
Cafe RAF'W
Waktu yang dinantikan oleh Reyhan dan Faishal pun tiba. Setelah berhasil meluluhkan dan meyakinkan hati adik kesayangan mereka. Akhirnya keenam orang itu pun tiba di cafetaria yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Meskipun mereka berkunjung ke Cafe keluarga, tetapi mereka juga tidak ingin berbuat semaunya sendiri. Mereka pun sama-sama saling bahu-membahu dan menjaga nama baik keluarga serta ketenangan Cafe.
"Tenang saja, Honey. Aku akan menjadi orang pertama yang akan memasang badan untuk melindungi kalian." ucap Reyhan dengan penuh keyakinan.
Audrey yang sejak tadi merasa sangat gugup dan tidak tenang. Kini hanya bisa pasrah dan memaksakan seulas senyum di wajahnya.
"Baiklah. Ku percayakan semuanya kepada Kak Rey dan Kak Fai. Tetapi jika nanti ada sesuatu yang terjadi, aku juga minta agar kalian tidak akan tinggal diam." tegas Audrey.
__ADS_1
Kimberly yang sejak tadi menikmati ice cream kesukaannya, hanya bersikap santai dan tak acuh, dengan perdebatan orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya.
"It's okey. Aku berjanji sedikitpun tidak akan lengah. Karena aku yakin, jika nanti dia hanya akan datang bersama dengan asisten pribadinya itu." ucap Faishal yang saat ini sedang meyakinkan adik perempuannya.
Tak berselang lama kemudian, pintu pun terbuka dan menampilkan sosok yang sangat dibenci oleh Audrey. Dengan penuh percaya diri, Aaron langsung masuk diremani oleh asisten pribadinya, Tirta.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya dan Nona Wijaya. Mohon maaf jika kalian sudah menunggu lama." sapa Aaron dengan basa-basinya.
Seluruh keluarga Wijaya yang hadir pun menyambut sapaan Aaron dengan ramah dan hangat. Ya, meskipun semua itu hanyalah sandiwara, tetapi mereka tidak ingin menggagalkan rencana yang sudah tersusun dengan rapi.
"Terimakasih, Pak Reyhan. Saya merasa sangat tersanjung dengan undangan ini. Saya pikir kita hanya akan bertemu dan membahas tentang rapat yang sempat tertunda. Namun, siapa sangka jika Saya juga bisa ikut berkumpul dengan keluarga kalian." ujar Aaron dengan seulas senyum.
__ADS_1
Audrey yang sejak tadi hanya diam dan lebih memilih untuk menemani putrinya, membuat Aaron sedikit merasa terabaikan dan diacuhkan.
Kimberly yang sejak tadi masih menikmati ice cream nya, sesaat fokusnya pun teralihkan dengan kedatangan tamu pamannya.
"Mengapa kedua Uncle ini bisa ikut bergabung dengan kita, Uncle Rey? Bukankah kita hanya akan makan bersama keluarga saja?" protes Kimberly dengan ketus.
Aaron yang sejak tadi mengulas senyum di wajahnya, perlahan-lahan mulai redup. Awalnya dia pikir jika gadis kecil itu akan menerima kehadirannya, tetapi ternyata dia salah.
Gadis kecil yang saat ini sedang berada dihadapannya, kini sama seperti wanita yang berada di sampingnya. Mereka sama-sama tidak menginginkan pertemuan ini, bahkan wanita yang selalu dia puja saat ini sama sekali tidak meliriknya.
"Em, I'm sorry, Baby! Maafkan Uncle, karena sebelumnya belum mengatakan hal ini kepadamu, Manis. Jadi Uncle Rey memang sengaja, mengundang Uncle Aaron dan Uncle Tirta untuk makan bersama dengan kita. Apakah kamu merasa keberatan, Baby?" ujar Reyhan sambil menatap lekat wajah polos keponakannya.
__ADS_1
Kimberly pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian dia kembali menikmati makanan kesukaannya. Namun berbeda dengan Ibunya, yang sedikit mengerucutkan bibirnya, saat mendengar penjelasan dari Reyhan.
'Aku yang merasa sangat keberatan, kak. Bukan Cimmy!' gerutu Audrey dalam hati.