Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
53. Kejutan


__ADS_3

Tiga hari kemudian, setelah kondisi Kimberly sudah mulai stabil. Akhirnya keluarga Wijaya membawanya pulang ke rumah.


Semua orang yang berada di sana, menyambut dengan hangat gadis kecil itu. Seorang gadis yang beberapa hari ini selalu menunggu kepulangan Nona kecilnya, dengan antusias memberikan sambutan sangat meriah kepadanya.


"Surprise! Selamat datang kembali ke rumah Nona muda!" seru semua pembantu keluarga Wijaya.


Keluarga Wijaya yang sama sekali tidak tau menahu tentang kejutan yang dilakukan oleh seluruh pembantunya, kini langsung menatap satu persatu semua orang.


Dan yang paling membuat wanita paruh baya itu tersenyum lebar, adalah saat melihat sosok gadis muda yang terkenal dengan sifat periangnya.


'Pasti semua ini adalah rencana Fani. Hem! Gadis itu,' batin Rosa.


"Terimakasih," ucap Kimberly dengan senyuman yang merekah di kedua sudut bibirnya.


Di saat semua orang bisa merasakan kehangatan itu, hanya satu sosok pria dingin yang menatap gadis muda itu dengan tatapan tak suka.


'Aku yakin! Jika gadis itu hanya ingin mencari muka di depan Ibu. Dan dia juga dalan dari semua rencana ini.' batin Reyhan.


Setelah melakukan penyambutan, akhirnya semua orang pun kembali pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Tetapi tidak dengan gadis yang berasal dari desa itu.


"Fan, tolong antarkan Cimmy ke kamarnya ya? Karena kami masih ada beberapa pembahasan yang sangat penting. Oh, iya. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, kamu bisa langsung mengatakannya kepada kami." pinta wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


Gadis itu pun langsung menganggukinya, dan langsung menggendong tubuh mungil Nona mudanya. Namun, saat pandangannya bertabrakan dengan sosok pria yang selalu dia kagumi, pandangannya langsung tertunduk.


Kemudian dengan cepat gadis muda itu pun membawa Kimberly ke kamarnya, dengan jantung yang berpacu dengan cepat.


'Astaghfirullah! Kenapa setiap kali pandangan kami saling bertemu, jantung ini selalu berdebar kencang dan bertalu-talu?' gumam Fani dalam hati.


.


.


"Baiklah. Setelah kami melakukan perundingan tiga hari yang lalu. Rencana pelaksanaan pernikahan antara Audrey dan Aaron, dilaksanakan 2minggu lagi. Dan Aaron juga sudah menyetujuinya, bahkan dia juga akan mempersiapkan pesta pernikahan ini dengan meriah." jelas Riki saat semua keluarga Wijaya berkumpul, kecuali Kimberly.


Audrey yang mendengar keputusan yang diambil oleh sang Ayah, tiba-tiba membulatkan matanya dengan sempurna. Wanita muda itu pun tidak pernah menyangka, jika dia akan menjadi istri secepat itu.


"Apakah ini tidak terlalu cepat, Yah? Mengapa kami sama sekali tidak diberi tahu? Bahkan rencana dan keputusan yang kalian ambil, kami juga tidak ikut andil di dalamnya." cecar Reyhan saat menentang keputusan Riki.


BRAK!


"Jika aku melibatkan kalian berdua, yang ada masalah tidak akan pernah selesai. Karena kalian berdua hanya mengandalkan kekuatan dan kekuasaan saja, tanpa bisa membedakan mana yang harus memakai otak dan akal pikiran!" tegas Riki dengan tatapan mata tajam.


Faishal pun berdecak, saat mendengar ucapan sang Ayah. Bahkan Ibunya sejak tadi juga hanya diam saja. Dan itu artinya Ibunya juga sudah mengetahui semua rencana yang dilakukan oleh Ayah mereka.

__ADS_1


"Aku yakin, jika Ibu juga sudah tau tentang rencana ini. Jadi Ibu hanya diam saja sejak tadi." cetus Faishal.


Reyhan yang mendengar ucapan adik laki-lakinya, kini mengalihkan pandangannya kepada wanita paruh baya itu.


"Benarkah itu, Bu? Dan Ibu langsung menyetujuinya?!" pekik Reyhan dengan rahang yang mengeras.


Riki yang melihat sorot mata tajam putranya, yang ditujukan kepada istri tercintanya. Tanpa berpikir panjang, pria paruh baya itu pun kembali menggebrak meja yang saat ini berada di depannya.


"BRAK! Jaga ucapan mu saat berbicara kepada Ibumu, Rey! Ingat, satu bentakan saja yang keluar dari mulutmu, akan menjadi luka di dalam hatinya." gertak Riki dengan sorotan mata tajam.


Rosa yang melihat sekaligus mendengar perdebatan kedua pria beda usia itu, hanya menghela napas panjang sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya. Awalnya Ibu juga tidak menyetujuinya, karena sejak awal Ibu tidak ingin jika putri Ibu satu-satunya jatuh ke tangan orang yang salah. Namun, setelah Ibu berpikir kembali dan Ayah kalian meyakinkan Ibu. Akhirnya mau tidak mau, Ibu juga menyetujuinya. Karena semua ini juga untuk kebaikan dan kebahagiaan Cimmy." jelas Rosa.


Audrey yang sejak tadi menjadi tokoh utama dalam perdebatan itu, hanya terdiam dengan pikirannya sendiri.


Dan tanpa berpikir panjang lagi, wanita muda itu pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka.


"Audrey, mau kemana kamu?!" pekik Riki.


Audrey seketika langsung menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya ke arah keluarga. Dengan santai dia pun langsung tersenyum getir dan menjawab pertanyaan dari sang Ayah.

__ADS_1


"Aku hanya ingin ke kamar dan beristirahat, Ayah. Tubuhku saat ini terasa sangat lelah dan mengantuk sekali. Jadi silahkan kalian lanjutkan perdebatan kalian. Karena aku juga sudah tau, kemana arah perdebatan kalian nanti. Dan mungkin lebih baik aku tidak mendengar ataupun melihatnya, agar aku tidak kembali berpikir untuk pergi lagi dari kalian semua." ucap Audrey dengan santai.


Semua orang yang berada di sana, sama sekali tidak pernah menyangka jika Audrey akan mengatakan hal itu. Dan itu membuat semua orang menjadi waspada, dan berhati-hati dengan ucapan wanita muda itu.


__ADS_2