
Setelah tiga hari mendapatkan perawatan dari Rumah Sakit, panas Kimberly masih naik turun. Terkadang gadis kecil itu juga masih sering mengigau, saat panasnya kembali tinggi.
Audrey yang selalu berada di samping putrinya, dan ditemani oleh Ibunya, Rosalina. Kini semakin menatap iba, bahkan hatinya pun langsung terenyuh setiap kali putrinya terus memanggil "Daddy".
Satu kata yang selalu dia hindari selama tujuh tahun ini. Namun, semuanya itu menjadi sia-sia, karena sebuah pertemuan tak terduga selama beberapa hari terakhir.
"Nak, apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Rosa saat melihat putrinya termenung sambil terus menggenggam erat tangan mungil itu.
Pikiran wanita muda itu saat ini sedang berkecamuk, setiap kali mendengar putrinya memanggil pria yang dibencinya dengan sebutan Daddy.
Ada rasa nyeri tersendiri di dalam ulu hatinya. Putrinya yang selalu merindukan sosok Ayah, kini selalu memanggilnya setelah mendapatkan fakta tentang siapa Ayah biologisnya.
"Apakah aku harus menemuinya, Bu? Dan memintanya untuk datang kemari?" tanya Audrey dengan suara parau.
Entah berapa lama dia menitikkan buliran bening itu dari kedua sudut matanya, sehingga membuat kedua matanya terlihat sembab dan merah.
Rosa yang mendapatkan pertanyaan itu, kini juga merasa bimbang. Sejujurnya dia juga tidak tega, jika harus melihat cucu kesayangan mereka tersiksa batin dan pikirannya.
Ceklek!
__ADS_1
"Bagaimana kondisinya saat ini, Sayang? Apakah dia masih terus mengigau?" tanya pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat cucunya.
Kedua wanita beda usia itu pun saling beradu pandang, sebelum mereka menjawab pertanyaan dari kepala keluarga mereka.
"Em, i-iya, Ayah. Cimmy masih terus memamggil-"
Ucapan wanita muda itu terhenti, saat dia melihat sang Ayah mengangkat sebelah tangannya, sebagai tanda jika dia harus diam.
Pria paruh baya tersebut kini merogoh ponselnya yang selalu dia bawa. Dengan cepat dia mencari nomor yang tertera di layar persegi panjang tersebut, dan menekan nomor telepon itu.
"Cari dia dan seret dia kesini sekarang!" titah Riki dengan nada dingin.
Wanita muda itu tidak pernah menyangka, jika Ayahnya akan melakukan tindakan secepat itu tanpa melakukan perundingan terlebih dahulu dengannya.
"Ayah?" panggil Audrey dengan tatapan yang sulit diartikan.
Pria paruh baya itu pun juga mengalihkan pandangannya kepada putri kesayangannya. Namun, pria itu masih menatapnya dengan tatapan datar.
"Ya. Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Riki.
__ADS_1
Sebelum mengatakan sesuatu hal, dengan susah payah wanita muda itu menelan ludahnya karena merasa sedikit ketakutan.
Entah mengapa? Saat ini yang dia lihat bukankah sosok dari sang Ayah, melainkan sosok lain dari pria paruh baya itu.
"Em, apakah Ayah yakin jika ini bukanlah suatu kesalahan?" tanya Audrey dengan ragu-ragu.
Pria paruh baya itu pun langsung menghela napas panjang, sambil berjalan ke arah putrinya.
"Tidak ada pilihan lain selain mempertemukan mereka, Nak. Sejujurnya Ayah terpaksa membuat keputusan ini, karena merasa tidak tega melihat cucuku yang terus memanggil namanya." jelas Riki.
Rosa yang sudah paham bagaimana dengan pola pikir suaminya, kini perlahan-lahan dia mendekati pria paruh baya tersebut, kemudian menggenggam tangannya.
"Terimakasih, Yah. Karena kamu selalu membuat keputusan yang bijak. Aku bangga bisa menua dengan pria yang selalu mengesampingkan egonya, demi kebahagiaan orang di sekitarmu." ucap Rosa sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Dengan penuh kasih sayang, Riki mengusap lembut puncak kepala istrinya, dan menciuminya beberapa kali.
Sedangkan Audrey yang selalu melihat keharmonisan dari pasangan suami-istri paruh baya itu, sedikit merasa iri karena mereka bisa saling mendukung satu sama lain.
Di saat Ayahnya sedang menjadi api, sang Ibu pun siap untuk menjadi airnya. Dan begitupun sebaliknya.
__ADS_1
'Semoga saja suatu saat nanti, aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan seperti kalian berdua saat ini.' harap Audrey di dalam hati.