
Di saat Keluarga Wijaya sedang mencari cara untuk membuat perhitungan kepada Aaron. Di lain sisi, Aaron pun sedang berusaha untuk mencari berbagai macam cara agar bisa mendapatkan kedua wanitanya.
"Argh! Sial! Ternyata semua ini hanyalah jebakan dari kedua Kakak beradik itu. Mengapa aku bisa terlena dan menjadi sebodooh ini, hanya karena ingin mendapatkan mereka?!" pekik Aaron.
BRAK! SRET! PRANG!
Setelah menggebrak meja, Aaron pun langsung menghempaskan semua benda-benda yang saat ini berada di depannya. Bahkan vas bunga pun tak luput dari raupan tangannya.
"Brengseek! Aku pasti akan segera mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Meskipun aku harus menghadapi mereka, aku pasti bisa!" pekik Aaron lagi.
Tirta yang saat ini sedang berada di luar ruangan pribadi milik Bos-nya, kini hanya bisa menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya di dinding.
'Mengapa Pak Aaron bisa sangat frustasi seperti ini hanya karena gagal mendapatkan wanitanya? Bukankah dia bisa membuat rencana baru yang lebih baik, agar dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan?' batin Tirta.
__ADS_1
Pria muda dan polos itu masih setia menunggu bos-nya fi luar ruangan. Meskipun dia tau, jika nanti akan menerima imbas dari kesalahan yang di lakukan oleh Bos-nya sendiri.
"TIRTA?!" panggil Aaron dengan suara lantang.
Tirta yang sudah memprediksi bahwa dia akan menjadi sasaran empuk untuk kemarahan Bos-nya. Dengan langkah gontai dia pun langsung masuk ke dalam ruangan bernuansa serba abu-abu.
"I-iya, Pak." sahut Tirta sambil terbata.
Aaron yang sudah tidak mempedulikan bagaimana keadaan sekelilingnya, kini hanya bisa fokus kepada obsesinya agar bisa mendapatkan kedua wanitanya.
"Mengapa rencana yang telah aku rancang serapi mungkin, bisa menjadi sangat berantakan seperti ini, huh?! Apakah sebelumnya mereka juga telah membuat rencana yang matang, agar bisa membodohi ku dengan mudah? Huh, dasar Bodooh?!" gertak Aaron dengan rahang yang sudah mengeras.
Tirta yang sama sekali tidak bisa untuk berpikir dengan jernih karena rasa takutnya, dia pun hanya bisa pasrah dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Jawab aku, Tir?! Apakah sekarang kamu menjadi bisuu dan tulii setelah kejadian tadi, huh?!" gertak Aaron lagi.
Karena tidak ada orang lagi selain Tirta di sana, maka Aaron hanya melampiaskan semua amarah dan kekesalannya kepada asisten pribadinya.
Bahkan dia sendiri tidak mempedulikan bagaimana takutnya Tirta, saat melihat sosok pemimpin yang sangat dia segani, kini telah berubah menjadi raja rimba yang sedang siap untuk berperang.
"Ma-maafkan Sa-saya, Pak! Sa-saya juga tidak tau." jawab Tirta sambil terbata.
Aaron yang mendengar jawaban dari asisten pribadinya, saat itu juga dia langsung menatap tajam ke arahnya. Dan benar saja, saat tatapannya sedang menelisik Tirta. Tubuh Tirta pun gemetar dan disertai dengan keringat dingin yang membasahi seluruh wajahnya.
"Argh! Sial! Mengapa saat ini aku tidak memiliki lawan yang sepadan, untuk melampiaskan semua amarahku? Mengapa aku harus mempunyai asisten yang sangat lemah, seperti dia?!" gerutu Aaron.
Meskipun Aaron selalu bersikap seperti itu di saat sedang marah. Tetapi hanya Tirta yang bisa bertahan hingga sejauh ini, karena Tirta tau jika emosional Bos-nya memang bisa lepas kontrol di saat sedang kecewa.
__ADS_1
"Sudahlah! Lebih baik kamu ikut aku sekarang ke......."