Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
66. Hampir Khilaf


__ADS_3

"Ja-jangan, Tuan! Saya mohon, jangan lakukan hal itu kepada Saya! Saya bukan Nona Audrey, Saya Fani. Sadarlah, Tuan!" pinta Fani yang terus memohon agar Reyhan melepaskan dirinya.


Namun sepertinya saat ini Reyhan telah dibutakan oleh amarahnya. Oleh karena itu, dia sama sekali tidak mengindahkan permintaan dari gadis muda itu.


Tanpa ba-bi-bu, Reyhan langsung mencium bibir Fani dengan kasar. Seketika air mata gadis itu luruh dengan derasnya, akan tetapi Reyhan yang sudah menulikan pendengarannya. Pria itu semakin memperdalam ciuman itu, dan sesekali menggigit bibir bawah Fani hingga berdarah.


BRAK!


Namun di saat Reyhan sedang sibuk dengan aktifitasnya. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka lebar, dan langsung membentur ke dinding.


"KAK REY?!" pekik seorang pria yang masih berdiri di depan pintu.


Reyhan yang merasa terusik dengan kehadiran sosok pria itu, kini hanya bisa menatap tajam ke arahnya tanpa ingin melepaskan Fani yang masih berada di dalam kendalinya.


"KELUAR DARI SINI! JANGAN PERNAH MENGGANGGUKU SAAT SEDANG BERSAMA DENGAN WANITAKU!" usir Reyhan dengan suara lantang.

__ADS_1


Faishal yang melihat jika Kakak sulungnya sedang mabuk berat, kini dengan cepat langsung menarik tubuh kekar itu yang saat ini masih menindih tubuh mungil Fani.


BRUGH!


"Sadar, Kak! Dia adalah Fani, bukan Audrey!" pekik Faishal sambil menarik kerah kemeja sang Kakak.


"Baiklah. Aku yang akan menyadarkan Kakak sekarang!" pekik Faishal lagi.


Dengan langkah kaki panjang, Faishal langsung melenggang ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar Reyhan. Dengan cepat pria itu langsung mengambil satu gayung air.


"FAISHAL?!" pekik Reyhan dengan menatap tajam adik laki-lakinya.


Saat itu juga di menyadari jika ada seorang gadis yang masih menangis dan terduduk di sudut ranjang.


"Mengapa gadis itu berada di sini? Dan apa yang dia lakukan, Fai?" tanya Reyhan yang merasa terkejut dengan sosok yang masih menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


"Oh, jadi Kak Rey tidak ingat? Apakah karena minuman lucknut itu, Kak Rey sampai tidak bisa mengenali siapa gadis yang Kakak paksa untuk menuruti nafsu gilaa Kakak itu, huh?!" maki Faishal.


Reyhan yang mulai mengerti apa yang dikatakan oleh Faishal, kini langsung menatap ke arah Fani dengan mata yang membola sempurna.


"APA? Kenapa dia? Bukankah tadi yang bersamaku adalah....."


Reyhan pun kembali mengingat kejadian sebelum dia pergi dari hotel, tempat yang dijadikan sebagai acara Ijab Qobul dan resepsi pernikahan adik perempuannya.


"Yang Kak Rey maksud Audrey? Apa Kakak lupa, jika saat ini Audrey masih berada di hotel itu bersama dengan suami dan putri mereka?" cecar Faishal.


Reyhan yang masih bergeming di tempat, kini hanya menatap Fani dengan tatapan yang sulit diartikan. Kini masih terdengar suara tangis memilukan dari gadis muda itu.


"Dan lihatlah, Kak Rey! Jika saja tadi aku terlambat sedikit saja, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada gadis malang itu, akibat dari kecerobohan yang Kak Rey lakukan." ucap Faishal yang sudah mulai menstabilkan emosinya.


Reyhan yang merasa bersalah karena telah membuat gadis itu menangis akibat dari pengaruh minuman itu. Perlahan pria dewasa itu bangkit dari lantai, dan melangkahkan kakinya ke arah gadis itu berada.

__ADS_1


"Fan?!" panggil Reyhan lirih, sambil meraih tangan gadis itu.


__ADS_2