Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
42. Dilema


__ADS_3

BRAK!


"Apa Uncle tau, bagaimana menderitanya Mommy saat berada di desa itu? Jauh dari keramaian kota dan keluarga, hampir setiap malam aku mendengar Mommy menangis. Terkadang aku juga mendengar ucapan Mommy yang selalu meminta maaf kepadaku, dan sejak saat itu aku merasa seperti beban untuk Mommy......." cetus Kimberly sambil menggebrak meja.


Amarah gadis kecil itu pun akhirnya meledak di saat melihat sosok pria yang mengaku sebagai Ayahnya.


"Dan sejak saat itu juga, meskipun aku sangat menginginkan kehadiran Daddy, aku selalu mencoba untuk meyakinkan diriku jika Daddy ku telah tiada." celetuk Kimberly dengan buliran bening yang perlahan menetes.


Audrey yang melihat luka dan hancurnya hati putrinya, kini masih bergeming dan menatap lekat wajah Kimberly.


"Honey?" panggil Audrey lirih.


"Ayo, Mom! Kita pulang sekarang!" pinta gadis kecil itu sambil menarik lengan Ibunya.


Aaron yang melihat kepergian kedua wanitanya, seketika terpaku dan terperangah dengan ucapan gadis kecilnya. Bahkan dia pun tidak pernah menyangka, jika putri akan mengatakan hal itu kepadanya.

__ADS_1


'Astaga! Ternyata dia adalah orang yang dicari oleh mantan Bos-ku. Pantas saja saat melihat wajah gadis itu, aku merasa tidak asing. Brengseek!' umpat seorang pria yang sejak tadi mendengar perdebatan di bangku sebelahnya.


***


"Cimmy Sayang? Are you okay?" tanya Audrey sambil memeluk tubuh mungil itu.


Sebelum melajukan mobilnya, Audrey memastikan terlebih dahulu jika putrinya sudah membaik. Dia tidak ingin melihat buliran bening itu kembali membasahi pipi chubby-nya.


Saat mendengar isakan tangis dari putri kesayangannya, dada Audrey terasa sesak dengan tangisan pilu itu.


Kimberly masih mengeratkan pelukannya, dan itu semua membuat Audrey menjadi dilema. Di lain sisi dia ingin memberikan keluarga utuh kepada putrinya, tetapi di sisi lain dia tidak ingin melihat wajah pria yang telah menghancurkannya itu.


Setelah beberapa menit berlalu, isakan tangis gadis kecil itu mulai mereda, pelukannya pun mulai merenggang dan akhirnya terlepas.


Saat Audrey ingin melihat wajah sembab putrinya, ternyata gadis kecil itu sudah terlelap karena kelelahan karena menangis.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Honey! Maafkan Mommy! Mommy berjanji akan memberikan semuanya kepadamu. Mommy akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu." gumam Audrey sambil memandangi wajah sembab putrinya.


Perlahan Audrey menidurkan putrinya dengan menggeser bangkunya ke belakang, agar putrinya bisa tidur dengan nyaman.


Meskipun saat ini pikirannya sedang kacau, Audrey sebisa mungkin memfokuskan pikirannya kepada setiap jalan yang akan dia lalui.


"Setelah sampai di rumah. Aku akan membicarakan hal ini kepada Ayah dan Ibu. Dan semoga saja mereka bisa memberikan saran, dan pendapat tentang keputusan yang akan aku ambil ini." gumam Audrey sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Di sepanjang perjalanan fokus Audrey pun terpecah, sehingga dia tidak bisa mengemudikan mobilnya dengan stabil.


"Astaga! Fokus Drey, fokuslah! Jangan sampai kamu membahayakan nyawamu dan putrimu sendiri, hanya karena memikirkan hal yang belum tentu bisa menjadi keinginanmu!" keluh Audrey saat menepikan mobilnya di tempat yang cukup sepi.


Tak berselang lama kemudian, akhirnya dia pun kembali melajukan mobilnya setelah bisa menenangkan dirinya sendiri.


"Baiklah. Sedikit lagi, dan kamu akan segera sampai di rumah dengan tenang." gumam Audrey yang mencoba untuk meyakinkan dirinya, bahwa dia bisa mendapatkan fokusnya kembali dan sampai dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2