Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
75. Mengembalikan Mood


__ADS_3

"Bisakah kita jalan terlebih dahulu? Agar aku bisa sedikit untuk menenangkan diri." pinta Audrey sambil menatap sendu ke arah Aaron.


Aaron yang tidak bisa melihat kesedihan di balik tatapan istrinya, kini akhirnya memilih untuk mengalah dan mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Entah mengapa, pria itu merasa jika istrinya saat ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Bahkan melalui sorot matanya saja dia sudah bisa menebak, jika pertemuan ketiga saudara itu menimbulkan konflik.


'Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu, Sayang? Mengapa kamu tidak ingin membaginya kepadaku?' batin Aaron.


Di sepanjang perjalanan, suasana pun terasa sangat hening. Sedangkan gadis kecil yang saat ini duduk di bangku belakang, hanya menatap ke arah jendela.


"Honey, apakah kamu lapar?" tanya Aaron kepada Kimberly.


Aaron sengaja menanyai putrinya, guna memecah keheningan. Dan dia tidak ingin membuat putrinya seperti diasingkan karena masalah yang sedang dihadapi oleh istrinya.


"Yes, Dad. Tapi sepertinya kita akan makan malam di rumah saja." ucap Kimberly sambil melirik ke arah Ibunya.


Audrey yang hanya diam dengan mata terpejam sambil menyandarkan kepalanya, dia sengaja hanya diam dan membiarkan Ayah dan anak itu saling berinteraksi.

__ADS_1


"Baiklah. Nanti Daddy yang akan memasak untuk kita. Apakah kamu mau membantu Daddy memasak?" tawar Aaron.


Kimberly pun langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Dan semua itu membuat mood gadis kecil itu kembali membaik.


Hanya saja saat ini mood Audrey yang belum stabil, dan wanita muda itu masih memilih bungkam dengan pikirannya sendiri.


"Em, apakah Mommy juga ikut memasak nanti, Dad?" tanya Kimberly dengan penuh harap.


Aaron yang masih melirik ke arah istrinya, kini hanya bisa pasrah dan menghela napas berat.


"Ya. Mommy ikut." potong Audrey dengan mata terpejam.


"Yeay! Berarti malam ini kita makan malam dengan hasil masakan bersama. Em, aku jadi tidak sabar untuk melakukannya." ucap Kimberly dengan antusias.


Audrey yang mendengar suara Kimberly yang sedang merasa sangat bahagia, kini membuat wanita itu langsung membuka matanya.


"Apakah kamu bahagia, Sayang?" tanya Audrey.

__ADS_1


"Yes, Mom. Jadi Mommy juga harus bahagia, dan tidak boleh menangis lagi. Okey?" pinta Kimberly dengan tatapan penuh harap.


Wanita muda itu pun langsung membalas pertanyaan putrinya dengan anggukan. Dan semua itu sedikit membuat Aaron merasa lega, karena dia berhasil untuk mengalihkan perhatian istrinya sejenak.


Ya, meskipun dia tau, jika nanti istrinya pasti akan kembali terpikirkan oleh masalahnya. Tetapi setidaknya dia bisa membuat tangisan itu menjadi senyuman.


'Aku berharap, senyuman manis itu tidak akan pernah pudar dari bibirmu, Sayang. Dan aku berjanji akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu dan putri kita.' batin Aaron.


Setelah sampai di rumah yang memiliki halaman yang sangat luas. Kini keluarga kecil itu langsung keluar dari mobil dan bergegas untuk ganti baju terlebih dahulu.


"Sebaiknya kita bergerak cepat, Sayang. Kasian putri kita sudah menahan lapar sejak tadi. Tetapi sebelum itu, bolehkah jika aku menanyakan sesuatu kepadamu?" ujar Aaron sambil menangkup kedua sisi wajah Audrey.


Audrey yang melihat tatapan mata elang itu, seketika terpaku dan langsung menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Berjanjilah kepadaku, jika kamu tidak akan pernah menyembunyikan sesuatu dariku! Sekecil apapun masalah yang sedang kamu hadapi, tolong beritahu aku. Agar aku bisa merasakan juga apa yang sedang kamu rasakan." pinta Aaron.


DEGH!

__ADS_1


__ADS_2