
Di saat Audrey dan putrinya merasakan sebuah kebahagiaan baru. Di lain pihak keluarganya sedang memberikan sanksi tegas kepada putra sulungnya.
"Ayah benar-benar kecewa kepadamu, Rey. Apakah kamu tau? Karena ulah kamu semalam, Fani meminta izin kepada kami untuk berhenti bekerja di rumah ini, dan semua ini akibat dari kebodohanmu!" gertak Riki.
Reyhan yang menyadari kesalahannya, kini hanya bisa pasrah dan menundukkan kepalanya, saat mendapatkan makian maupun gertakan dari sang Ayah.
"Kenapa kamu diam saja, Rey? Apakah kamu ingin menjadi seorang pecundang, yang akan membiarkan seorang gadis pergi begitu saja membawa rasa traumanya?" cecar Riki.
Reyhan kini langsung mendongakkan kepalanya, sehingga kini tatapannya bertabrakan dengan sosok pria paruh baya yang selalu menjadi teladan baginya.
" Aku bukan seorang pecundang, Ayah. Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya dan saat ini juga." ucap Reyhan dengan tegas.
Riki yang masih belum mempercayai tentang ucapan putranya, kini hanya berdecak sambil tersenyum meremehkan.
"Ckk! Apa kamu yakin dengan ucapanmu ini? Apakah kamu tidak akan menyesali keputusan yang telah kamu lakukan?" cecar Riki lagi.
Tanpa menjawab ucapan pria paruh baya itu, Reyhan langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar belakang.
Namun, setelah sampai di depan pintu. Sejenak Reyhan mengumpulkan semua keberanian untuk mengutarakan niatnya kepada Fani.
Tok...
__ADS_1
Tok...
Tok...
CEKLEK!
Pintu pun terbuka dan terlihat seorang gadis yang saat ini merasa sangat terkejut dengan kehadiran sosok pria, yang semalam hampir melecehkannya.
Dengan cepat gadis itu langsung menutup kembali pintu itu. Tetapi sayangnya gerakan Reyhan lebih cepat, karena satu kakinya berhasil mengganjal pintu tersebut.
"Tolong pergilah, Tuan! Saya mohon jangan membuat saya semakin takut saat melihat Anda." pinta Fani.
Kini mata sembab gadis itu kembali mengeluarkan buliran bening, dan itu semua semakin membuat hati Reyhan terasa nyeri.
"Tunggu, Fan! Saya berjanji tidak akan melakukan apapun lagi kepadamu, karena Saya ingin menyampaikan hal yang sangat penting untuk kebaikan kita." ujar Reyhan.
Fani yang sejak tadi berusaha untuk menghindari Reyhan, sesaat gadis itu mendongakkan kepalanya dan tatapan mereka pun saling bertemu.
"Sebentar saja. Aku mohon jangan pernah berpikir jika aku akan lepas dari tanggungjawab ku, Fan!" ucap Reyhan.
Fani pun tertegun saat mendengar ucapan dari Tuan Mudanya. Bahkan gadis itu pun kini juga membalas tatapan itu, dan menelisik kebenaran dari ucapan pria dewasa itu melalui sorot matanya.
__ADS_1
Namun, saat itu juga Fani tersadar. Jika Reyhan hanya ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya karena rasa belas kasih semata.
"Tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan, Tuan. Karena semalam kita juga belum melakukan apapun. Jadi silahkan Anda pergi dari kamar Saya, karena saya akan segera berkemas kembali. Dan Anda seharusnya juga merasa senang, karena sebentar lagi saya akan keluar dari rumah ini." jelas Fani sambil tersenyum getir.
Seketika ucapan Fani langsung membuat Reyhan merasa geram karena sifat keras kepala gadis itu. Bahkan dengan gerakan cepat Reyhan berhasil masuk dan langsung mengunci pintu tersebut.
"Tuan Reyhan?! Bukankah sudah Saya katakan, tinggalkan Saya sendiri! Mengapa Anda justru lancang masuk ke dalam kamar Saya?" pekik Fani dengan air mata yang telah mengalir deras.
Reyhan yang melihat tangisan pilu dari gadis di depannya, tanpa aba-aba langsung menarik lengan gadis itu ke dalam pelukannya.
"Ya. Aku memang telah lancang karena sudah masuk ke dalam kamar calon istriku." ucap Reyhan sambil memeluk erat tubuh mungil itu.
DEGH!
Ucapan Reyhan membuat Fani terpaku di tempat. Gadis yang semula terus memberontak, kini seperti sudah kehilangan semua kata-katanya setelah mendengar ucapan dari Tuan Mudanya.
Namun seketika Fani langsung tersadar, jika dia hanya akan menjadi tempat pelampiasan setalah pria dewasa itu merasakan patah hati.
"Hahaha.. Anda jangan bergurau, Tuan! Jangan pernah memberikan harapan palsu kepada Saya! Karena Saya juga sadar diri dengan posisi Saya saat ini. Jadi tolong berhentilah untuk mempermainkan Saya, dan keluar dari kamar Saya!" cecar Fani sambil tertawa di sela derai air matanya.
Reyhan yang tidak menerima penolakan sedikitpun dari gadis yang masih berada di dalam pelukannya. Kini dia langsung melepaskan pelukan itu dan langsung menyambar bibir ranum milik Fani.
__ADS_1
Fani yang kembali mendapatkan serangan dadakan dari Reyhan tidak sempat mengelak, dan saat itu juga Reyhan memberikan ciuman lembut di bibir ranum itu.
"Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun, Fani!"