu.


Di sepanjang perjalanan, Kimberly dan Faishal yang sudah sedikit akrab, akhirnya mereka pun mulai berinteraksi dengan baik.


Sesekali Reyhan pun ikut menimpali candaan mereka berdua, dia juga sesekali melirik sang adik tercinta dari kaca spionnya. Dia juga melihat kegelisahan yang saat ini hinggap dalam diri Audrey.


"Tenangkan dirimu, Baby. Jangan pernah memikirkan sesuatu yang belum pernah terjadi! Percayalah jika kami semua akan menerima kembali kehadiran kalian dengan senang hati." tegas Reyhan yang meyakinkan adik perempuannya.


Audrey yang sejak tadi memandang ke luar jendela, akhirnya tersadar dan gelagapan saat mendengar ucapan Reyhan.

__ADS_1


"Eh, ekhem. Baiklah, Kak Rey. Aku mempercayai kalian." ucap Audrey dengan seulas senyum.


__ADS_2