Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
14. Penyelidikan


__ADS_3

Sesuai kepergian Aaron, akhirnya Reyhan mengambil benda pipihny,  lalu menggeser layar tersebut untuk mencari nama sang adik, dan langsung memencet tombol berwarna hijau.


Faishal yang saat ini sedang mengendarai mobilnya, dan melakukan perjalanan untuk kembali ke perusahaan. Setelah melakukan meeting dengan seorang klien, yang Reyhan wakilkan kepadanya.


"Ckk!! Ada apa lagi sih orang ini? Baru juga ingin bernapas lega, pasti akan ada tugas dadakan lagi untukku." gerutu Faishal sambil berdecak dan mengetuk-ngetuk kemudinya.


Mau tidak mau, jika sang kakak sudah melakukan panggilan video seperti ini, pasti keadaan genting sedang dia hadapi.


"Halo, Kak Rey? Ada apa? Aku sedang di jal-"


Belum selesai Faishal menyelesaikan ucapannya, Reyhan dengan cepat memotongnya begitu saja.


"Tidak perlu basa-basi, Fai. Sekarang juga, kamu injak pedal gas kamu, dan lebih percepat lagi lajunya! Se-ka-rang!" tegas Reyhan tanpa basa-basi apapun.


Tut...


Tut...


Tut...


Kini panggilan video langsung terputus begitu saja secara sepihak. Sedangkan Faishal hanya mendengus kesal, dengan perintah sang kakak yang semena-mena terhadapnya.


"Huft! Benar-benar kebiasaan yang sangat menyebalkan sekali. Jika saja dia bukan kakakku, sudah ku pastikan dia..... Huh? Sial!" maki Faishal sambil memperdalam pijakan gasnya, akhirnya mobil berwarna hitam tersebut melesat dengan kecepatan tinggi, membelah keramaian jalan di kota tersebut.


Hanya membutuhkan waktu 15 menit saja, akhirnya Faishal pun telah sampai di perusahaan Wijaya Group kembali. Perlahan dia mengayunkan kakinya menuju ke ruangan yang bernuansa serba putih tulang tersebut.


Ceklek!


Reyhan pun langsung menatap tajam ke arah adiknya, yang baru saja mengayunkan kakinya untuk lebih mendekat ke arahnya.


"Kamu terlambat 5 menit, Fai. Kenapa kamu lamban sekali? Huh?" gertak Reyhan dengan tatapan mata tajam.

__ADS_1


Faishal yang baru saja datang, langsung membelalakkan matanya, dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Hah? Apa? Lamban? Bahkan aku sudah melakukannya dengan cepat, Kak. Apa Kakak tau? Jika jalanan hari ini sedikit mengalami kemacetan, dan-"


Seperti biasa, Reyhan tidak ingin membuang-buang waktu lagi, untuk mendengarkan keluhan adiknya. Karena saat ini yang dia pikirkan hanyalah satu hal, yaitu menyelidiki tentang pria yang Aaron Vincent Rich, atau lebih tepatnya dia adalah CEO di Rich's Company.


"Ssttt!! Sudah cukup aku mendengarkan keluhan konyolmu itu! Karena saat ini aku memiliki tugas yang sangat penting untukmu!" tegas Reyhan sambil menyodorkan satu map berwarna biru, yang berisi beberapa lembar kertas di dalamnya.


Faishal yang sedang mencebikkan bibirnya, kini hanya merotasi kedua bola matanya saat meraih map berwarna biru tersebut.


"Apa lagi ini, Kak? Apakah aku harus melakukan meeting lagi?" tanya Faishal sambil menatap malas sang kakak laki-lakinya.


Reyhan pun semakin merasa sangat geram kepada adiknya, yang saat ini tidak mengetahui tentang situasi genting tersebut.


"Buka dan baca, bodoh! Apa sekarang kamu tidak bisa berpikir jernih dan lebih bijak lagi, Fai? Huh?" hardik Reyhan dengan suara lantang.


Faishal pun langsung membuka lembaran-lembaran yang berada di dalam map tersebut. Kemudian dia pun langsung mengangkat sebelah alisnya, sambil menatap penuh tanda tanya kepada kakaknya.


Baru saja dia sampai di perusahaan tersebut, dengan seenaknya Reyhan memberikan tugas kembali kepadanya.


"Ya, dan aku ingin informasi tentang pria itu, SECEPATNYA! apa kamu mengerti, adikku yang sangat pintar?" tegas Reyhan lagi dengan menekankan kata "SECEPATNYA" dan "sangat pintar", agar Faishal tidak terus menggerutu dan mengeluh.


"It's okey ! Kalau begitu aku akan melakukannya sekarang, Kak Rey. Daripada disini kehadiran ku sama sekali tidak dihargai dan selalu saja disalahkan oleh kakakku sendiri." gerutu Faishal sambil mencebikkan bibirnya.


Reyhan yang mendengar ucapan sang adik, hanya bisa merotasi kedua bola matanya, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Tidak mendapatkan jawaban apapun lagi dari sang kakak laki-lakinya, akhirnya Faishal langsung melenggang pergi meninggalkan ruangan tersebut.


BLAM!


Agar sedikit meredakan kekesalannya, Faishal pun membanting pintu itu. Sedangkan Reyhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kecil, sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.

__ADS_1


Bukan hanya sekali, dua kali Faishal melakukan hal itu di saat dia sedang merasa kesal. Jika saja pintu itu tidak menggunakan kaca yang terbuat dari bahan khusus, mungkin pintu tersebut sudah hancur berkali-kali.


Semakin jauh Reyhan menatap punggung sang adik, kini dia memutuskan untuk sedikit merelaksasi pikiran dan otaknya sejenak, yang sudah mengepul dan hampir meledak.


***


Rich's Company 


Aaron yang belum lama tiba di perusahaannya, kini juga melakukan hal yang sama seperti Reyhan. Dia langsung mengutus sang asisten pribadinya untuk melakukan penyelidikan tentang keluarga Wijaya.


"Tirta, secepatnya kamu harus mendapatkan informasi tentang keluarga Wijaya! Dan saya tidak ingin terlalu lama menunggu! Kamu pasti sudah paham maksud saya 'kan?" titah Aaron dengan tegas.


Tirta pun hanya bisa pasrah sambil meneguk ludahnya dengan kasar. Melihat sikap Boss besarnya, dia meyakini jika telah terjadi sesuatu sebelum kembali ke perusahaannya.


"Baik, Pa Aaron. Saya akan bekerja secepat mungkin dan akan segera memberikan informasi tersebut kepada Anda." ucap Tirta dengan mantap.


Aaron pun langsung menyunggingkan sebelah bibirnya. Dia merasa sedikit puas dengan daya pikir dan kecekatan yang Tirta miliki.


"Bagus. Lakukanlah dengan baik dan jangan sampai ada orang yang mencurigai gerak-gerik mu! Oh, ya satu lagi, saya minta kamu harus berhati-hati dan jeli terhadap sekitarmu. Karena saya sangat yakin, jika putra pertama keluarga Wijaya akan melakukan hal yang sama denganku." cetus Aaron yang sedang memperingati Tirta.


Tirta pun langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dan setelah puas dengan jawaban asisten pribadinya, akhirnya Aaron langsung mengibaskan tangannya. Dia memberikan isyarat agar Tirta segera pergi dan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.


"Kita tunggu saja, Reyhan Ariandra Wijaya! Kamu belum tau siapa lawanmu sebenarnya. Mungkin tadi aku hanya diam saja, saat melihat perubahan raut wajah dan cara berbicaramu. Tetapi lihatlah nanti! Saat aku sudah berhasil mendapatkan wanitaku, dan mengambilnya dari tangan kalian!" gumam Aaron yang diliputi oleh amarah yang sejak tadi dia pendam.


"ARGH! AKU BENAR-BENAR SEPERTI ORANG GILAA SAAT INI! DAN SEMUA INI HANYA KARENA KAMU, AUDREY CAMILLA WIJAYA! AKAN KU PASTIKAN KAMU AKAN MENJADI MILIKKU DENGAN SUKA RELA!" geram Aaron sambil menjambak rambutnya dengan kasar.


Entah mengapa, setelah mengetahui fakta tentang gadis kecil dan wanita itu, pikiran dan hatinya selalu kacau. Bahkan saat raganya berada di perusahaan, jiwanya berkelana dan mencari sumber ketenangan untuk hatinya.


Akhirnya Aaron mengatur napasnya, dan mencoba untuk meredamkan emosi sesaatnya. Dia tau jika dia sudah tidak waras, dan rasa sabarnya pun semakin terkikis.


Sembari menunggu waktu, Aaron pun menyadarkan punggungnya di kursi kebesarannya, sambil menatap langit-langit ruangan itu.

__ADS_1


"Jangan pernah berpikir untuk lari dan menjauh dariku lagi, Audrey Camilla Wijaya!"


__ADS_2