
Hari yang dinantikan oleh Aaron pun akhirnya tiba. Setelah mendapatkan beberapa kali penolakan dari wanitanya, akhirnya wanita muda itu menyerah dengan sendiri, dan bersedia untuk menikah dengannya meskipun dengan rasa terpaksa.
"Akhirnya aku akan segera memiliki kalian berdua, dan setelah ini aku berjanji tidak akan pernah melepaskan ataupun menyia-nyiakan kalian." gumam Aaron sambil menatap dirinya melalui pantulan cermin.
Dengan menggunakan kemeja berwarna putih dan setelan jas berwarna hitam sebagai pelengkapnya. Dengan penuh percaya diri, dia pun merapikan rambutnya agar penampilannya terlihat sempurna.
Tidak lupa pria dewasa itu memakai peci hitam sebagai penyempurna penampilannya. Meskipun dia terlahir dari dua orangtua berbeda negara, tetapi Ibu Aaron (Lena Wioleta) yang berasal dari negara Eropa justru mengikuti Ayah Aaron (Reza Arifin Rich) yang berkeyakinan Muslim.
Karena saat ini orangtua Aaron masih dalam perjalanan dari negara Eropa, dengan terpaksa dia harus harus hadir dengan beberapa anggota keluarga lainnya.
"Tunggu aku, Sayang! Aku akan segera datang untuk menghalalkan hubungan kita." gumam Aaron sambil tersenyum lebar.
Tok...
Tok...
Tok...
"Ya, silahkan masuk!" pinta Aaron kepada seseorang yang masih berada di balik pintu.
CEKLEK!
__ADS_1
Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita yang menundukkan kepalanya. Namun, saat Aaron menyadari kejanggalan di sana, pria dewasa itu langsung menghampiri sosok yang sangat dia curigai.
"Siapa kamu?" tanya Aaron dengan nada dingin.
Merasa pertanyaan diabaikan oleh wanita itu, Aaron langsung membuka penutup wajah yang menutupi seluruh wajahnya.
Seketika mata Aaron membulat sempurna saat mengetahui siapa sosok wanita itu. Rasa bahagia yang baru saja dia rasakan, dalam sekejap sifat arogannya kembali muncul saat mengetahui siapa sosok dibalik cadar itu.
"Kamu!" pekik Aaron.
"Untuk apa kamu datang kemari, setelah tujuh tahun kamu pergi bersama dengan badjingan itu?!" hardik Aaron sambil menatap wanita itu dengan tajam.
Wanita itu masih bergeming sambil menundukkan kepalanya, sepertinya dia memang sengaja datang di saat hari pernikahan dan resepsi Aaron.
"Tirta?! Dimana kamu?" pekik Aaron saat memanggil asisten pribadinya.
Tirta yang baru saja datang dengan napas yang tersengal-sengal, kini langsung merasa terkejut dengan sosok wanita yang sedang bersama dengan Bos-nya.
"Maaf, Tuan! Tadi tiba-tiba perut Saya sakit, dan Saya baru saja keluar dari toilet." jujur Tirta.
Aaron yang sama sekali tidak peduli dengan alasan yang diberikan oleh Tirta. Kini dengan lantang memberikan perintah kepada pria muda itu.
__ADS_1
"Usir wanita ini dari sini! Dan jangan biarkan dia masuk kembali untuk mengacaukan acaraku!" titah Aaron.
Namun, belum sempat Tirta meraih tangan wanita itu. Tiba-tiba wanita itu langsung bersimpuh sambil memeluk kaki Aaron dengan sangat erat.
"Jangan usir aku, Aar! Aku mohon, tolong dengarkan dulu semua penjelasan ku! Setelah selesai maka aku akan pergi sendiri, tanpa kamu mengusirku." pinta wanita itu.
"CIH! Jangan pernah menyentuh ku lagi, wanita jalaang! Apa kamu lupa, bagaimana dengan pengkhianatan yang telah kamu lakukan dengan badjingan tengik itu, huh?!" hardik Aaron.
Ya, wanita itu adalah Nathalie atau lebih tepatnya mantan kekasih Aaron, yang beberapa tahun yang lalu ketahuan telah bermain belakang dengan salah satu rivalnya.
Aaron yang mencoba untuk melepaskan tubuh Nathalie dari kakinya, kini merasa kesusahan karena wanita itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan aku, wanita jalaang! Atau kamu akan menyesal, karena tidak mendengarkan peringatan dariku!" kecam Aaron.
Tirta yang merasa bingung dengan situasi itu, kini hanya bisa menatap sambil mencari cara untuk membantu Bos-nya.
"Bantu aku untuk melepaskan wanita ini, Bodooh! Kenapa kamu diam saja seperti patung!" geram Aaron sambil menatap tajam ke arah Tirta.
Tirta pun langsung gelagapan saat mendengar perintah dari Bos-nya. Pria muda itu juga merasa kebingungan, saat akan membantu Bos-nya.
"Bagaimana caranya, Tuan? Saya bingung harus menarik lengannya atau tubuhnya?" ucap Tirta.
__ADS_1
Aaron yang sudah hampir naik pitam dengan cepat memberikan tatapan tajam, layaknya pisau belati yang hendak mengoyak lawannya kepada wanita itu.