
Keesokan harinya...
"Apakah Audrey masih marah, Yah? Mengapa dia belum juga ikut bergabung?" tanya Faishal yang baru saja tiba di meja makan.
Reyhan dan Riki hanya bisa beradu pandang. Karena mereka sebelumnya telah berusaha untuk membujuk Audrey, agar dia bersedia keluar dari kamarnya dan ikut sarapan.
"Cimmy, mana Mommy?" tanya Faishal lagi.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari ketiga orang dewasa yang duduk di sana, akhirnya Faishal pun memutuskan untuk bertanya kepada gadis kesayangannya.
"Mommy di kamar, Uncle. Katanya Mommy masih mengantuk dan ingin tidur lagi. Jadi Mommy tidak ingin diganggu." cetus Kimberly disela kunyahan nasi goreng kesukaannya.
Faishal pun hanya menganggukkan kepalanya, dan mencoba untuk memahami apa maksud dari ucapan gadis kecil itu.
'Itu artinya dia masih marah, dan meminta kami agar tidak mengganggunya. Astaga! Mengapa harus menjadi serumit ini?' batin Faishal.
***
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
CEKLEK!
Meskipun tidak ada sahutan dari pemilik kamar, seorang wanita paruh baya itu tetap memasuki kamar pribadi milik putrinya.
Perlahan kaki jenjangnya melangkah ke arah ranjang. Di saat itu juga dia melihat seseorang, sedang tidur meringkuk dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Bukankah sudah aku katakan tadi, jangan ganggu aku Kak... Rey?!" pekik Audrey saat sebuah tangan mencoba untuk membuka selimut itu.
"Sayang? Ada apa? Coba ceritakan semuanya kepada Ibu!" pinta Rosa dengan penuh kasih sayang.
Audrey pun masih bingung, bagaimana cara untuk menyampaikan perasaannya saat ini? Saat ini dia sama sekali tidak ingin membuat Ibunya kembali sakit, karena terlalu memikirkan tentang dirinya.
"Em, ti-tidak apa-apa, Bu. Aku hanya ingin melanjutkan tidur dan bersantai sejenak." bohong Audrey.
Rosa yang sangat mengetahui bagaimana sifat tertutup Audrey, kini perlahan dia mulai beraksi agar putrinya bisa mengatakan semua hal yang saat ini di pendam olehnya.
__ADS_1
"Apakah kamu ingin membohongi Ibumu lagi? Sampai kapan kamu akan melakukannya, Sayang? Atau kamu akan pergi lagi dari rumah ini, dan ingin membuat Ibu menderita kembali?" cecar Rosa dengan tatapan sendu.
Mungkin inilah saatnya wanita paruh baya itu melakukan sandiwaranya, agar putrinya tidak terus-menerus diliputi oleh rasa ketakutan dan kekhawatiran itu sendiri.
Sebelum dia mendatangi kamar putrinya, Rosa telah memikirkan rencana ini dengan matang, sehingga Audrey akan terpancing dengan sandiwara ini.
Dan..... benar saja, jika Audrey langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menggenggam erat tangan Ibunya.
"Tidak, Bu. Maafkan, Audrey! Aku sama sekali tidak ingin membuat Ibu kembali sakit hanya karena terlalu memikirkan ku. Sebenarnya aku hanya ingin meredamkan emosi ku yang masih bergejolak ini, sehingga aku meminta kalian agar tidak menemui ku terlebih dahulu." jelas Audrey.
Saat ini Rosa masih bergeming dan masih menunggu penjelasan dari Audrey selanjutnya. Meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui, apa yang telah terjadi. Tetapi dia juga ingin mendengar semua itu secara langsung dari bibir putrinya sendiri.
"Sebenarnya aku bukan marah kepada Ayah dan Ibu, tetapi aku marah kepada Kak Rey dan Kak Fai. Bisa-bisanya mereka merencanakan untuk mempertemukan ku dengan pria itu, Bu. Apakah mereka pikir setelah aku mendapatkan keadaan, maka dengan mudah aku akan memaafkan pria brengseek itu?" geram Audrey yang mencoba menekan emosinya saat berada di depan Ibunya.
Bagaimana pun caranya saat sedang marah, Audrey tidak ingin melampiaskan kemarahannya kepada seseorang yang sama sekali tidak bersalah.
"Aku benar-benar merasa sangat kesal kepada kedua pria posesif itu. Bahkan aku sangat enggan untuk bertemu dengan mereka." gerutu Audrey.
__ADS_1